PERSOALAN sampah di Bumi Paguntaka-julukan Tarakan bukan cerita baru lagi. Dari hari ke hari, sampah menjadi trending topik di masyarakat karena keadaannya kian memprihatikan.
Sampah dari aktifitas rumah tangga maupun industri terus meningkat, terbukti dalam sehari di Tarakan, sedikitnya 140 ton sampah masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Hake Babu yang kini kondisinya kian memprihatikan karena over kapasitas sampah.
Dibutuhkan langkah nyata dalam mengurai persoalan ini agar tidak menimbulkan dampak yang dapat merugikan masyarakat. PT Medco E&P Tarakan mendukung program pemerintah dalam penanganan masalah sampah di Tarakan melalui program Bank Sampah. Hal itu sejalan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2012 tentang pedoman pelaksanaan 3R (Reduce, Reuse & Recycle) melalui bank sampah.
Sejak 2019 hingga saat ini, 2 bank sampah yang dibina dan didampingi oleh PT Medco E&P Tarakan bersama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tarakan dan kelurahan setempat di mana Bank Sampah tersebut berada.
Kedua Bank Sampah tersebut yakni Bank Sampah KSM BAIS yang berlokasi di kelurahan Karang Balik dan Bank Sampah TIS-KEBAL yang berlokasi di kelurahan Pamusian. Adapun tujuan program bank sampah di antaranya mengajak masyarakat untuk memilah sampah rumah tangga secara mandiri dengan 3R (Reduce, Reuse & Recycle), mengajak masyarakat mengubah sampah menjadi berkah (bernilai ekonomi) dan mengurangi beban TPA Hake Babu yang sudah over kapasitas.
“Medco bersama dengan dinas lingkungan hidup Kota Tarakan sudah melakukan edukasi pemilahan sampah 3R melalui media, kemudian sosialisasi bank sampah dan lomba melukis tong sampah di Kelurahan Mamburungan dan Mamburungan Timur Kota Tarakan,” ungkap Lead of PASEC & GS PT Medco E&P Tarakan Zaid Thalib Alhadadi di Tarakan kepada benuanta.co.id belum lama ini.
Perkembangan program sampah ini, sejumlah RT mulai memilah sampah rumah tangga dengan 3R dan mendaftar menjadi nasabah bank sampah. Kini nasabah meningkat menjadi 150 orang dari sebelumnya 97 orang.
Di Kota Tarakan, program bank sampah oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Bais di Karang Balik lebih dulu menjalankan program bank sampah sebagai binaan PT Medco pada 2019 lalu. Setelah sukses di Karang Balik, dilanjutkan dengan TIS-Tebal di Mamburungan Timur pada 2020 hingga sekarang program ini terus berjalan.
Bank sampah binaan PT Medco E&P Tarakan ini sudah menorehkan prestasi juara 1 bagi Bank Sampah “KSM BAIS dan juara 2 untuk Bank Sampah TIS-KEBAL di tingkat provinsi Kalimantan Utara pada 11 Juli 2021 yang diselenggarakan DLH Provinsi Kaltara.
Wakil Wali Kota Tarakan, Effendy Djuprianto mengapresiasi aksi lingkungan tersebut. Menilik kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Hake Babu sudah over kapasitas, sedangkan TPA yang baru di Juata Kerikil masih belum ada kejelasan pengoperasiannya.
“Dengan adanya program ini, maka diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang ada di TPA. Di tahun 2019 lalu setiap harinya ada 130 ton sampah yang dikirim ke Hake Babu, update tahun 2020 sudah meningkat mencapai 146 ton. Jadi kita harap bukan hanya dua kelurahan, tetapi 20 kelurahan yang ada di Tarakan ini memiliki bank sampah masing-masing,” tandasnya.
Pengamat Ekonomi di Kaltara, Dr. Ana Sriekaningsih, SE. MM menuturkan, program Bank Sampah sangat baik dampaknya asalkan dijalankan dengan konsisten secara terus menerus (kontinyu), karena ini melibatkan warga atau masyarakat sehingga perlu juga penanganan yang termanajemen agar memiliki nilai ekonomi.
“Dengan adanya pola pilah sampah maka sampah akan bisa menjadi nilai ekonomi, tidak terlalu besar nilai rupiahnya namun berdampak besar terhadap pengurangan volume sampah ke TPA,” jelasnya.
Ketua Bank Sampah TIS-KEBAL, Siti Aminah mengatakan program ini sangat berdampak positif bagi warga Tarakan yang telah menjadi nasabah Bank Sampah. Dari sisi lingkungan program ini mampu menekan volume sampah yang diangkut ke TPA. Sedangkan dari sisi ekonomi, sampah ini menjadi berkah karena bisa menjadi uang.
“Jadi, nasabah bisa menabung nantinya dijadikan uang. Lumayan lah bisa beli untuk kebutuhan rumah tangga, apalagi sekarang masa pandemi,” ujar Siti Aminah.
Menurut Siti Aminah, dalam satu bulan setiap nasabah bisa memperoleh hasil dari menabung di bank sampah mulai dari Rp 50-500 ribu, karena tergantung dari volume sampah yang mampu dihasilkan setiap nasabah.
Diketahui, mekanisme bank sampah ini diawali pemilahan sampah dari rumah tangga, selanjutnya disetor sampahnya ke bank sampah, ditimbang volume sampahnya, kemudian hasil penimbangan sampah masuk proses pencatatan ke dalam buku tabungan. (*)
Penulis: Ramli
Editor: Nicky Saputra







