oleh

Butuh Perhatian, Kisah Seorang Nenek Tua Tinggal di Gubuk dan Sering Kelaparan

benuanta.co.id, BULUNGAN – Seorang wanita paruh baya hidup sebatang kara di sebuah gubuk berukuran 2×2 meter di Kecamatan Tanjung Palas. Terlebih, yang bikin miris tak jarang ia harus menahan lapar ketika stok berasnya habis.

Adalah Zahara wanita tua yang mengaku sudah tinggal di gubuk kecil yang terbuat dari seng bekas sejak belasan tahun lalu. Duduk bersila di dalam rumah kecilnya saat benuanta.co.id menyambangi kediamannya pada Sabtu, 7 Agustus 2021.

Zahra mengenakan baju lusuh duduk di atas lantai kayu saat berbincang dengan benuanta.co.id. Diceritakannya, sang suami sudah lebih dulu menghadap Ilahi dan setelah itu, dirinya memutuskan tinggal sendiri di gubuk tersebut.

Baca Juga :  Siti Laela Resmi Pimpin DPD Golkar, Siap Cetak Kader Milenial

“Rumah pertama saya kena musibah kebakaran,” ungkap Nenek Zahara.

Kondisi rumahnya yang sudah reot, atap rumahnya sudah mulai berlubang dan dinding rumahnya sebagian besar hanya tambalan seng bekas dan berupa kain.

“Saya sudah belasan tahun di sini, tanahnya pun menumpang punya orang,” tukasnya dengan nada pelan.

MEMPERHATIKAN : Kondisi rumah Nenek Zahara yang memperihatinkan dan membutuhkan bantuan pemerintah.

Nenek Zahara harus merasakan lapar karena tidak ada beras. Bahkan untuk memenuhi kebutuhannya harus mencari sayuran yang tumbuh di antara semak belukar.

Baca Juga :  Pemprov Berikan Bantuan Sambungan Listrik Gratis ke Warga Kurang Mampu

“Kadang ada juga yang berikan beras, mie instan. Tapi kadang saya tidak makan seharian karena tidak ada beras,” jelasnya.

Ditanyakan soal usianya, ia pun sudah lupa. Dia hanya mengingat sudah ada saat Jepang masih menjajah Indonesia. Ia mengaku berasal dari Mara 1 Kecamatan Tanjung Palas Barat. Bahkan sang nenek juga tidak memiliki identitas berupa Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Pantauan media ini, kondisinya yang memperihatinkan karena sudah tidak bisa berjalan jauh. Dikarenakan kaki mengalami sakit hingga berjalan harus menggunakan tongkat kayu. Pewarta sedikit kesulitan, pasalnya Nenek Zahara tidak fasih berbahasa Indonesia.

Baca Juga :  Disdikbud Kaltara: 3 Bulan PTM, Pelajar Aman dari Covid-19

Gubuk kayunya pun tanpa penerangan PLN bahkan air bersih pun tidak ada. Sehingga dipastikan untuk kebutuhan sehari-harinya seperti air mandi harus menggunakan air parit yang keruh.

Kondisi ini harus mendapatkan perhatian pemerintah baik Pemerintah Kabupaten Bulungan maupun Pemerintah Provinsi Kaltara, agar mendapatkan kehidupan yang layak dengan tempat tinggal yang baik. (*)

Reporter: Heri Muliadi

Editor : Nicky Saputra

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *