oleh

Apresiasi Tanam Padi Metode Hazton, Gubernur Pesan Tak Perlu Khawatir Pemasaran Hasil Panen

TANJUNG SELOR – Untuk kali pertama Kalimantan Utara (Kaltara) melakukan penanaman padi dengan metode hazton. Penanaman ini dilakukan secara simbolis di Desa Sajau Hilir, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Sabtu (26/6/2021).

Progam tanam padi metode hazton merupakan pilot project Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltara bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Bulungan, Kodim 0903 Tanjung Selor dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kaltim, yang dihadiri Gubernur Kaltara, Drs. H. Zainal Arifin Paliwang, SH, M.Hum.

Kepala Kantor Perwakilan BI Kaltara, Yufrizan mengatakan, penanaman padi dengan metode hazton diadopsi dari Dinas Pertanian di Kalimantan Barat (Kalbar).

“Di daerah lain, metode tanam padi hazton sudah sukses dilakukan selain di Kalbar, di Kaltara masih percobaan maka dilakukan pilot project,” kata Yufriza dalam sambutannya.

Yufriza menjelaskan, pilot project tanam padi hazton sudah dilaporkan kepada Gubernur Kaltara dan Bupati Bulungan Syarwani.

Untuk menyukseskan tanam padi metode hazto tersebut, saat ini beberapa kelompok tani di Sajau Hilir sudah mendapatkan pelatihan dari BPTP Kaltim dan penemu metode hazton dari Kalbar.

Baca Juga :  BPBD Kaltara dan BPBD KTT Semprotkan Desinfektan dan Bagikan Ribuan Masker ke Masyarakat

“Karena pilot project-nya sudah kita laporkan, semoga dari pemerintah daerah khususnya Bupati Bulungan dan Gubernur Kaltara dapat menindaklanjuti program ini,” jelas Yufriza.

Yufriza menyebutkan, berdasarkan data pada 2020, kebutuhan akan beras di Kaltara mencapai 59 ribu ton. Sedangkan hasil produksi beras di Kaltara hanya mencapai 19 ton pada tahun 2020, sehingga kekurangannya harus didatangkan dari Pulau Jawa dan Sulawesi.

“Akibatnya di Kaltara terjadi inflasi dan gejolak harga dikarenakan pasokan yang minim. Maka dari itu BI berikhtiar meningkatkan produktifitas beras di Kaltara, khususnya di Bulungan,” terangnya.

Saat ini, lanjut Yufriza, produktivitas padi per hektare di Kaltara masih di bawah standar nasional, yakni berkisar 3 sampai 4 ton per hektare.

Dengan adanya metode tanam padi hazton ini diharapkakan mampu meningkatkan produktivitas padi di Kaltara setiap hektarenya menjadi 5 sampai 9 ton.

“Target kami jika ibu kota di Kaltim sudah dapat berjalan, Kaltara ini bisa menjadi salah satu daerah lumbung pangan sebagai penyuplai beras,” harapnya.

Baca Juga :  Berlayar Selama 99 Hari, KRI Bima Suci Kembali Berlabuh di Tarakan

Selain melakukan penanaman padi metode hazton perdana di Desa Sajau Hilir, BI Kaltara bersama Bupati Bulungan dan Kodim 0903 Tanjung Selor melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), terkait kerja sama tanam padi metode hazton yang disaksikan Gubernur Kaltara.

Langkah yang diambil BI Kaltara ini diapresiasi oleh Gubernur Zainal. Melalui metode itu diharapkan terwujudnya kesejahteraan para petani, apalagi metode ini sudah banyak diterapkan di 3 negara dan 24 lebih provinsi di Indonesia.

“Mudah-mudahan metode ini dapat berhasil dengan baik di Kaltara, sehingga dapat membawa kesejahteraan bagi petani di Kaltara,” ucap Gubernur Zainal.

Jika hasil produktivitas tanam padi metode hazton di Bumi Benuanta melimpah, Gubernur Zainal memastikan para petani di Kaltara khususnya, tidak perlu khawatir untuk menjual hasil panennya.

Dari Pemprov sendiri, saat ini sudah membuat terobosan agar hasil panen petani di Kaltara dapat terserap dengan maksimal.

“Jadi belum lama ini saya sudah kumpulkan pengusaha sawit di seluruh Kaltara, saya tanya mereka berapa ton per bulan konsumsi beras untuk para pekerjanya yang banyak itu,” beber Gubernur Zainal.

Baca Juga :  MKJ Fokus Kejar Wilayah Kerja Lain untuk Pendapatan Asli Daerah

“Belakangan diketahui konsumsi beras untuk perusahaan sawit di Kaltara rata-rata berkisar 2 ton, di situ langsung saya perintahkan pengusaha sawit untuk tidak lagi membeli beras dari luar, tapi wajib mengonsumsi beras lokal yang ada di Kaltara,” tambahnya.

Tinggal ke depannya, Gubernur Zainal menuturkan, bagaimana caranya petani di Kaltara meningkatkan hasil panennya. Karena, jika satu perusahaan saja mengonsumsi 2 ton beras dalam sebulan, artinya dari 57 perusahaan sawit yang hadir paling tidak petani di Kaltara harus bisa menghasilkan padi ratusan ton per bulan.

“Tinggal dari petaninya lagi, mampu apa tidak memproduksi padi dalam jumlah besar, selain itu saya juga sudah bersurat dengan Menteri Pertanian agar ke depan bisa menggelontorkan program dari pusat untuk petani di Kaltara,” pungkasnya. (mil)

Sumber: DKISP Kaltara
Editor: M. Yanudin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed