oleh

BMKG: Cuaca Panas di Bulungan Bukan Gelombang Panas Tinggi

benuanta.co.id, BULUNGAN – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tanjung Harapan buka suara terkait pemberitaan adanya gelombang panas tinggi yang akan terjadi di Indonesia. Jika berita tersebut tidak benar adanya alias hoax.

“Belakangan ini memang marak tersiar kabar kalau ada fenomena gelombang panas yang melanda wilayah Indonesia. Namun, kabar tersebut adalah HOAX,” ungkap Abdul Haris Zulkarnain Kepala BMKG Tanjung Harapan dalam rilisnya, Sabtu 16 Oktober 2021.

Dia mengatakan untuk wilayah Kaltara sendiri, berdasarkan data observasi BMKG Tanjung Harapan, suhu udara beberapa hari terakhir memang tergolong tinggi. Namun, hal ini sesuai dengan data Klimatologi selama 20 tahun terakhir.

“Bahwa memang suhu tertinggi di wilayah Bulungan secara umum terjadi setiap bulan September-Oktober, yaitu pada kisaran 35-36 derajat celcius,” ucapnya.

Untuk itu, pihaknya meminta kepada masyarakat Kabupaten Bulungan dan sekitarnya untuk tetap tenang dan tidak panik. catatan suhu ini bukan merupakan penyimpangan besar dari rata-rata iklim suhu maksimum pada wilayah ini, masih berada dalam rentang variabilitasnya di Bulan Oktober.

“Kami minta masyarakat Bulungan tetap tenang dan tidak panik dengan situasi saat ini,” ujarnya.

Baca Juga :  DPUPR Perkim Kaltara Tunggu SK Alih Fungsi Kawasan Hutan Jadi APL 

Informasi itupun telah disampaikan oleh BMKG pusat, jika kondisi suhu panas dan terik saat ini tidak bisa dikatakan sebagai gelombang panas. Gelombang panas terjadi pada wilayah yang terletak pada lintang menengah dan tinggi. Sementara wilayah Indonesia terletak di wilayah ekuator yang secara sistem dinamika cuaca tidak memungkinkan terjadinya gelombang panas.

Gelombang panas dalam ilmu cuaca dan iklim didefinisikan sebagai periode cuaca (suhu) panas yang tidak biasa yang biasanya berlangsung setidaknya lima hari berturut-turut atau lebih (sesuai batasan Badan Meteorologi Dunia atau WMO) disertai oleh kelembapan udara yang tinggi.

Untuk dianggap sebagai gelombang panas, suatu lokasi harus mencatat suhu maksimum harian melebihi ambang batas statistik, misalnya 5 derajat celcius lebih panas, dari rata-rata klimatologis suhu maksimum, dan setidaknya telah berlangsung dalam lima hari berturut-turut.

Apabila suhu maksimum tersebut terjadi dalam rentang rata-ratanya dan tidak berlangsung lama maka tidak dikatakan sebagai gelombang panas.

Gelombang panas umumnya terjadi berkaitan dengan berkembangnya pola cuaca sistem tekanan atmosfer tinggi di suatu area secara persisten dalam beberapa hari. Dalam sistem tekanan tinggi tersebut, terjadi pergerakan udara dari atmosfer bagian atas menuju permukaan (subsidensi) sehingga termampatkan dan suhunya meningkat.

Baca Juga :  Perusahaan Wajib Ikut WLKP Online, Disnakertrans Sebut Baru 992 Perusahaan Sudah Lapor

Pusat tekanan atmosfer tinggi ini menyulitkan aliran udara dari daerah lain masuk ke area tersebut. Semakin lama sistem tekanan tinggi ini berkembang di suatu area, semakin meningkat panas di area tersebut, dan semakin sulit awan tumbuh di wilayah tersebut.

Suhu panas yang terjadi di wilayah Indonesia merupakan fenomena akibat dari adanya Gerak semu matahari yang merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun, sehingga potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya.

Saat ini, berdasarkan pantauan BMKG terhadap suhu maksimum di wilayah Indonesia, memang suhu tertinggi siang hari ini mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Tercatat suhu > 36 °C terjadi di Medan, Deli Serdang, Jatiwangi dan Semarang pada catatan meteorologis tanggal 14 Oktober 2021. Suhu tertinggi pada hari itu tercatat di Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wilayah I, Medan yaitu 37,0 °C. Namun catatan suhu ini bukan merupakan penyimpangan besar dari rata-rata iklim suhu maksimum pada wilayah ini, masih berada dalam rentang variabilitasnya di Bulan Oktober.

Baca Juga :  KPU Butuh Kepastian Pelaksanaan Pemilu dan Pilkada 2024

Setidaknya suhu maksimum yang meningkat dalam beberapa hari ini dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya pada bulan Oktober, kedudukan semu gerak matahari adalah tepat di atas Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara dalam perjalannya menuju posisi 23 lintang selatan setelah meninggalkan ekuator.

Posisi semu Matahari di atas Pulau Jawa akan terjadi 2 kali yaitu di bulan September/Oktober dan Februari/Maret, sehingga puncak suhu maksimum terasa di wilayah Jawa hingga NTT terjadi di seputar bulan-bulan tersebut.

Kemudian cuaca cerah juga menyebabkan penyinaran langsung sinar matahari ke permukaan lebih optimal sehingga terjadi pemanasan suhu permukaan. Kondisi tersebut berkaitan dengan adanya Siklon Tropis KOMPASU di Laut Cina Selatan bagian Utara yang menarik masa udara dan pertumbuhan awan-awan hujan serta menjauhi wilayah Indonesia sehingga cuaca di wilayah Jawa cenderung menjadi lebih cerah – berawan dalam beberapa hari terakhir. (*)

Reporter: Heri Muliadi

Editor: Ramli

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *