oleh

Selamat Mengabdi Ketua AS

Oleh: Doddy Irvan

Saya pertama kali mengenalnya di Warung Kopi Benteng. Sekitar dua tahun lalu. Masih berpangkat Kolonel. Jabatannya Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Kalimantan Utara. Tampangnya serius. Khas prajurit. Ternyata dibalik penampilannya itu, dia tentara humanis. Senang bercanda, murah senyum dan pergaulannya luas. Sesekali kami main tenis bareng. Eh, satu lagi, kami bertetangga di Peningki.

Kini pangkatnya, Brigadir Jenderal (TNI). Namanya Andi Sulaiman (AS). Tugasnya menjadi mata-mata Negara Kabinda. Kini ‘’jabatannya’’ bertambah. Puang Sulaiman, biasa kami menyapanya, baru dilantik menjadi Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kaltara. Sebuah paguyuban paling ‘’wow’’ di provinsi ini. Nah, izinkan saya mulai hari ini, memanggilnya Ketua AS, karena Ia Ketua KKSS. Dan Jenderal AS, saat menyapanya sebagai Kabinda.

Banyak yang bertanya, termasuk saya. Ngapain Ketua AS mau memimpin KKSS? Jabatan Kepala BIN itu kan strategis? Tugasnya berat loh? Ngurus paguyuban pasti butuh waktu, tenaga dan dana? Apakah beliau bisa? Jangan-jangan. Nah, kalau bicara jangan-jangan pasti ujung-ujungnya politik. Biarlah saya tetap kemukakan pertanyaan itu, sebagai pertanyaan obyektif namun sensitif. Sebab saya bukan orang politik. Dan bukan pula warga KKSS. Pertanyaan saya begini:

Baca Juga :  Keluarga Sebagai Lembaga Pertama Pendidikan Islam

‘’Jangan-jangan, Ketua AS mau menjadikan KKSS kendaraan politik?’’

Pertanyaan nakal ini akan saya jawab sendiri. Dan saya meyakininya benar. Tidak perlu saya bertanya langsung ke Ketua AS. Karena tulisan ini bukan berita yang harus dikonfirmasi. Hanya sekadar pendapat pribadi. Saya berharap Anda sendiri yang bertanya langsung ke beliau. Kalau berani, hehe. Mau tau jawabannya? Pasti ini:

‘’Saya tidak akan menjadikan KKSS sebagai kendaraan politik. Saya hanya ingin menjadikan warga KKSS sejahtera secara ekonomi. Dan saya punya tanggung jawab sebagai prajurit, menjaga harmonisasi dan NKRI.’’ Itulah jawabannya.

Begitulah sikap seorang jenderal. Prajurit TNI, tidak akan pernah bicara saya. Tapi kita. Prajurit tidak akan mengutamakan kelompok. Tapi rakyat. Itu doktrin. Jangankan kepentingan suku. Anak istri saja ditinggal, jika ada perintah turun ke medan perang, demi membela NKRI.

Jadi, jika bicara Indonesia, politik praktis menjadi tidak penting. Apalagi sebagai prajurit memiliki tanggung jawab menjaga harmonisasi masyarakat. Tentara harus menjadi perekat. Benteng pertahanan. Penjaga keseimbangan. Dan ujung tombak kerukunan. Saya meyakini. Itu yang menjadi landasan Ketua AS bersedia memimpin KKSS Kaltara. Sebuah paguyuban besar dan dinamis.

Baca Juga :  Jangan Rusak Masa Mudamu, Demi Masa Depan yang Cerah

Keinginan Ketua AS berkecimpung di KKSS menggambarkan Ia bukan prajurit egois. Yang hanya memikirkan diri sendiri. Mau bukti? Lihat itu bintang dipundaknya. Bintang itu menjadi garansi, karier militernya bakal bersinar. Apalagi masa dinas militernya, cukup panjang. Bekerja normatif, sesuai tupoksi. Menjalankan semua perintah pimpinan. Kariernya bisa menjulang.

Tapi, Ia memilih main “becek-becekan.” Mengurus paguyuban. Yang sudah pasti, waktunya akan banyak tersita. Bebannya semakin berat. Tanggung jawabnya bukan sekadar menjadi mata-mata Negara. Kini dia ditantang, harus mampu mengayomi dan menjadi orang tua warga KKSS. Yang tidak kalah pentingnya, Ketua AS dituntut harus mampu mensejahterakan warga KKSS.

Tujuan mensejahterakan warga KKSS sudah terlihat jejaknya saat palantikan di Tarakan Plaza, Minggu pagi. Tidak ada jargon politik yang menggema di acara itu. Buktinya, tidak ada satu pun politisi Jakarta asal Sulsel yang diundang. Kecuali Ketua DPP dan Sekjen. Ia malah menghadirkan DR Sakaruddin, Direktur Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (LP Malindo). Pakar dan pelaku UMKM yang sudah terkenal di Sulawesi Selatan. Untuk memberi motivasi kepada seluruh anggota KKSS, bahwa peluang ekonomi masih terbuka luas disektor UMKM.

Baca Juga :  Dukungan Gubernur

Ini awal yang baik. Mengembalikan paguyuban ke khitahnya. Bukan sebagai kendaraan politik lagi. Tapi, menjadi kawah candra dimuka dan pusat pengembangan ekonomi kerakyatan. Jika warga KKSS maju secara ekonomi, pasti akan berimbas terhadap perekonomian Kaltara. Sehingga, pepatah dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, bukan hanya menjadi slogan belaka. Namun menjadi nyata.

Tidak kalah pentingnya adalah paguyuban sebagai ujung tombak menjaga kerukunan. Ini tentunya sejalan dengan tugas pokok Jenderal AS sebagai Kabinda. Lembaga ini ditugasi Negara bekerja secara senyap, salah satunya menjaga harmonisasi. Ibarat Coto Makassar, Jenderal AS adalah koki berpengalaman meracik bumbu, daging dan buras untuk disantap. Ia sangat tahu dinamika dilapangan sebagai Jenderal. Dan akan cepat meredam asap sebelum menjadi api, kerena Ia seorang Ketua. Yang untung siapa? Bukan hanya warga KKSS. Tapi kita sebagai warga Kaltara.

Selamat bertugas Jenderal AS. Selamat mengabdi Ketua AS. Selamat berjuang tetanggaku. (pai)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *