Pengamat Ekonomi: Naiknya Harga Minyak Goreng dapat Menyumbang Inflasi

benuanta.co.id, TARAKAN – Disdagkop Kaltara akui adanya kenaikan harga minyak goreng dalam sebulan terakhir. Kadisdagkop Kaltara, Hasriani menjelaskan berdasarkan hasil pengawasan pada bahan pokok (Bapok) terdapat kecenderungan setiap harinya harga minyak naik.

“Hak ini disebabkan banyak hal, seperti harga CPO dunia, permintaan bahan baku biodeasel dan yang sawit itu sedang mengalami penurunan panen,” ujarnya Sabtu (6/11/2021).

Berdasarkan data yang diperoleh tim benuanta.co.id, kenaikan harga minyak ini berbeda pada masing-masing kabupaten kota di Kaltara. Pada Kabupaten Bulungan harga minyak goreng mengalami kenaikan empat ribu rupiah, Tana Tidung mengalami kenaikan dua ribu rupiah, sedangkan Nunukan dan Tarakan tiga ribu rupiah dan tidak ada kenaikan pada kabupaten Malinau.

Baca Juga :  BI Kaltara Targetkan Seluruh Pelabuhan Pakai QRIS pada 2026

Ditambahkan Hasriani bahwa kenaikan harga ini serentak seluruh Indonesia dan hingga saat ini belum ada surat resmi dari Kementrian Perdagangan.

“Sementara ini pusat juga lagi pemantauan terus terhadap kondisi ini jadi daerah menyesuaikan aja,” tambah dia.

Dikonfirmasi secara terpisah, salah satu pakar ekonomi Kaltara, dr. Ana Sriekaningsih menerangkan bahwa kenaikan harga minyak ini dapat menyumbang inflasi. Terlebih lagi bertepatan deng momen natal dan tahun baru.

Baca Juga :  Pengguna QRIS di Kaltara Tembus 131 Ribu, Transaksi Tumbuh Signifikan

“Minyak goreng kan juga merupakan salah satu bahan baku untuk kebutuhan jadi pasti banyak permintaannya nanti,” tegasnya.

Hal ini disebabkan karena pada perayaan hari besar terdapat juga barang-barang akan naik harga seiring naiknya permintaan konsumen. Sedangkan, pasokan belum dipastikan cukup.

“Harus ada cadangan ketika permintaan tinggi dan barang ada jadi harganya naik tapi masih bisa dikendalikan,” tutur Ana.

Baca Juga :  Simbol Doa dan Harapan Keluarga, Lilin Raksasa Mulai Hiasi Kelenteng Tarakan Jelang Imlek

Dalam hal pengendalian harga, Ana menerangkan pemerintah harus turun tangan. Jikalau pun lambat dikendalikan dalam waktu dekat akan memicu kenaikan harga pada komoditas lain.

“Harus ada pembatasan juga, seperti tahun-tahun lalu jangan sampai harga naik tapi tidak dikendalikan akan memicu barang yang lain naik juga,” tandasnya (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *