oleh

Harga Cabai Meroket, Pedagang Takut Ambil Stok Banyak

benuanta.co.id, TARAKAN – Musim penghujan berimbas terhadap hasil panen dari petani cabai. Akibatnya, harga cabai di pasaran juga ikut meroket tinggi.

Sejumlah pedagang pun mengeluhkan kenaikan harga cabai ini sehingga tak berani memasok stok yang banyak.

“Perkilo biasanya Rp 70 ribu, sekarang sudah Rp 100 ribu,” ujar Mariati salah satu pedagang cabai di Pasar Gusher Tarakan, Kamis (9/12/2021).

Kenaikan harga ini dinilai cukup signifikan yang dipengaruhi cuaca, terlebih menjelang Natal dan Tahun Baru.

Mariati sendiri selalu memasok dagangannya dari petani cabai yang ada di Juata, Kecamatan Tarakan Utara.

Baca Juga :

Baca Juga :  Ikuti HET Minyak Goreng Rp 14 Ribu, Alfamidi Tanjung Selor Diserbu Warga

“Kalau saya ngambilnya di Juata, sama petaninya langsung. Ngambilnya sekarang empat hari sekali,” katanya.

Meroketnya harga cabai ini membuat pedagang turut dilema dan tak berani memasok dengan jumlah banyak. Sebab, para pedagang mengaku harus memperhitungkan untung rugi, mengingat cabai salah satu komditas yang cepat busuk.

“Stoknya tidak banyak, tapi adalah sedikit-sedikit. Kalau pasarannya lancar ambil banyak, kalau begini ya ambil sedikit,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan dan Koperasi (Disdagkop) dan UMKM Kota Tarakan, Untung Prayitno menjelaskan saat ini memang terjadi kenaikan harga bahan pokok terutama pada cabai.

Baca Juga :  DKUMP Pastikan Harga Minyak Goreng di Pasaran Selaras Satu Harga

“Kalau mendekati hari besar keagamaan dan tahun baru juga naik, sudah biasa naik seperti ini. Kalau hari besar terlewati akan kembali lagi harganya,” jelasnya.

Kenaikan harga ini menurutnya akibat cuaca yang menyebabkan petani tak maksimal dalam memproduksi cabai. Terlebih, kota Tarakan tak hanya memasok cabai dari petani lokal namun juga mengambil dari petani di luar provinsi.

“Cabai ada yang dari Tarakan, cuma tidak cukup kalau untuk kebutuhan kota. Jadi kita ngambil dari Surabaya dan Sulawesi sih karena dekat dengan Kalimantan. Apalagi cabai mudah busuk dan rusak, kalau Sulawesi kan dekat aja paling dua malam sudah sampai,” terang Untung.

Selain cuaca jelang Natal dan Tahun Baru juga menyebabkan permintaan terus meningkat. Ditambah Pemerintah kota Tarakan telah berada di PPKM level 2, membuat aktifitas jual beli masyarakat mulai normal kembali.

Baca Juga :  Warga Ramai Beli Minyak Goreng, Alfamidi Minta Jangan Panik Buying

“Kemarin pas Covid sedang meningkat (kasusnya) cabai turun sampai 60 ribu perkilonya. Sekarang sudah longgar jadinya permintaan meningkat, kemudian ditambah cuaca yang cenderung hujan jadi ya harganya naik tidak sesuai dengan persediaan” imbuhnya.

Menghindari kelangkaan stok, pihaknya terus melakukan pemantauan ke distributor.

“Yang pnting bagi saya memantau stok, jangan sampai stok tidak ada harga naik pasti masyarakat kasian. Kenaikan ini sifatnya juga sementara,” tutupnya. (*)

Reporter : Endah Agustina

Editor : Yogi Wibawa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *