oleh

Tidak Selalu Berhasil, Bisnis Sarang Walet Tetap Digemari Warga KTT

benuanta.co.id, TANA TIDUNG – Peternakan sarang burung walet merupakan salah satu usaha yang berpotensi besar meningkatkan ekonomi warga Kabupaten Tana Tidung (KTT). Meskipun peternak tidak selalu mengalami keuntungan, bisnis sarang walet tetap digemari masyarakat, Kamis (18/11/2021).

Dikelilingi sungai serta hutan lebat yang membentang di sebagian besar wilayahnya, KTT menjadi wilayah yang sangat strategis untuk habitat burung walet. Warga KTT memanfaatkan keuntungan geografis tersebut untuk membangun bisnis sarang burung walet.

Pantauan benuanta.co.id, meskipun tidak semua rumah walet bisa berhasil, namun besarnya keuntungan yang didapatkan membuat bisnis rumah walet begitu sangat diminati oleh sebagian warga KTT.

Baca Juga :  Cegah Penimbunan BBM, Kapolsek Sesayap Awasi Peredaran Bensin di Tana Tidung

Agus, salah satu pemilik peternakan sarang walet mengatakan bisnis waletnya tidak selamanya menguntungkan, tergantung dari harga pasar dari sarang walet itu sendiri.

“Cenderungnya memang selalu tinggi harga sarang waletnya. Makanya jika rumah walet itu berhasil pasti untungnya juga besar. Jika harganya turun, pemilik rumah walet tetap akan untung, karena pemilik hanya tinggal mengambil sarang walet tanpa perlu memberi makan walet seperti hewan ternak umumnya,” kata Agus.

Baca Juga :  DKUMP Pastikan Harga Minyak Goreng di Pasaran Selaras Satu Harga

Meskipun demikian, warga kelahiran Desa Bebatu itu juga menjelaskan kalau tidak semua rumah walet yang dibangun akan berhasil. Semua tergantung pada penempatan lokasi, banyaknya habitat walet yang ada dan perawatan dari rumah walet itu sendiri.

Umumnya kurang dari setahun sarang walet sudah bisa dipanen. Namun beberapa peternakan juga sering ditemui memanen hasil ternaknya dalam waktu 2 sampai 3 tahun, bahkan ada juga yang tidak bisa dipanen sama sekali karena tidak ada walet yang bersarang.

“Tapi jika berhasil, 1Kg sarang walet bisa dijual dengan harga Rp 10 atau Rp 15 juta,” ungkapnya.

Baca Juga :  Tekan Angka Kemiskinan, Ekonom Sebut UMKM dan Investasi Kaltara Mempengaruhi 

Selain Agus, Iyung yang merupakan mantan pengusaha rumah walet berhenti berbisnis setelah rumah waletnya gagal panen.

“Bisnis beginikan rejeki-rejekian juga, jika bukan rejekinya maka usaha itu akan gagal seperti saya yang membangun rumah walet tapi tidak disarangi walet. Tapi ketika rumah waletnya saya jual kepada orang lain, malah berhasil sama orang itu,” pungkasnya. (*)

 

Reporter: Osarade

Editor: Matthew Gregori Nusa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *