oleh

Produk Malaysia Tak Punya Nomor Registrasi Bakal Ditindak BPOM

benuanta.co.id, TARAKAN – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kota Tarakan terus melakukan himbauan terhadap pelaku UMKM yang menjual olahan pangan dan obat asal Malaysia.

Kepala BPOM Tarakan, Mustofa Anwari mengatakan, walau produk asal Malaysia yang beredar di pasaran tak memiliki logo BPOM, namun mayoritas telah mengantongi nomor registrasi.

“Pangan Malaysia yang penting ada nomor registrasinya. Kalau tidak ada, ya kami sampaikan tidak dijual,” kata Mustofa Anwari, Selasa (7/12/2021).

Berdasarnya intesifikasi yang telah timnya lakukan, saat ini toko maupun supermarket mayoritas telah mengantongi nomor registrasi tersebut.

Baca Juga :  Tekan Angka Kemiskinan, Ekonom Sebut UMKM dan Investasi Kaltara Mempengaruhi 

“Sekarang lagi berporses kita tetap kejar-kejaran juga terhadap pangan itu, di toko-toko besar semua udah patuhi, yang kecil-kecil ini aja,” ujarnya.

Ia menerangkan akan melakukan pembinaan terhadap pedagang yang masih nekat menjual produk pangan Malaysia yang tak memiliki nomor registrasi.

“Karena kan kita di sini kita perbatasan, perdagangannya juga di wilayah perbatasan, ada kearifan di situlah ya. Kita tetap tindak dan lakukan pembinaan jika tak ada nomor registrasinya,” terangnya.

Baca Juga :  Satpol PP Soroti Pedagang Jualan di Trotoar

Mustofa, mengakui sebenarnya produk olahan pangan Malaysia ini tak melalui Bea Cukai.

“Sebenarnya dari sisi pendapatan daerah tidak ada, karena kan tidak lewat Bea Cukai, kalau ada nomor registrasi ada biaya masuknya itu menyumbang ke pemerintah,” tandasnya.

Terpisah, salah satu pedagang pangan Malaysia, Juse (23) menjelaskan produk yang dijualnya merupakan kebutuhan masyarakat kota Tarakan.

“Ya kalau nomor registrasi ada yang sebagian sudah mungkin ada juga yang belum. Karena ini kebutuhan masyarakat juga kami juga, kalau bukan kebutuhan ngapain juga kami jual,” ketusnya.

Baca Juga :  Pusaka Tarakan Desak Mabes Polri Tangkap Edy Mulyadi

Selama ini penjual barang Malaysia di Tarakan ini merupakan tangan kedua. Terdapat tangan pertama yang mengelola kedatangan pangan Malaysia itu.

“Kalau kami hanya tangan kedua saja sih, jadi ya gimana ya kami kurang tau juga itu lewat Bea Cukai atau tidak,” tandasnya. (*)

Reporter : Endah Agustina

Editor : Yogi Wibawa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *