oleh

Statistik di Era Big Data

Oleh: Nurin Ainistikmalia, S.S.T., M.E.

Statistisi Ahli Muda BPS Kabupaten Tana Tidung

TANGGAL 26 September diperingati sebagai Hari Statistik Nasional (HSN) setiap tahunnya. Pada tahun 2021, tema HSN mengambil tajuk “Statistik berkualitas untuk Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh”. Tema ini mewakili penggambaran peranan dan kontribusi data statistik berkualitas untuk menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tangguh dan tumbuh, apalagi di tengah kondisi Pandemi Covid-19 yang juga belum berakhir.

Peringatan Hari Statistik Nasional seringkali dianggap sebagai bagian dari perayaan lembaga Badan Pusat Statistik saja. Padahal sejatinya, HSN ialah perayaan bagi kita semua, sebagai warga negara. Barangkali di benak awam, memang statistik sangat identik dengan dua pekerjaan yang biasa dilakukan BPS yakni penyelenggaraan sensus dan survei. Apapun jenis kegiatannya, untuk dua hal tersebut, ingatan masyarakat langsung tertuju pada BPS. Namun sebenarnya, peranan dan kegiatan perstatistikan sangatlah luas, dan bersinggungan dengan kegiatan kita sehari-hari.

Contoh kecilnya saja peluang. Setiap hari kita pasti akan dihadapkan pada dua peluang; hidup atau mati. Saat kita berbelanja bahan lauk pauk di pasar, kita akan dihadapkan pada pilihan-pilihan: mau sayur matang atau sayur mentah, sayur organik atau non organik, ikan laut atau ikan sungai, bahan pangan mahal tapi berkualitas atau yang murah meriah ala kadarnya. Melakukan pengambilan keputusan mulai dari pemilihan bahan hingga mengolah bahan pangan menjadi sepiring makanan lezat begizi di atas meja makan, prosesnya hampir sama dengan proses pengerjaan statistik. Jika bahan-bahan pilihannya baik, dikerjakan oleh ahli masak yang paham ilmunya, maka penyajiannya juga pasti berkelas dan bermanfaat tidak hanya sekadar membuat perut kenyang. Tetapi juga memenuhi gizi dan menyehatkan.

Baca Juga :  KTP untuk Presiden?

Semua orang bisa makan mengenyangkan, namun tidak semua dapat makan menyehatkan. Itu semua kembali pada bagaimana proses pengambilan pilihan sebelum memutuskan untuk makan, siapa yang melakukan, dan bagaimana penyajian makanan itu dihidangkan. Seorang profesional di bidang ilmu kesehatan pasti tidak akan serampangan mengenyangkan perutnya dengan semangkuk makanan instan karena ia tahu apa efek jangka panjang bagi kesehatan tubuhnya di masa depan. Sementara sebagian lain mungkin tidak akan terlalu ambil pusing mau makan apa, sepiring gorengan fast food ditambah sebotol coke tentunya tak akan jadi soal.

Demikianlah cara pandang perstatistikan dalam pengelolaan pembangunan negara. Semua orang dapat melakukan kegiatan statistik, tetapi tidak semua memahami bagaimana mengelola kegiatan perstatistikan dengan baik. Oleh karena itulah, sebuah lembaga bernama Badan Pusat Statistik dihadirkan. Lembaga yang diibaratkan sebagai seorang profesional, yang akan melakukan kegiatan secara sebaik-baiknya mulai dari memilih bahan berkualitas hingga penyajian yang berkelas untuk efek jangka panjang yang baik dan menyehatkan.

Maka sebenarnya lumrah saja, jika akhirnya HSN melekat pada Badan Pusat Statistik sebagai lembaga yang ditunjuk sebagai penyedia data utama perstatistikan negara. Sejarah HSN pun tidak jauh dari kegiatan statistik lembaga ini. Diawali dari tahun 1920, Kantor Statistik pertama di Bogor didirikan. Kantor ini kemudian berganti nama menjadi Kantor Pusat Statistik (Centraal Kantoor voor de Statistik) dan dipindahkan ke Batavia. Melalui proses sejarah yang panjang, terhitung pada 1 Juni 1957, Kantor Pusat Statistik diubah menjadi Biro Pusat Statistik (BPS).

Baca Juga :  KTP untuk Presiden?

Pada 26 September 1960, Pemerintah RI memberlakukan UU No.7 Tahun 1960 tentang statistik. Di dalam UU tersebut mengatur penyelenggaraan statistik dan organisasi Biro Pusat Statistik yang kemudian berganti menjadi “Badan Pusat Statistik.” Bersamaan dengan keluarnya UU No.7 Tahun 1960 tersebut, pemerintah RI juga menyetujui penetapan Hari Statistik Nasional setiap tanggal 26 September. Dengan demikian, sejak saat itulah, masyarakat Indonesia mulai memperingati HSN. Sebuah perayaan yang diharapkan akan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya statistik, meningkatkan penggunaan statistik dan mendorong para penggiat statistik untuk terus mengembangkan serta melakukan kegiatan statistik dengan kaidah, pedoman, dan sesuai aturan yang berlaku.

Statistik sendiri semakin berkembang dari masa ke masa. Kegiatan perstatistikan saat ini tidak hanya seperti yang dahulu kita kenal dengan kegiatan turun langsung ke lapangan membawa seabrek dokumen, melakukan wawancara, kemudian melalukan olah data, dengan proses yang memakan waktu, hingga sampai pada penyajian.

Dengan kemajuan teknologi, saat ini, kita dapat mengambil kebijakan dari proses kegiatan real time berdasarkan data yang sudah tersedia di internet, misalnya melalui aktivitas dari penggunaan e-commerce ataupun media sosial. Mahadata atau yang biasa dikenal dengan big data ialah istilah yang merujuk pada suatu himpunan data (data set) yang jumlahnya sangat besar, rumit, dan tidak terstruktur sehingga menjadikannya sukar ditangani apabila hanya menggunakan perkakas manajemen basis data biasa atau aplikasi pemroses data tradisional.

Dengan adanya big data arah kegiatan perstatistikan juga akan memiliki wajah yang berbeda, tidak lagi dimulai dengan alur penelitian statistik konvensional dari perumusan masalah, perancangan metode sampel hingga pengujian. Pada era big data, kita mendapati data telah tersedia, sehingga yang dibutuhkan ialah bagaimana menelaah dan mengelolanya.

Baca Juga :  KTP untuk Presiden?

Pada era digitalisasi, di mana semua kegiatan saat ini mulai beralih berbasis digital, pemanfaatan big data sangat potensial untuk dikembangkan dalam menjawab tantangan dan peningkatan kualitas data statistik. Big data dianggap mampu mendorong penyediaan data statistik lebih cepat, bervariasi, dan lebih detil. Hal ini juga telah diakui oleh komunitas statistik dunia yang

secara resmi mengakui potensi big data. Komisi statistik PBB telah membentuk Global Working Group (GWG) yang diberi mandat untuk memberikan visi, arahan, dan koordinasi strategis terkait program dunia dalam pemanfaatan big data untuk officials statistics.

Di BPS sendiri, implementasi big data sudah dilakukan pada beberapa kegiatan diantaranya citra satelit untuk Kerangka Sampel Area, mobilitas pelaku komuter, tourism statistics, Delineasi Metropolitan Statistical Area, inisiatif kecerdasan artifisial, dan kegiatan statistik lainnya untuk mendukung officials statistics. Ke depan, diharapkan big data berperan dalam menghasilkan data statistik berkualitas. Mulai dari ketersediaan data yang lebih cepat, lebih murah, dan lebih terperinci untuk melengkapi kegiatan officials statistics yang lebih mendalam berdasarkan hasil sensus dan survei. Semoga dengan perayaan HSN ini, terlebih di era big data, peran statistik semakin berkembang dan dapat memenuhi kebutuhan perstatistikan nasional. Selamat Hari Statistik Nasional!

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *