benuanta.co.id, TARAKAN – Sudah dua minggu beruntun harga batu bara merangkak turun. Pada akhir pekan lalu, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) tercatat US$ 154,9/ton. Data ini menunjukkan ambrol 10,12% dari hari sebelumnya. Secara mingguan, harga komoditas ini ambrol 18.9%. Lalu, pada seminggu sebelumnya, harga rontok 20,86%.
Melihat hal ini, salah satu pakar ekonomi di Kalimantan Utara, Dr. Margiyono, SE, M.Si memberikan pandangan terkait dampak yang akan terjadi pada provinsi termuda ini jika harga batu bara makin menurun. Terlebih, Kalimantan juga merupakan salah satu daerah penghasil batu bara terbesar di Indonesia.
Ia menerangkan bahwa dampak dari penurunan harga batu bara ini akan terlihat sangat signifikan jika dilihat dari struktur ekonomi di Kaltara. Karena struktur ekonomi di Kaltara terdapat presentase ekspor yang besar yakni 80 persen pada sektor batu bara sendiri.
“Dalam sisi pengeluaran itu belanja pemerintah perannya 7 persen, konsumsi masyarakat 15 persen, investasi 33 persen, ekspor 43 hingga 45 persen, dan di dalam ekspor itu hampir 80 persennya adalah batubara, yang lainnya ada perikanan, industri tapi dominasi batu bara,” bebernya, Rabu (3/11/2021).
Dari perspektif ekonomi Margiyono, bahwa selama ini negara tujuan untuk ekspor batu bara yang dilakukan oleh Kaltara adalah ke wilayah Asia seperti China. Sedangkan saat ini Pemerintahan China sedang dalam kondisi anjloknya pasar properti, yang mengakibatkan aktivitas produksi di China redup, sehingga menurunya permintaan bahan bakar untuk menggerakkan produksi.
“Kalau kita mebuka data dari BPS Kaltara perihal ekspor batu bara kaltara itu paling banyak ke China, jadi porsi terbesar China, sementara kita tau kondisi global ekonomi China itu mengalami tekanan,” sambung dia.
Sementara itu, ambrolnya harga si batu hitam ini juga sangat berpengaruh bagi minat investor. Dimana, dunia investasi akan mempertimbangkan ulang atas pengembalian yang akan didapat. Namun, pada sisi ekonomi lingkungan Margiono mengatakan penurunan harga batu bara ini menjadi baik, karena lingkungan akan menjadi sehat dan tidak ada lagi pemindahan alih fungsi hutan menjadi tambang.
“Kalau pandangannya ekonomi lingkungan jadi baik, otomatis kita tidak sedang merusak alam, tidak sedang menciptakan lahan kritis, tidak memindahkan alih fungsi hutan menjadi tambang. Tetapi, kalau ini tidak segera diatasi ini akan terjadi penurunan kapasitas produksi batu bara maka juga akan berdampak ke penurunan penggunaaan tenaga kerja, kendaraan, permintaan kebutuhhan logistik dan lain-lain,” jelasnya.
Pengamat Ekonomi Universitas Borneo Tarakan ini mengatakan ada solusi dibalik ambrolnya harga ini. Salah satunya adalah melakukan perluasan pasar dengan tidak mengekspor batu bara kewilayah Asia saja namun juga Eropa. Seperti halnya saat ini, Eropa sedang mengalami krisis energi dengan begitu harga energi di Eropa juga tentunya semakin tinggi.
“Kita bisa memperluas ranah ekspor contoh sekarang Eropa kan lagi krisis energi kita bisa memanfaatkan itu, kebutuhan energi di sana tinggi maka harga energi tinggi, sementara batu baara adalah bagian dari salah satu bahan bakar,” ujar Margiyono.
Kendati begitu, dirinya menjelaskan bahwa harga batu bara tidak selalu stagnan menurun hal ini juga tergantung kepada kebutuhan pasar, permintaan pasar dan subsitusi pengganti. Kuncinya adalah disharmonisasi dari negara yang bersangkutan untuk bisa memperbaiki dan menangani hal ini. (*)
Reporter: Endah Agustina
Editor: Ramli







