oleh

Muhammad Ramli, Guru Motivator Literasi Kaltara

BELAJAR SECARA OTODIDAK, 47 BUKU KARYANYA JUGA DIITERBITKAN OLEH TIGA NEGARA BERBEDA

ERA globalisasi menjadi zaman yang paling memiliki persaingan kompetitif dan membuat generasi Indonesia harus membekali diri dengan keterampilan dan kompetensi pengetahuan yang banyak dari berbagai aspek kehidupan, serta kemapuan berkomunikasi yang baik. Tingkat literasi yang tinggi akan menciptakan generasi muda cerdas, yang memiliki daya pikir lebih kreatif dan inovatif

Seperti sosok tak padam semangat, dan bersikeras dalam menggapai cita-cita dengan alat belajar seadanya. Muhammad Ramli namanya, pria berdarah ‘Indo-Malay’ ini dapat menjadi teladan bagi setiap pemuda di tanah air. Kemampuan dalam bidang literasi rasanya sangat perlu diacungi dua jempol.

Pria kelahiran 7 Februari 1981 ini berlatarbelakag Sarjana Pendidikan Islam, di Institut Agama Islam Muhammadiyah Sinjai, Sulawesi Selatan. Orang tuanya pun dulunya adalah seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI), namun hal itu tidak menjadikannya patah untuk tetap berkarya.

Baru-baru ini, pria yang akrab disapa Ramli itu berhasil lolos dalam program yang diselenggarakan oleh Forum Indonesia Menulis secara nasional dengan menyisihkan sebanyak 5.411 peserta dari seluruh Indonesia.

Baca Juga :  Lantik 60 Pengurus Karang Taruna KTT, Ibrahim Ali : Samakan Presepsi dan Misi Pemkab

Ramli pun berbagi cerita kepada tim benuanta.co.id, dalam perjalananya mengikuti lomba tentunya tidak mudah menyerah. Menyisihkan 5.000an peserta tentu bukanlah perkara mudah. Ramli mengikuti proses seleksi berkas hingga dihadapkan pada 6.411 peserta, dan harus membuat karya ilmiah berupa tulisan dengan waktu lima hari. Singkat cerita, masa yang dinanti-nanti olehnya tiba juga. Dengan perasaan sedikit gugup, akhirnya tulisan yang ia kirim membuatnya terpilih menjadi satu-satunya “Guru Motivator” yang membawahi wilayah kerja di Kalimantan Utara.

“Nanti ada coacing itu pelatihan sebelum diterjunkan, jadi nanti wilayah terjunnya itu di Kalimantan Utara. Ke sekolah-sekolah, baik secara khusus kepada siswa dan guru maupun umum,” ujarnya.

Dalam semangat juangnya di bidang literasi, pria kelahiran Malaysia ini mengaku mulai menyukai literasi khususnya membaca, semenjak masih duduk di bangku sekolah. Sayangnya pada masa itu ia tidak mendapat fasilitas pendukung dalam bidang literasi khususya buku.

Baca Juga :  Lantik 60 Pengurus Karang Taruna KTT, Ibrahim Ali : Samakan Presepsi dan Misi Pemkab

Waktu berselang, akhir tahun 2013, Ramli mulai menyukai literasi di bidang tulisan dan mulai memberanikan diri untuk menulis. Dengan penuh rasa percaya diri ia belajar secara otodidak yang hanya mengandalkan buku, sebagai patokannya dalam menulis. Ia mengaku, untuk belajar menulis pada waktu itu tidak secanggih sekarang yang dengan mudah bisa menemukan mentor pada platform sosial media.

Suka duka ia rasakan dalam menulis, hingga sampai saat ini sudah menerbitkan sebanyak 47 buku secara solo maupun antologi. Buku yang ia tulispun diterbitkan oleh tiga negara berbeda yakni Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Tak hanya prestasi besar, ia juga memiliki pribadi yang ramah dan taat dalam beribadah. Hingga tak jarang orang senang melihatnya.

Sisi keramahan pada sosok Ramli, ia dengan senang hati membuka kelas menulis bernama “Kelas Antologi Menulis Bersama Muhammad Ramli”. Di sini juga ia bersama teman seperjuangannya membuat tulisan dan menghasilkan sebuah buku antologi.

Baca Juga :  Lantik 60 Pengurus Karang Taruna KTT, Ibrahim Ali : Samakan Presepsi dan Misi Pemkab

“Buku solo sekitar 20an, selebihnya itu antologi dan saya buat kelas sendiri jadi namanya Kelas Antologi Menulis Bersama Muhammad Ramli. Jadi teman-teman yang waktu itu ingin menulis kita bisa buat berbarengan,” tuturnya.

Kepada benuanta.co.id, Ramli melanjutkan cerita tentang sosok yang ia kagumi di masa kelam, yakni Rasulullah S.A.W. Kekagumannya ia kepada Nabi Muhammad ini semakin membuatnya bertekad untuk semangat dalam menghadapi segala cobaan dan rintangan dalam kehidupan. Kekagumannya terhadap Nabi bergelar Ulul Azmi ini membuatnya mampu menemukan dan mendirikan Komunitas Islam Menulis yang ia dirikan tahun 2016 lalu.

Terlepas dari semua prestasi yang dimiliki, Ramli tetap mengedepankan literasi sebagai sumber belajarnya. Di mana ia akan menemukan sebuah keilmuan dari dunia literasi. Hal yang selalu ditanamkannya adalah literasi sangat penting, dan literasi sebagai akar dari hidup didunia. (*)

Reporter : Endah Agustina

Editor : Yogi Wibawa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *