oleh

Tidak Ramah Lingkungan, Warga Bunyu Keluhkan Nelayan Luar Gunakan Alat Tangkap Trawl

benuanta.co.id, BULUNGAN – Setelah masyarakat nelayan di Kampung Baru Desa Mangkupadi yang mengeluhkan adanya aktivitas bom ikan yang meresahkan. Kali ini keluhan serupa dari nelayan Pulau Bunyu, namun yang menjadi permasalahannya ada nelayan dari luar Bunyu yang menggunakan alat tangkap trawl dan pukat yang tidak ramah lingkungan.

“Nelayan di Kecamatan Bunyu minta kepada Pemda dan pihak terkait agar menindak oknum nelayan dari luar Bunyu yang beroperasi di wilayah 4 mil dari pinggir pantai menggunakan alat tangkap Trawl, Pukat Kuraw dan Pukat Ampas,” ungkap Plt Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan, Errin Wiranda.

Informasi yang diterimanya saat pertemuan dengan masyarakat Kecamatan Bunyu dengan Tim Pemantauan, Pengawasan Keamanan di Wilayah Kabupaten Bulungan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bunyu Selatan. Nelayan yang menggunakan alat tangkap terlarang ini sudah lama beroperasi. Sehingga membuat nelayan yang biasanya menggunakan alat tangkap ramah lingkungan, pendapatannya berkurang.

Baca Juga :  HUT Bulungan dan Tanjung Selor, Birau Tetap Terlaksana Sesuai Prokes  

“Keberadaan alat tangkap ikan berkapasitas besar itu mengancam para nelayan Bunyu yang selama ini menggunakan alat tangkap ikan yang ramah lingkungan seperti jala, bubu, pukat dan pancing,” jelasnya.

Dalam pertemuan yang menghadirkan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan serta pihak Polres Bulungan, Kodim 0903 Bulungan dan Subden Pom Bulungan bersama Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Bunyu. Nelayan meminta agar dibuat kluster atau pembagian wilayah penangkapan ikan antara nelayan Bunyu dengan nelayan di luar Bunyu sehingga tidak mengurangi hasil tangkapan nelayan lokal yang memakai alat tangkap sederhana dengan daya jelajah rendah tapi ramah lingkungan tersebut.

Tak hanya itu, nelayan Bunyu juga mengaku menemukan nelayan dari luar Bunyu menggunakan alat tangkap ikan yang telah dimodifikasi yang dikhawatirkan dapat merusak terumbu karang dan ekosistem biota laut di sekitar perairan Bunyu.

Baca Juga :  PLN Minta Lahan PLTD Long Peso, Syarwani Akan Bahas Lebih Lanjut 

“Setelah memantau dan mendengar langsung kendala serta masalah yang dihadapi kelompok nelayan dan masyarakat Bunyu, kita dari tim selaku perpanjangan tangan pemerintah daerah tentu akan berupaya mencari solusi terbaik,” ucapnya.

Lebih lanjut, nelayan Pulau Bunyu juga telah membangun rumpon dengan tujuan menarik gerombolan ikan agar berkumpul di sekitar rumpon. Hal ini supaya ikan mudah untuk ditangkap serta sebagai rumah sementara agar nelayan Bunyu tidak menangkap ikan keluar dari perairan di sekitar Pulau Bunyu.

Disampaikan pula adanya pembalakan hutan Mangrove yang membuat nelayan tidak dapat memperbaharui perahu sebagai sarana utama melaut. Masyarakat nelayan Bunyu juga berharap adanya bantuan perahu dan renovasi rumah dari pemerintah daerah serta pembangunan fasilitas terkait TPI yang dinilai sudah tidak layak.

Baca Juga :  Jalan Depan Mako Brigif 24/BC Segera Diperbaiki

“Terdapat 22 kelompok nelayan di Bunyu dan terdaftar 350 nelayan di mana 250 nelayan merupakan nelayan aktif yang mengunakan alat tangkap ramah lingkungan. Kita juga minta agar mempertahankan dan menjaga ekosistem biota laut di perairan,” paparnya.

Untuk diketahui, sudah ada Keputusan Presiden Nomor 39 Tahun 1980 tentang Penghapusan Jaring Trawl.  Kemudian ada Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan (KP) Nomor 59 Tahun 2020 tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia dan Laut Lepas, yang membolehkan penggunaan alat tangkap yang sebelumnya dilarang oleh Permen KP Nomor 71 Tahun 2016 sekaligus menganulir Permen KP Nomor 2 Tahun 2015 tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkap Ikan Pukat Hela (trawl) dan Pukat Tarik (seine nets). (*)

Reporter: Heri Muliadi

Editor : Nicky Saputra

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed