oleh

UMK Tarakan Naik 12 Ribu, Begini Kata Pakar Ekonomi

benuanta.co.id, TARAKAN – Pemerintah Kota Tarakan pada Selasa, 23 November 2021 telah menentukan Upah Minimum Kota (UMK) sebesar Rp 12.482,35. Besaran ini mengalami kenaikan kisaran 0,33% dari nilai UMK sebelumnya.

Pakar Ekonomi Kalimantan Utara, Margiyono menuturkan kenaikan upah ini sangat berkaitan dengan lapangan pekerjaan yang ada. Menurutnya upah adalah harga tenaga kerja, artinya jika terjadi fenomena tenaga kerja melimpah harga tenaga kerja cenderung turun.

“Bisa kita kaitkan dengan upah, sekarang ini kan banyak orang cari kerja sedangkan lapangan pekerjaan tidak bertambah,” terangnya kepada benuanta.co.id, Rabu (24/11/2021).

Baca Juga :  Flash News! Kapal Muat Bahan Bangunan ke Sebatik Hilang Kontak

Kenaikan sebesar 0,33% ini, menurut kacamata ekonomi Margiyono juga berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak terlalu tinggi.

“Pertumbuhan ekonomi kita dekade terakhir tidak terlalu tinggi, dengan begitu penghasilan pendapatan kebutuhan juga tidak terlalu tinggi dan kalau menaikkan gaji pekerja mungkin tidak bisa,” jelasnya.

Pada 13 bulan terakhir Kota Tarakan cenderung mengalami deflasi atau penurunan harga, hal tersebut menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi UMK.

Baca Juga :  Gubernur Kaltara Resmikan Nama RSUD dr. H. Jusuf SK

Dalam jejak karirnya, Margiyono sempat menjadi Wakil Dewan Pengupahan pada 2009 hingga 2013 silam. Menurutnya, Kota Tarakan sendiri hanya beberapa perusahaan formal yang mampu mengikuti UMK yang ditetapkan pemerintah.

“Memang industri yang formal lebih tunduk ke UMK, sementara banyak aktifitas lain yang menyerap tenaga kerja seperti toko dan hotel karena kemampuan tidak ada. Kalau dipaksa naik malah mengurangi pekerja,” bebernya.

Baca Juga :  Pemkot Tambah Layanan Perawatan Bagi ODHA di RSUKT

Kabar kenaikan sebesar Rp 12 ribu memang tidak menggembirakan, namun nilai itulah yang harus diterima oleh para pekerja. Margiyono menyebutkan, Kaltara justru bisa menyelamatkan inflasi yang hampir menjadi deflasi ini karena memiliki beberapa sektor penunjang seperti perikanan, perkayuan dan tambang.

“Kecil sekali kenaikannya malah justru tidak ada kenaikan. Tapi kalau dikonfrontir dengan fakta di lapangan itu sesuai saja,” tutup Dosen Ekonomi UBT ini. (*)

 

Reporter: Endah Agustina

Editor: Matthew Gregori Nusa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *