oleh

Laut Bukan Tong Limbah

KALIMANTAN Utara (Kaltara) yang merupakan wilayah dengan perairan tak terlepas dari pencemaran berbagai limbah. Maulai dari limbah cair hingga limbah padat yang tentunya sulit didaur ulang dengan mudah ditemukan. Terlebih limbah – limbah ini pun bukan tak berdampak, yakni merusak berbagai habitat serta mempengaruhi hasil tangkap nelayan. Tentu hal ini harus menjadi perhatian semua pihak. Jika terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin akan sulit mengatasi permasalahan limbah ke depannya.

Kesadaran masyarakat terhadap lingkungan terbilang masih sangat kurang. Berbagai jenis limbah padat atau sampah masih mudah ditemukan di perairan. Terlebih di wilayah Nunukan dan Tarakan yang merupakan kepulauan. Limbah padat yang seharusnya dibuang di darat, sejak lama beralih ke perairan. Hal itu dikarenakan kebiasaan yang terbiarkan, ditambah kurangnya sosialisasi terhadap dampak – dampak limbah padat maupun cair tersebut bagi perairan.

Meski limbah cair terbilang merusak, namun kasus pencemaran masih di bawah limbah padat rumah tangga yang hampir setiap hari bertambah. Hal itu didukung dengan meningkatnya jumlah penduduk setiap tahunnya. Maka tak mengherankan bila limbah padat makin hari semakin mudah ditemukan, dan mempengaruhi berbagai aspek di sektor perikanan. Salah satunya rute tangkap nelayan semakin jauh ke laut.

Menjadikan daerah perairan sebagai alternatif tempat buang sampah ini sudah menjadi perhatian berbagai instansi. Bahkan, edukasi tidak buang sampah di laut tak hanya kepada masyarakat juga kepada kapal yang lalu-lalang di perairan Kaltara. Sebab, sebelumnya tak jarang ditemui sampah yang berserakan di pesisir pantai juga disumbang dari kapal yang melintas. Yakni sampah plastik yang sulit terurai.

Mengenai limbah padat tak hanya botol plastik, juga berbagai sampah berjenis plastik lainnya yang sulit terurai di laut. Koran Benuanta melakukan pemantauan ke beberapa wilayah pesisir Tarakan untuk membuktikan pencemaran limbah padat tersebut. Ditemukan berbagai limbah padat mengambang di sepanjang garis pantai bila air pasang besar, dan berlangsung kurang lebih satu pekan.

Limbah padat tersebut pun tak hanyut di satu tempat, melainkan hanyut terbawa arus dan masuk ke bawah kolong rumah warga yang bermukim di pesisir. Semakin hari, limbah padat plastik ini terus menumpuk bahkan saking padatnya tak lagi hanyut jauh jika air pasang besar tiba. Sampah – sampah tersebut akhirnya berdiam di kolong rumah, jembatan, dan sungai.

Masyarakat yang melihat hal itu pun tak ambil pusing dengan keadaan lingkungannya. Bahkan, tak jarang Koran Benuanta temui warga membuang sampah dengan volume kecil di samping rumah yang merupakan sungai atau masih kawasan perairan. Jika hal itu terus menerus dibiarkan, bukan tidak mungkin berakibat dengan lingkungan dan kesehatan.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kaltara, Hamsi menjelaskan pembuangan limbah cair ke laut menjadi perhatian serius pihaknya selama ini. Perusahaan yang berada di pesisir pun tak luput dari sosialisasi DLH Kaltara agar tak melakukan pencemaran limbah, atau membuang limbah tanpa ada izin kepada pihaknya. Pun demikina, masih ada sebagian kecil perusahaan yang terbukti membuang limbah ke laut, pihaknya langsung melakukan pemanggilan disertakan sanksi sesuai Peraturan Menteri terkait sampah yang sudah diatur dalam undang-undang.

“Sejauh ini belum ada juga izin yang diajukan kepada kita (DLH Kaltara) dari perusahaan penghasil limbah ini. Seperti perusahaan di Tarakan yang kita surati dan beri teguran karena terbukti membuang limbah cair ke laut,” terangnya.

Pencemaran limbah cair, lanjut Hamsi, paling mudah diketahui melalui kasat mata seperti buih dan perubahan warna air laut. Pencemaran dari limbah cair itu jelas berdampak bagi perairan dan habitat di dalamnya. Dampak yang paling sering ditemui dari pencemaran limbah cair adalah rusaknya budidaya rumput laut, dan berpengaruh dari segi tangkapan ikan.

“Berbeda halnya dengan limbah cair, limbah padat ini perlu edukasi dan sosilaisi kepada masyarakat. Karena biar bagaimanapun limbah padat ini tidak bisa dibiarkan lama,” tukasnya.

Edukasi limbah padat yang diberikan kepada warga, menurut dia sudah dijalankan dengan baik oleh. Seperti yang dilakukan warga Tarakan dan Nunukan yang mulai memilah limbah padat plastik menjadi hal yang bernilai ekonomis, serta dimanfaatkan sebagi pelampung budidaya rumput laut. “Kita juga sudah minta setiap DLH kabupaten/kota melakukan bersih pantai terutama Tarakan dan Nunukan,” tegasnya.

Menanggulangi limbah padat di laut, menurut Hamsih harus dimulai dari kesadaran masyarakat di darat. Jika tidak, maka sampah di laut akan terus bertambah dan bakal sulit teratasi. Tak cukup hanya kesadaran masyarakat saja, pemanfaatan limbah padat organik dan non organik juga perlu dilakukan.

Sama halnya dengan limbah cair, limbah padat juga sangat mempengaruhi hasil tangkap nelayan yang semakin jauh mencari ikan. Keberadaan limbah padat akan merusak berbagai habitat hidup yang seharusnya bisa dimanfaatkan keberlangsungnnya oleh masyarakat.

Kepala Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Tarakan, Ahmadon mengungkapkan pencemaran limbah di laut tidak boleh dibiarkan dan perlunya kerjasama seluruh elemen agar pencemaran limbah laut segera dapat teratasi. Salah satu yang diharapkannya, seperti melakukan rutinitas bersih pantai setiap bulannya. Begitu juga dengan edukasi dan sosialisasi yang terus dulakukan agar kesadaran masyarakat terhadap lingkungan tumbuh dengan baik.

“Ada masanya air pasang tinggi dan rendah. Dipasang rendah ini perlu kita bergerak untuk melakukan pembersihan. Ada waktu luang untuk kita, masih panjang waktunya kenapa tidak kita fokus untuk melakukannya,” harapnya.

Ia pun tidak mempungkiri hasil tangkap nelayan akan terus berpengaruh bila tidak ada kesadaran untuk membersihkan sampah dari laut. Beragamnya sampah laut yang hanyut di pesisir pantai masih didominasi sampah plastik. Untuk sampah alam, kata Ahmadon bukan sebauah yang harus dikhawatirkan lantaran sampah alam bisa membusuk dan terurai dengan sendirinya.

“Kalau sampah plastikan tidak bisa terurai. Maka kembali lagi, kesadaran masyarakat adalah jalan terbaik untuk mengatasi permasalahan sampah-sampah plastik di laut,” tuturnya.

Menganai sampah yang mencemari laut bukan menjadi isu lokal, bahkan pencemaran sampah di laut ini menjadi isu global hingga saat ini. Keberadaan sampah di laut bukan suatu hal yang baik untuk keberlangsungan habitat maupun masyarakat. Sebab, sekecil apapun limbah padat yang ada di laut besar kemungkinan berpengaruh terhadap habitat hidup di dalamnya.

Ketua Persatuan Nelayan Tradisional Indonesia (PNTI) Kaltara, Rustan mengakui tangkapan nelayan turun drastis dalam kurun waktu lima tahun belakangan. Hal itu tak lain diksebabkan limbah cair dan padat yang mengarungi perairan Tarakan. Menurutnya, limbah cari seperti bongkar muat batu bara dan kelapa sawit cukup menganggu habitat laut sehingga berdampak pada pendapatan nelayan.

“Dulu sebelum maraknya pencemaran ini, nelayan bisa dapat 30 kg sekali jalan. Sekarang sudah jarang ditemui nelayan yang bisa dapatkan sebesar itu,” tandasnya.

Ia berharap, bentuk limbah apapun tidak lagi dibuang ke laut agar nelayan tak pergi terlalu jauh untuk mencari tangkapan. Selain risiko, biaya menuju ke perairan yang jauh untuk mencari ikan juga perlu biaya lebih. Sebaliknya, harga tangkapan saat ini tak berbanding dengan hasil dan modal yang akan dikeluarkan berikutnya.

Sudah semestinya seluruh sektor memperhatikan kondisi pencemaran limbah di laut, agar laut tak terus menerus menjadi alternatif pembuangan berbagai limbah. Jika hal itu terus dilakukan, akan menjadi suatu budaya yang akan terus menerus dilakukan hingga generasi berikutnya. Pemahaman kepedulian terhadap lingkungan harus ditanamkan sejak dini untuk mencegah pencemaran laut yang lebih merusak di masa yang akan datang. (nik/gik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *