oleh

149 – 31 + 12 = 6 Emas

Oleh: Doddy Irvan 

PEKAN Olahraga Nasional (PON) ke XX Tahun 2021 di Papua, baru resmi dibuka 2 Oktober. Event olahraga terakbar di Nusantara ini diikuti 6.496 atlet. Mereka bertarung memperebutkan medali di 37 cabang olahraga. Bagaimana peluang Kalimantan Utara? Apakah target 6 medali emas bakal terwujud? Mulai hari ini, saya akan membuat tulisan bersambung tentang kiprah ‘’Laskar Utara’’ di Tanah Papua. Tentunya tulisan ini sangat subjektif. Karena saya tidak berada di sana. Tapi banyak kawan yang bisa dimintai bantuan.

————————

PON Papua sungguh unik. Ini adalah pertandingan multi event pertama di Timur Indonesia. Biasanya, PON hanya digelar di kota-kota besar di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Sempat diundur gegara Covid-19. Ditambah lagi, kondisi keamanan Papua memanas. PON kali ini banyak sekali tantangannya.

Saya pernah menjadi bagian kontingen Kaltara saat PON 19 Jawa Barat. Itu saja sibuknya minta ampun. Saya tidak terbayang, bagaimana KONI Kaltara mempersiapkan diri menghadapi PON Papua. Lihat saja, untuk menuju Jayapura bisa memakan waktu lebih dari 24 Jam. Dari Tarakan pesawat pagi menuju Makassar. Transit. Lalu ke Jayapura. Terbangnya pukul 02.00 dini hari. Sampai di Bandara Sentani, sekitar pukul 06.00 waktu setempat.

Baca Juga :  KTP untuk Presiden?

Itu kalau lewat Makassar. Ada juga penerbangan via Balikpapan dan Soekarno-Hatta Cengkareng, Jakarta. Dari sini naik Lion ke Balikpapan pukul 07.30. Tiba pukul 08.40. Lalu transit hingga pukul 15.00, otw ke Cengkareng. Landing jam 16.05 WIB. Di Cengkareng penumpang harus menunggu selama 8 jam 35 menit. Baru terbang lagi ke Sentani pakai Batik pukul 00.40 WIB dan mendarat pukul 09.20 WIT.

Itu baru waktu penerbangan. Bagaimana harga tiketnya? Berdasarkan harga yang tertera di Traveloka, Tarakan-Jayapura kisaran Rp 5.641.700. Belum bayar PCR dan over bagasi. Untuk sekali pergi saja, rata-rata per orang bisa menghabiskan Rp 6.500.000. Kalau ditotal pulang-pergi Rp 13.000.000 bahkan lebih. Pokoknya, PON kali ini begitu jauh, melelahkan dan mahal.

Tapi harus diingat, itu juga dihadapi atlet Papua saat mengikuti PON-PON sebelumnya. Kini, kita yang harus merasakannya ketika Papua menjadi tuan rumah. Keadilan memang harus terjadi disemua sektor. Termasuk olahraga.

Sudahlah, saya tidak akan membahas soal pendanaan. Toh, KONI Kaltara dan Pemerintah Provinsi telah menganggarkannya. Berapa pun dana yang keluar, itu semua buat kejayaan Kaltara. Semoga di PON ke dua yang diikuti provinsi bungsu ini, prestasi kita lebih baik dari PON Jabar.

Baca Juga :  KTP untuk Presiden?

Sekadar memberikan gambaran. Pada PON Jabar 2016 lalu, Kaltara menduduki posisi 27 dengan perolehan medali 3 emas dan 3 perunggu. Saat itu Kaltara mengikuti 31 cabor dari 44 cabang yang dipertandingkan. Hasil ini termasuk lumayan. Sebagai provinsi baru, Kaltara berada di atas Sulawesi Barat, Bengkulu, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Kepulauan Babel, dan Gorontalo.

Sejarah mencatat, Angel Gabriella Yus menjadi atlet pertama yang mempersembahkan medali emas di cabang renang. Nomor 100 meter gaya kupu-kupu. Kaltara juga menyabet sejumlah medali di cabor eksebisi. Salah satunya Barongsai. Saya menyaksikan sendiri, bagaimana perjuangan atlet Barongsai Kaltara bertarung kala itu di Bogor. Sayang, di PON Papua Barongsai tidak dipertandingkan.

Nah, pertanyaannya kini, apakah prestasi Kaltara bisa melampaui PON Jabar? Tentu susah diprediksi. Kendati Ketua KONI M Nasir optimis, ‘’Laskar Utara’’ dapat menyabet 6 medali emas. Angka itu tentu saja memiliki dasar. Kepada media beberapa waktu lalu, Muhammad Nasir yakin, 6 emas itu sesuai hasil Pra PON dan persiapan yang matang. Sikap optimis Nasir diamini Gubernur Zainal Paliwang, saat upacara pelepasan kontingen beberapa waktu lalu.

Baca Juga :  KTP untuk Presiden?

Dibandingkan PON Jabar, jumlah atlet dan cabor yang diikuti lebih sedikit. Hanya 12 cabor. Atletnya sebanyak 31 orang. Mereka didampingi 109 oficial. Terdiri dari pengurus KONI dan cabor, pelatih, asisten pelatih serta aparat keamanan.

Karena PON digelar pada masa pandemi, KONI juga mengantisipasi dengan membawa dokter serta perawat. Mereka khusus bertugas menangani atlet terutama jika positif Covid-19.

Ada yang menarik. Chief de Mission atau Ketua Rombongan PON Kaltara ditunjuk Brigjend TNI Andi Sulaiman. Yang juga KABINDA Kaltara. Penunjukan ini tentu saja sangat beralasan. Sebagai seorang militer, Andi Sulaiman sangat faham Papua. Terlebih kondisi keamanan Bumi Cendrawasih belakangan ini susah ditebak. Baginya, kemanan dan keselamatan rombongan tetap nomor satu.

PON kali ini memang beda. Biasanya, sebagai peserta PON kita hanya khawatir dicurangi tuan rumah dalam pertandingan. Kini, kegelisahan bertambah. Gak papalah dicurangi, yang penting bisa pulang bawa medali dengan selamat.

Terus berjuang Laskar Utara. (pai)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *