benuanta.co.id, TARAKAN – Tinggal sebatang kara di sebuah gubuk berukuran 4×3 meter persegi, keberadaan Nenek Senang (80) sungguh memprihatinkan. Pasalnya pondok kayu yang dihuninya itu tepat di pinggir lereng sungai yang rentan terkena longsor.
Nenek asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan ini menggantungkan hidupnya dari belas kasih orang-orang yang mengetahui keberadaanya. Tak banyak pula orang-orang ‘baik’ yang memberinya bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Saat kediamannya Jalan Bhayangkara Kelurahan Karang Anyar atau biasa disebut Pasir Putih itu disambangi benuanta.co.id, Nenek Senang tampak sudah tak bisa banyak beraktifitas. Saban hari pula ia hidup dengan ayam dan kucing, yang tak lain adalah hewan peliharaannya. Sama halnya berbagi makan dan tempat untuk tidur bersama kedua hewan tersebut.
Walaupun huniannya tak layak huni, lansia ini bersikukuh tak ingin angkat kaki dari pondok yang ia bangun dengan biaya Rp200 ribu.
“Beginilah orang susah nak. Kalau pun rumah ku roboh hanyut ke sungai, saya berserah saja sama Tuhan. Tapi Alhamdulillah, sampai sekarang aku aman aja di sini. Kalau ada yang mau bantu dan suruh pindah, saya tidak mau karena tidak ingin menyusahkan orang lain,” ungkapnya.
Saat ini Nenek Senang juga sudah tak memiliki siapa pun lagi di Tarakan, usai suaminya meninggal dunia sepuluh tahun silam. Buah dari pernikahannya dulu ada dikaruniai seorang anak. Hanya saja sejak lahir, anak semata wayangnya tersebut sudah diberikan kepada orang tua Senang untuk dibesarkan sewaktu ia dan suaminya masih berada kampung halaman.
“Mungkin orang berfikir, aku ini bagaimana ya cara bertahan hidup ? Tapi rezeki dari orang-orang banyak sekali yang mengantar sembako ke sini. Aku nggak perlu pusing, beginilah hidup sudah ada yang atur, aku tetap bersyukur,” tuturnya.
Tinggal di pinggiran sungai, gubuk miliknya juga tidak memiliki fasilitas kamar mandi atau toilet layaknya rumah pada umumnya. Beruntung, di dalam gubuk tersebut masih terdapat kemasan bantuan sosial yang kerap kali disalurkan oleh pihak-pihak yang peduli terhadap nasib Nenek Senang.
“Sudah 13 tahun aku tinggal di pondok ini, banyak yang mau kasih tempat tinggal tapi saya menolak. Lebih baik kalau pemerintah mau renovasi pondok ku itu lebih baik. Kalau pemerintah mau bantu silahkan, kalau tidak juga tidak apa-apa. Saya selalu bersyukur dengan keadaan seperti ini,” pungkasnya. (*)
Reporter : Kristianto Triwibowo
Editor : Yogi Wibawa/Ramli







