oleh

Hoaks dan Penipuan yang Jual Nama Pejabat di Kaltara Kian Marak 

benuanta.co.id, TARAKAN – Beredarnya isi percakapan melalui WhatsApp Messenger yang mengatasnamakan Wakil Walikota dan Sekretaris Daerah Kota Tarakan membuat keresahan tersendiri bagi masyarakat maupun pejabat terkait.

Isi percakapan tersebut berasal dari dari nomor tak dikenal yang mengaku sebagai pejabat terkait dan meminta donasi ke beberapa masjid di Kota Tarakan.

Sebelumnya, Wakil Walikota Tarakan, Effendi Djuprianto telah membuat edaran di sosial media bahwa ia secara pribadi maupun dari Pemkot Tarakan tidak pernah memiliki program untuk meminta donasi ke masjid-masjid di Tarakan.

“(Saya) tidak pernah menghubungi siapapun untuk meminta donasi bagi tempat ibadah di kota Tarakan maupun sumbangan dalam bentuk apapun. Terimakasih” tulis Wakil Walikota Tarakan, Effendi Djuprianto dalam unggahannya di laman Facebook @humastarakan.

Baca Juga :  Kunjungan Perdana Usai Dilantik, Wagub Sambut Hangat Pangdam VI/Mulawarman

Hal senada juga diungkapkan Sekretaris Daerah Kota Tarakan, Hamid Amren yang menegaskan bahwa bahwa surat yang terlampir sangat jelas adanya unsur penipuan yang mengatasnamakan mereka.

“Itukan jelas penipuan, KOP surat salah, tanda tangan saya juga salah, NIP saya salah juga yang paling penting ya masyarakat jangan sampai percayalah,” ujar Hamid Amren kepada benuanta.co.id, Kamis (19/8/2021).

Atas kejadian tersebut, Hamid mengaku ada beberapa orang yang menghubunginya untuk sekadar mengkonfirmasi kebenaran surat tersebut.

“Ya ada beberapa juga tapi kontaknya saya tidak kenal, mereka mengkonfirmasi aja bertanya. Yang pertama saya diinfokan masjid Hujan Assalam. Saya langsung balas itu tidak betul, penipuan,” imbuhnya.

Baca Juga :  Dewas RSUD Sebut Peningkatan Pelayanan Sedang Digodok

Dalam sepekan ini, kasus serupa juga dialami Kasi Intel Kejaksaan Negeri(Kejari) Malinau, Slamet Riyoni, SH,.MH yang mana foto dan namanya digunakan oknum tak bertanggung jawab melalui aplikasi media sosial WhatsApp.
Kendati belum diketahui motif dari pelaku, kasi intel yang akrab disapa Slamet menduga oknum itu sengaja menggunakan identitasnya untuk melakukan hal yang tidak baik.
“Motif aslinya belum kita tahu, karena pejabat yang dihubungi pelaku langsung menghubungi saya untuk memastikan kebenarannya. Sehingga pejabat yang dihubungi pun tidak merespon pesan pelaku,” beber Slamet Riyoni, Rabu (18/8/2021).

Dikonfirmasi secara terpisah, Kanit 1 Subdit 5/Siber Ditreskrimsus Polda Kaltara, Ipda Yazwar menerangkan bahwa saat ini pihaknya belum menerima laporan dari korban penipuan yang mengatasnamakan para pejabat terkait.

Baca Juga :  Mengenal SOBAT-PS, Inovasi Pelayanan dari Dinas Kehutanan Kaltara

“Terkait penggunaan identitas tersebut saat ini kami sifatnya monitoring saja. Kalau yang bersangkutan keberatan bisa melapor, tapi ini belum ada laporan,” kata Ipda Yazwar.

Perwira balok satu ini pun menjelaskan, pelaku juga dapat terjerat Undang-undang Siber khususnya ITE pasal 51 Ayat (1).

“Kalau menurut undang-undang siber khususnya ITE bisa kena pasal ya 51 Ayat 1, kalau dia menggunakan data milik orang lain ancaman hukumannya bisa sampai 12 tahun penjara,” pungkasnya. (*)

Reporter : Endah Agustina

Editor : Yogi Wibawa/Ramli

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *