Angka Kematian Harian Pasien Covid-19 Meningkat, dr. Franky Beberkan Faktornya

benuanta.co.id, TARAKAN – Kasus kematian pasien Covid-19 beberapa hari terus meningkat. Berdasarkan rilis Satuan Tugas Penanganan Covid 19 yang telah dirangkum benuanta.co.id, sebanyak 13 pasein meninggal dunia per tanggal 12 hingga 13 Agustus 2021.

Hal ini tentu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para masyarakat di tengah perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 di Bumi Paguntaka.

Menanggapi tersebut, Plt Direktur Utama RSUD Tarakan dr. Franky Sientoro, Sp.A., menjelaskan beberapa faktor penyebab tingginya angka kematian pasien Corona. Salah satu faktor yang paling menonjol adalah krisisnya ruangan isolasi untuk pasien.

Baca Juga :  Gubernur Kaltara Tekankan Pokir DPRD harus Selaras RKPD dan Bebas Risiko Hukum

“Faktor pertama adalah ruangan, kedua pasien masih menunggu di rumah untuk isolasi. Sedangkan alat saturasi untuk menentukan kadar oksigen itu tidak banyak di masyarakat,” jelasnya kepada benuanta.co.id, Kamis (12/8/2021).

Franky membeberkan, tak sedikit pasien Covid-19 yang datang ke rumah sakit dengan keadaan sesak berat dengan saturasi oksigen hanya 42 persen.

“Mereka (pasien) tidak tau saturasinya. Akhirnya mereka datang ke sini (rumah sakit) dengan kondisi sesak berat, dan kebanyakan yang kami dapat hanya 70 persen saja bahkan 42 persen saturasinya. Sedangkan normalnya itu 90 persen,” bebernya.

Baca Juga :  Tiket Speedboat Tanjung Selor–Tarakan Kini Bisa Dibeli Online

Hal tersebut juga berpengaruh pada kapasitas ruangan pasien Corona di Ruang Tulip RSUD Tarakan dengan kapasitas 120 pasien, yang mana saat ini terdapat 96 pasien mendapatkan perawatan di ruangan itu.

“Tiap hari banyak yang masuk, baik opname maupun isoman rata-rata sekitar 18 pasien perhari untuk kontrolnya dari situ kan bisa kita tentukan harus isoman kah atau dirawat,” jelas Franky.

Baca Juga :  Gentengnisasi Dinilai Tak Bisa Disamaratakan di Kaltara

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kaltara ini menerangkan gelombang kedua pandemi ini terasa lebih berat dibandingkan gelombang pertama.

“Saya sebenarnya tidak berani mengatakan, tapi ini lah kenyataanya memang lebih tinggi dari gelombang pertama. Jadi kita harus tetap waspada dan PPKM harus tetap dilaksanakan,” tandasnya. (*)

Reporter : Endah Agustina

Editor : Yogi Wibawa/Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *