oleh

Covid-19 Melahirkan Pengangguran dan Menurunkan Pendapatan

TANJUNG SELOR – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) merilis terkait ketenagakerjaan di Kaltara akibat pandemi Covid-19 masih hingga kini masih melanda Bumi Benuanta. Menurut BPS, pandemi sangat berdampak terhadap ketenagakerjaan di Kaltara seperti lahirnya pengangguran dan hilangnya pekerjaan.

“Di Kaltara ada 528.804 orang sebagai penduduk usia kerja, itu terbagi lagi untuk angkatan kerja mencapai 349.904 orang dan bukan angkatan kerja sebanyak 178.900 orang yang di dalamnya ada 892 orang BAK (Bukan Angkatan Kerja) karena Covid-19,” ungkap Kepala BPS Kaltara, Tina Wahyufitri kepada Benuanta.

Lanjutnya, dari angkatan kerja 349.904 orang ini terbagi 2, yakni 333.561 orang bekerja terdiri dari 229.699 orang pekerja penuh, 78.746 orang pekerja paruh waktu dan 25.116 orang setengah menganggur. Lalu bagian lain angkatan kerja ada 16.343 orang pengangguran. “Dari 178.900 orang BAK ini terdiri 119.900 orang mengurus rumah tangga, 35.760 orang yang sekolah dan 23.180 orang lainnya,” jelasnya.

Tina mengatakan, penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19 pada Februari 2020 sebanyak 71.450 orang, angkanya mengalami penurunan sebanyak 18.500 orang menjadi 52.950 orang pada bulan Februari 2021. “Kalau kita lihat dampak terbesar di Covid-19 ini adalah di pengurangan jam kerja. Hal ini perlu menjadi perhatian dinas terkait karena pengurangan jam kerja ini berhubungan dengn penghasilan,” jelasnya.

Kemudian untuk tingkat pengangguran terbuka (TPT) dalam pantauannya di Kaltara pada Februari 2021 mencapai 4,67 persen atau sebanyak 16.343 orang. Terjadi penurunan dari Agustus 2020 dalam angka 4,97 persen dan Februari 2020D sebesar 5,71 persen. “Di mana penyebab penurunan ini, pada Agustus 2020 pengangguran laki-laki dari 5,09 persen menjadi 4,23 persen di Februari 2021. Lalu pengangguran perempuan di Agustus 2020 ada 4,73 persen di Februari 2021 menjadi 5,48 persen,” bebernya.

Kata dia, TPT skala Provinsi, Kalimantan Utara berada di bawah level Indonesia yang angkanya mencapai 6,26 persen. “TPT tertinggi tercatat di Provinsi Kepulauan Riau sebesar 10,12 persen dan terendah di Provinsi Sulbar hanya 3,28 persen,” sebutnya.

Pada bulan Februari 2021, penduduk umumnya bekerja pada  lapangan usaha Pertanian (A) sebesar 31,59 persen, berikutnya adalah perdagangan (G) sebesar 16,27 persen dan Administrasi Pemerintah (O) sebesar 8,47 persen.

Sementara itu, BPS Kabupaten Bulungan menyebutkan presentase angka kemiskinan di Kabupaten Bulungan tahun 2020 meningkat, ini efek dari pandemi Covid-19. Padahal tahun sebelumnya mengalami penurunan. “Angka kemiskinan tahun 2020 itu mencapai 9,06 persen, naik karena pengaruh pandemi Covid-19,” ungkap Kepala BPS Bulungan, Maibu Barwis Sugiharto.

Padahal 5 tahun terakhir mengalami penurunan, kecuali untuk tahun 2016 presentase penduduk miskin di Kabupaten Bulungan sebesar 8,99 persen. Kemudian tahun 2017 naik 9,93 persen, di tahun 2018 turun sebesar 9,44 persen, tahun 2019 sebesar 8,78 persen dan naik di tahun 2020 sebesar 9,06 persen.

“Untuk tahun 2021 ini kami masih melakukan survei sehingga hasilnya belum dirilis. Kalau dari data 2017 sampai 2019 sebenarnya angka kemiskinan terus turun,” ucapnya.

Dia mengatakan, kenaikan presentase penduduk miskin ini tak hanya dirasakan oleh Kabupaten Bulungan tapi seluruh daerah bahkan di seluruh Indonesia. Terlebih pandemi Covid-19 yang belum ada tanda untuk berakhir maka berdampak pada dunia. “Jadi tak hanya Indonesia saja seluruh dunia mengalami peningkatan angka kemiskinan,” bebernya.

Maibu menuturkan, dampaknya dari peningkatan angka kemiskinan ini terjadi penambahan pengangguran. BPS mencatat di tahun 2018 angka orang yang menganggur sebesar 4,86 persen, ada penurunan di tahun 2019 hanya 4,39 persen. Lalu di tahun 2020 pengangguran mencapai 4,45 persen. “Tahun 2020 naik disinyalir faktor Covid-19 dan pemutusan hubungan kerja (PHK),” ujarnya.

Dia menambahkan, orang dikatakan miskin jika minimal kalori yang di konsumsi tidak mencukupi. Pasalnya dikatakan seseorang tidak miskin jika perhari mengomsumsi kalori minimal 2.100 kilo kalori. “Kalau di atas 2.100 kilo kalori maka tidak miskin karena sudah mampu bekerja dan mencari nafkah,” tuturnya.

Sementara hasil sensus penduduk tahun 2020 Kabupaten Bulungan, jumlahnya mencapai 151.844 jiwa. Dimana laju pertumbuhan penduduk per tahun dari tahun 2010 hingga 2020 mencapai 2,93 persen. “Jadi penduduk Bulungan bertambah sebanyak 39.181 jiwa dan menempati 21,64 persen dari seluruh penduduk Kaltara,” pungkasnya. (mul/ram/nik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *