benuanta.co.id, TARAKAN – Pada Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Tarakan ke 24 Komunitas Tarakan Tempo Doloe (TTD) menyerahkan satu buah topi bekas tentara Jepang ke Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan yang konon digunakan pada saat perang dunia kedua di Kota Tarakan.
Koordinator Aset Tarakan Tempo Doloe, Jumhari Bahnan mengatakan topi tentara ini ditemukan pada 12 November 2021 lalu di area Hutan Kampung Satu.
“Lokasinya itu di hutan Kampung Satu, untuk perjalanan explore tembus empat jam masuk dari belakang Embung Binalatung,” ucapnya.
Lokasi spesifik penemuan topi ini dikatakan Jumhari berada di lereng Bukit Fuku Kaku.
“Jadi helm itu ditemukan di lereng bukit Fuku Kaku. Pada waktu itu dinamakan tentara sekutu adalah suatu area lokasi pertahanan terakhir tentara Jepang yang ada di Tarakan, sebelum Jepang menyerah itu lokasi bertahan terakhir,” paparnya.
Sebelum menyatakan bahwa topi itu adalah bekas tentara Jepang, pihaknya melakukan literasi dengan membaca buku sejarah yang kemudian disesuaikan dengan helm yang didapat.
“Setelah kita literasi, ternyata serupa itu soal helm tentara Jepang yang digunakan saat perang di Kota Tarakan,” kata dia.
Sementara itu, Koordinator Edukasi Tarakan Tempo Doeloe, Ronaisyah menjelaskan bahwa selain helm, di waktu yang berbeda komunitas ini juga sempat menemukan mortir dan meriam, proyektor peluru dan beberapa drum minyak.
“Disekitarnya (Gunung Fuku Kaku) ada proyektor peluru dan beberapa drum minyak, jadi sementara Disporapar melakukan pelestarian dan didata sebagai situs budaya perang dunia kedua,” tuturnya.
Menurut pengakuannya, ini bukan kali pertama pihaknya menyerahkan peninggalan Perang Dunia Kedua yang ditemukan. Pada HUT Tarakan tahun lalu, Komunitas Tarakan Tempo Doloe menyerahkan satu set seragam tentara bersama botol minum dan mangkuk makan.
“Juga ada barang tentara Australia, berupa sarung pistol dan botol minum dan tempat makan. Kami berharap lebih pengenalan dan edukasi ke masyarakat dan pelajar bahwa sejarah Tarakan perlu dilestarikan kembali,” tutupnya. (*)
Reporter: Endah Agustina
Editor: Matthew Gregori Nusa







