oleh

Oknum Guru Bullying Siswa di Kelas, Orang Tua Harus Sigap

“Pelaku bullying memang sudah tercipta hasrat untuk menyakiti korbannya. Ada kepuasan sendiri jika mengganggu orang lain”  

benuanta.co.id, TARAKAN – Kasus bullying atau penindasan di lingkungan sekolah masih terus terjadi dan menuai beragam reaksi dari setiap kalangan masyarakat.

Bukan hanya sesama kalangan pelajar, baru-baru ini kasus bullying terjadi di Bau-bau, Sulawesi Tenggara melibatkan oknum guru dinilai mencoreng citra pendidikan. Perlu diketahui bahwa kasus bullying ini dilakukan oleh oknum guru yang merekam siswi sedang menangis di depan kelas lantaran tak bisa menjawab soal di papan tulis.

“Yang penting tidak ada yang ganggu toh? Sebentar saya sebarkan di WA group ini. Disuruh kerjakan di papan (tulis), tidah tahu, menangis, supaya ditahu mamanya. Saya kirim di WA,” kata suara AS, oknum guru yang terekam dalam video tersebut.

Berbagai pihak turut mengecam perlakuan oknum guru. Tak terkecuali Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Teguh Hendri Susanto, yang menyayangkan sikap oknum guru dinilai tidak mendidik siswanya. Terlebih, menurutnya setiap siswa memiliki potensi yang berbeda-beda.

“Itu bukan mendidik dan mengarahkan. Jadi konsep itu salah besar dan saya prihatin. Harusnya guru memberikan contoh yang baik, semua anak-anak punya potensi, tugas guru mengembangkan. Kalau susah menulis, membaca arahkan ke yang lain seperti olahraga,” ujar Teguh.

Teguh juga memastikan bahwa hal serupa tak akan terjadi di Provinsi Kaltara. Caranya, dengan rutin membuat musyawarah kepada guru mata pelajaran. Namun, Teguh juga berkomitmen jika nantinya ada kasus serupa di Kaltara, akan memberikan teguran keras.

“Jadi di situ nanti ada pencerahan terus ada pengawasan. Kami sering turun langsung memberikan pengawasan juga. Kasus di Kaltara Insyaallah belum ada, kalau pun nanti ada sanksi pasti langsung K.O (sanksi keras). Berarti seorang pengajar itu yang bersangkutan harus dikasih training center secara khusus atau direhabilitasi,” pungkasnya.

Sementara itu, dari sisi psikologis. Dampak dari bullying ini sangat besar terhadap fisik dan mental korban, terlebih kasus yang terjadi ini melibatkan anak-anak. Dampak tersebut disebut dapat mempengaruhi kesehatan bahkan prestasi belajar anak disekolah.

“Misalnya dia anak yang ceria, setelah dibully jadi anak yang pendiam, karena apa? karena dia malu (atau) takut. Kalau dari kesehatan dia juga bisa nggak nafsu makan, kalau mental ya mungkin gelisah (seperti) susah tidur akhirnya, Kepercayaan diri berkurang, bahkan bisa depresi kalau dia itu betul-betul mendalami rasa sakitnya,” ungkap Psikolog sekaligus Dosen Bimbingan dan Konseling Universitas Borneo Tarakan, Hj. Cici Ismuniar, M.Psi kepada benuanta.co.id, Jumat 12 November 2021.

Memulihkan semua dampak yang dapat menimbulkan trauma pada korban bully, juga harus dimulai dari internal korban. Misalnya dari orang-orang terdekat, seperti orang tua dan keluarga. Pola asuh orang tua terhadap anak tak kalah penting dalam mengatasi trauma pasca bullying. Mulai dari bagaimana orang tua memberikan pemahaman kepada anak untuk selalu berbagi dan bercerita jika ada ancaman atau bahaya dari orang lain.

“Pola asuh orang tua itu penting, kalau anak ada apa-apa di sekolah atau di jalan bisa bercerita ke orang tua, kalau ada orang tua yang jarang ngobrol dan berkomunikasi ke anak, si anak juga pasti tidak mau cerita,” ungkapnya.

Tak melulu internal anak, dukungan dari lingkungan sekolah juga diperlukan dalam memulihkan trauma yang dialami korban. Sekolah harus peduli tentang kasus yang dilakukan oleh oknum yang merasa korban bullying adalah orang yang lemah dan tak berdaya.

“Pelaku bullying ini memang sudah tercipta hasrat untuk menyakiti korbannya. Jadi dia senang kayak ada kepuasan sendiri jika mengganggu orang lain. Tapi sebelumnya pelaku ini mencari tahu dulu, si korban ini melawan apa tidak, kalau dia lemah dia akan lebih senang, yang dia cari individu yang  memang terlihat lemah,” imbuhnya.

Psikolog menyarankan agar korban bully mendapatkan masa pemulihan dengan tenang. Tujuannya agar trauma tak kembali terulang, dan ketenangan pun bisa didapat dari rasa aman yang diciptakan oleh orang-orang sekitanya.

“Keluarga bisa mendatangi pihak sekolah untuk berkomunikasi bahwa anaknya sudah dibully, dan dari pihak sekolah harus ada feedback, ini sangat berkaitan. Orang tua juga memberi tahu anaknya kalau dibully harus lapor ke sekolah tanpa menyerang balik si pelaku bully,” terangnya.

Pendiri Biro Psikologi Baloy Rakajasa Kaltara ini memberikan jenis-jenis bullying dari hal yang terkecil. Terdapat banyak sekali jenis bully, di antaranya bullying fisik, seksual bullying, prejudisial bullying, finansial bullying, siber bullying dan sebagainya.

“Kalau malakin (pemerasan) temennya ya itu termasuk di finansial bullying. Misal fisik kamu gendut, kalau seksual lebih ke pelecehan seksual sih. Lalu prejudisial itu lebih mencela suku yang mengolok-ngolok asal tempat tinggal lebih rasis gitu, dan siber itu lebih ke kita posting foto misal terus dikomentarin gitu,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu orang tua yang anaknya saat ini duduk di kelas 3 Sekolah Dasar, Siti Wahyuni (27) mengaku sedih jika kejadian memalukan tersebut menimpa anaknya. Terlebih anak Siti memiliki badan yang agak berisi dan rentan menjadi korban bully fisik.

“Saya sebagai orang tua perlu meyakinkan anak saya, karena anak saya kan gemuk ya. Jadi biasa rentan bully, saya meyakinkan bahwa dia berharga. Jika ada temannya yang mengolok (mengejek), itu karena dia nggak bisa seperti anak saya,” tegas Siti.

Orang tua yang lalu menanamkan hal baik kepada anaknya juga dilakukan Siti, yakni harus selalu berbicara jika ada orang lain yang berbuat jahat tanpa harus menggunakan kekerasan. “Misalnya bullynya itu menuju kepada kasus kekerasan, saya arahkan anak saya segera mengadu kalau tidak ke aku, ya ke gurunya. Biar segera ditindaklanjuti,” tutupnya. (*)

Reporter : Endah Agustina

Editor : Yogi Wibawa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

one × five =