oleh

Cerita Jesica, Kuliah Sembari Mengajar di SDN 012 Desa Binusan Nunukan

benuanta.co.id, NUNUKAN – Pendidikan di wilayah Terdepan, Terpencil dan Tertinggal (3T) menjadi perhatian pemerintah pusat hingga daerah, salah satunya dunia pendidikan yang sangat penting bagi semua orang yang bertujuan untuk mencerdaskan dan mengembangkan potensi dalam diri dan memiliki kreativitas. Hingga bisa sama dengan daerah lainnya yang telah dinilai telah maju.

Upaya ke arah itu, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan program yang menugaskan MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) di setiap sekolah 3T dengan sekolah teragreditasi maksimal B. Selama 6 bulan dengan program khusus pembelajaran untuk peningkatan literasi dan numerasi, adaptasi teknologi dan membantu administrasi sekolah. Hal itu disampaikan oleh salah satu Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Jesica Pelilin kepada benuanta.co.id.

“Kita dipercayai untuk melakukan pembelajaran di SDN 012 Kecamatan Nunukan, Desa Binusan Dalam,” kata Jesica, Jumat (8/10/2021).

Baca Juga :  Minim Fasilitas, Guru di Perbatasan Bagian Utara Indonesia keluhkan Jaringan

Jesica menjelaskan, tantangan yang mereka hadapi terutama cuaca pada saat hujan, akan terkendala hadir ke sekolah, begitu juga peserta didiknya yang tinggal dibagian dalam (jauh dari sekolah), jalan menuju sekolah akan lebih sulit sehingga siswa tidak bisa ke sekolah. “Sedangkan untuk jarak tempuh yang saya lewati dari sekolah itu sekitar 14 kilometer dari sungai Bilal ke Sungai Banjar atau SD 012,” jelasnya.

Baca Juga :  Ketetapan UMK 2022, Nunukan Menunggu Arahan Pemprov Kaltara

Tidak hanya itu, jaringan telekomunikasi di desa tersebut tidak ada, jadi proses belajar mengajar lebih banyak menggunakan buku walaupun ada aplikasi yang digunakan namun sangat terbatas. Jesica mengakui untuk memenuhi tugasnya sebagai mahasiswi, ia mesti berjuang mencari jaringan internet pada suatu tempat tertentu sehingga bisa mengikuti proses perkuliahan melalui zoom meeting. Setelah mata kuliah usai, ia lanjutkan untuk kembali ke sekolah SDN 012 Desa Binusan.

Baca Juga :  148 TKI Dipulangkan ke Indonesia, 3 Orang Alami Gangguan Jiwa

Terbatasnya infrastruktur di sekolah ini seperti kursi, meja dan papan tulis yang sangat terbatas, ini menjadi kesulitan bagi mereka, sedang ruangan yang digunakan saat ini hanya satu, sementara untuk satu hari anak-anak yang turun ke sekolah ada tiga kelas, dari kelas 1-6 akan dibagi waktunya.

“Dalam sehari kita mengajar tiga kelas dalam satu ruangan, jadi kita harus berusaha bagaimana mata pembelajaran yang kita berikan itu mereka pahami, ini juga tantangan kita,” terangnya.(*)

Reporter: Darmawan

Editor: Ramli

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *