benuanta.co.id, TARAKAN – Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kaltara, Hendra Lintung sangat menyangkan sering terjadinya pencurian Tandan Buah Segar (TBS). Hal itu tentu berdampak langsung terhadap pemasukan perusahaan kelapa sawit seperti yang dialami PT Nunukan Jaya Lestari (NJL) di Semenggaris, Kabupaten Nunukan.
“Pemerintah harus menjaga investor yang menanam investasi di Kaltara. Sebab, perusahaan perkebunan memiliki kontribusi besar di daerah. Baik bagi pemerintahan, perpajakan, rekrutmen tenaga kerja juga dari segi pembangunan CSR,” terang Hendra Lintung.
Baca Juga: Masih Berproses Hukum, PT NJL Ingatkan Oknum Pencuri Buah Sawit di Lahan Sengketa Bisa Dipidana
Pembangunan CSR perkebunan kelapa sawit yang sudah dilakukan meliputi tempat ibadah, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur lainnya. Program pembangunan CSR tersebut, kata Hendra dilaporkan setiap tahunnya kepada pemerintah daerah. “Kami mohon untuk pemda atau pemprov bersinergi bersama,” singkatnya.
Mengenai pencurian buah sawit bukan menjadi hal baru di kalangan pengusaha sebab hal itu sudah sangat marak terjadi, terlebih di perusahaan perkebunan sawit di Kabupaten Nunukan. “Ini cukup meresahkan, pemerintah daerah dan kepolisian harus menindaklanjutinya,” pungkasnya.
Kata dia, jika ada warga atau pengepul yang mengakui TBS ia menyarankan untuk membuktikan hal tersebut. Sebab, ada beberapa proses yang harus dijalankan perusahaan untuk benar-benar membeli TBS dari warga atau tengkulak.
“Saya sangat setuju dengan keberadaan perusahaan sawit harus mendukung perkembangan ekonomi daerah setempat. Mengenai buah sawit yang dicuri, sebenarnya ada yang lebih berhak untuk mendapatkan nilai ekonomi juga, yaitu para karyawan kami di perusahaan kelapa sawit,” tuturnya.
Menurut dia, setiap kasus pelaporan pencurian buah sawit kepada pihak kepolisian sebaiknya ditindaklanjuti. Jika tidak, maka kasus pencurian buah sawit akan terus berlanjut dan dikhawatirkan semakin meluas dan berdampak langsung terhadap perusahaan.
“Terlebih daya saing perusahaan perkebunan sangat ketat dari segi pabrik pengolahan. Saat ini kurang lebih ada 17 pabrik yang beroperasi, dengan begitu pasti berlomba untuk mendapatkan TBS dengan cara apapun,” tutupnya. (*)
Reporter : Nicky Saputra
Editor: M. Yanudin







