oleh

Terkendala Pembebasan Lahan, Pemprov Kaltara Diminta Maksimalkan Potensi Pertanian

benuanta.co.id, TARAKAN – Sektor pertanian di Kalimantan Utara (Kaltara) masih dipandang sebelah mata sehingga mengakibatkan banyaknya lahan tidur di lima kabupaten/kota Kaltara. Jika digarap maksimal, bukan tidak mungkin pertanian Kaltara dapat bersaing dengan daerah lain. Terlebih memanfaatkan lahan – lahan yang ada dijadikan lahan pertanian yang menghasilkan untuk para petani dan Provinsi Kaltara.

Selain perikanan, Kaltara juga memiliki potensi di bidang pertanian lantaran memiliki lahan yang cukup luas. Begitu pun dengan warga Kaltara yang tak asing lagi dengan pertanian, sehingga bukan hal sulit menciptakan semangat para petani kembali bercocok tanam.

Luas Kaltara yang mencapai ± 75.467.70 km², baru sekitar 12 ribu hektare (Ha) yang digunakan sebagai lahan pertanian. Padahal, dari data yang dihimpun benuanta.co.id dari berbagai sumber ada sekitar 7.546.770 Ha lahan pertanian yang bisa dibuka dan digarap oleh petani di Kaltara.

Seperti yang diungkapkan Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kaltara, Andi Sulaiman melalui Pemerhati Pertanian KKSS Kaltara, Andi Syarifuddin potensi pertanian sangat bisa menyaingi potensi ekspor perikanan.

“Provinsi Kaltara diketahui memiliki luas lautan 11.579 km² (13% dari luas wilayah total). Artinya pengembangan lahan pertanian masih berpotensi untuk dikembangkan. Kalau pertanian dikembangkan, maka Kaltara menjadi lumbung pangan nasional bahkan dunia. Sementara sektor kelautan wilahnya hanya 13% dari wilayah Kaltara sudah menjadi pengekspor. Kita berharap sektor pertanian juga demikian,” terangnya saat ditemui benuanta.co.id pada Ahad, 10 Oktober 2021.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Berencana Hentikan Ekspor CPO

Besarnya peluang pertanian Kaltara ini ternyata masih menemui banyak kendala, salah satunya yakni masalah kepemilikan lahan yang dikuasai perusahaan. Kata Syarifuddin, pihaknya sangat menginginkan peran Pemerintah Pusat dan Provinsi Kaltara dalam mengembangkan potensi pertanian dengan menghibahkan lahan untuk petani-petani di Kaltara.

Jika Pemerintah Pusat dan Provinsi Kaltara mendukung percepatan pertanian Kaltara, bukan tidak mungkin lahan – lahan yang masih dikuasai perusahaan dapat dihibahkan untuk pertanian. Ia juga meyakini lahan tidur yang terjadi di beberapa wilayah bisa kembali digarap maksimal.

“Pemerintah dalam hal ini harus membebaskan lahan yang masih berstatus konservasi, hutan lindung maupun dalam penguasaan perusahaan. Jika ini sudah dilakukan dan berjalan, maka petani kita bisa sejahtera dan maju,” ungkapnya.

Lanjut dia, setidaknya petani diberikan lahan pertanian seluas 5 Ha agar perputaran pertanian terus berjalan di Kaltara. Sebab, jika lahan pertanian terbatas, ditambah pemasaran hasil pertanian yang belum jelas sistemnya maka tidak heran banyak petani yang tidak melanjutkan pertanian.

“Kalau 5 Ha seperti yang dikatakan Kementerian Pertanian, pasti petani kita punya pendapatan lebih. Apalagi kalau sistem pertaniannya modern, semua menggunakan mesin otomatis. Petaninya pun kita kontrol, semua terjadwal. Petani tidak lagi dipusingkan dengan pemasaran, pupuk dan lain sebagainya,” tuturnya.

Pihaknya berharap Provinsi menyikapi pertanian Kaltara dengan serius lantaran menjadi salah satu program unggulan Pemerintah Pusat. Dalam hal ini, KKSS Kaltara mendorong Provinsi Kaltara maupun Pusat bisa menyiapkan lahan pertanian 10 persen dari luas potensi lahan yang ada di Kaltara saat ini.

Baca Juga :  Disdikbud Kaltara: Peserta P3K Guru Tidak Lolos Tahap Satu Silahkan Sanggah

“Ada sekitar 750 ribu Ha dari 10 persen tadi maka bukan tidak mungkin banyak yang bertani. Bahkan jika nanti sistem pertanian di Kaltara berjalan dengan baik, bukan tidak mungkin juga banyak orang-orang di Kaltara yang akan pensiun dini dari pekerjaan tetapnya, dan beralih menjadi petani karena punya penghasilan lebih,” sebutnya.

Tahap percepatan lahan pertanian di Kaltara yang paling berpotensi menurutnya yakni pencetakan persawahan. Terlebih lahan persawahan yang sudah ada di Kaltara saat ini ditambah dari sebagian dari 10 persen lahan tersebut, maka potensi ketergantungan impor beras saat ini bisa berkurang.

“Tidak hanya sawah ya, pertanian lain juga berpotensi. Selain beras tadi, juga pertanian jagung tak kalah potensinya. Jika saja di sepanjang jalan poros provinsi ditanami jagung misalnya, dan ada ratusan hektare lahan jagung di Kaltara bukan tidak mungkin juga kita bisa melakukan ekspor jagung. Tentunya hasil-hasil pertanian ini dapat mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kaltara,” paparnya.

Mengenai pertanian, Wakil Gubernur Yansen TP pun mendukung hal itu seperti yang dilakukannya beberapa waktu lalu di Kabupaten Malinau. Kata Wagub, pertanian harus didukung dengan infrastruktur yang memadai seperti jaringan jalan, jembatan, irigasi, serta pendukung lainnya.

Baca Juga :  Dukung Pertumbuhan Ekonomi, Pameran Virtual UMKM Pertamina SMEXPO 2021 Hadirkan Ribuan Produk UMKM

“Karena Kaltara khususnya Kabupaten Malinau berpeluang besar menjadi andalan pertanian nasional,” singkatnya.

Ia menjelaskan, lahan pertanian di Pulau Jawa sudah hampir hampir habis. Di Pulau Sulawesi juga semakin menipis. Berpeluang untuk menjadi penopang pertanian nasional adalah Kalimantan Utara, yang termasuk di dalamnya adalah Kabupaten Malinau.

“Apalagi kita ketahui bersama, Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan Timur menjadi potensi besar bagi Kalimantan Utara untuk menopang dari sektor pertaniannya. Jika jalan dari Malinau ke Krayan sudah tembus, kita berpeluang juga memenuhi kebutuhan pangan negara tetangga kita, Malaysia,” lanjutnya.

Senada dengan hal itu, Gubernur Kaltara, Zainal A Paliwang pun sangat mendukung terkait potensi pertanian di Kaltara. Menurut Gubernur, pembangunan di kabupaten/kota di Kaltara tidak hanya berfokus kepada infrastruktur, kesehatan dan pendidikan juga menggiatkan sektor pertanian.

“Karena sektor perikanan inilah yang akan menjadi ikon Kaltara nanti, karena sumber daya kita sangat besar,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Zainal mengatakan agar sektor pertanian lebih digiatkan, mengingat Kaltara tidak memiliki musim hujan dan kemarau sehingga cocok untuk mengembangkan lahan pertanian. Terlebih Nunukan memiliki wilayah yang luas bisa dijadikan lahan pertanian yang unggulan.

“Wilayah kita luas, dengan modal iklim dan dataran menjadi modal utama untuk melaksanakan pertanian yang lebih baik,” tandasnya. (*)

Editor : Nicky Saputra

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *