oleh

Mantan Kepala Sekolah SDN 051 Akui 3 Orang Siswa Tak Naik Kelas Berubah Perilakunya Sejak 2017

benuanta.co.id, TARAKAN – Tiga orang siswa penganut aliran Saksi Yehuwa tidak naik kelas selama tiga tahun berturut-turut. Mantan Kepala Sekolah SDN 051, Kamal menjelaskan kronologis kejadian dari sebelum anak yang berinisial M, Y dan Y tersebut.

Awalnya ketiga siswa ini mampu mengikuti pelajaran dan dapat naik kelas karena masih berada dalam agama Kristen. Namun semenjak tahun 2017 di mana ketiga anak harus pindah agama disitulah keanehan sifat ketiganya terjadi.

“Awalnya ada kegiatan KKR dari mahasiswa Kristen jadi pihak sekolah memperbolehkan karena ada surat rekomendasi dari dinas kan dan pada saat itu mereka tidak mau ikut dan datanglah orang tua nya ke kami,” beber Kamal.

Baca Juga :  Pramusaji THM Sempat Dikejar-kejar Pelaku hingga Tewas Ditikam

Menurut penjelasannya, orang tua siswa yakni Ayub Tumbonat ini berkata bahwa sudah tak lagi di dalam agama yang dianut orang tua ketiga anak ini (Saksi Yehuwa) dan meminta agar tak memaksa anaknya untuk ikut kegiatan tersebut. Keanehan kembali terjadi ketika ketiga anak tersebut mulai tak mau hormat bendera merah putih dan tak mau menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

“Dari situ berpengaruhlah ke nilai Kewarganegaraannya PPKN dan kami langsung lakukan pembinaan juga memberikan pemahaman terhadap orang tuanya,” sambung dia.

Baca Juga :  Nama Akbar Syarif Mencuat Sebagai Calon Ketua KNPI Kaltara, GP Ansor Kaltara: KNPI Kaltara yang Sekarang Jalan di Tempat

Kamal bersama pihak sekolah pada waktu itu tetap berpedoman pada PP Nomor 17 tahun 2010. Namun, tak diindahkan oleh orang tua dan akhirnya menggugat pihak sekolah ke PTUN.

“PTUN bukan hanya sekali namun sudah kedua kalinya dan kami sudah menawarkan mediasi untuk mengikuti aja pelajaran agamanya dulu, namun orang tua selalu bilang pikir-pikir dulu sampailah si anak tidak naik kelas,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa pihaknya selalu berusaha agar ujung dari permasalahan ini dapat menyelamatkan si anak.

“Malah di sini orang tuanya yang tidak mau ikuti tata tertib, salah satunya berdoa dan nyanyi kebangsaan malah tidak mau, kata si anak akan mengganggu jiwanya jika menyanyikan lagu tersebut,” beber Kamal.

Baca Juga :  Curi Motor di Depan Rumah, JN Terancam 4 Tahun Penjara

Pada PTUN kedua, Kamal menyayangkan keputusan yang telah ditetapkan. Menurut kacamata hukumnya, ada kejanggalan terhadap hasil PTUN kali ini. Kendati begitu, ia akan terus berupaya berkoordinasi mencari jalan tengah untuk persoalan ini.

“Memerintahkan kepala sekolah memberikan raport yang tidak naik kelas, terus diganti dengan diberi nilai agama terus naik kelas, kalau ini terjadi kami bisa dipidana karena memberi nilai tanpa proses itu bohong,” tuntasnya. (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Ramli

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *