oleh

Puluhan Babi Ternak Milik Warga Peso Mati Mendadak, Virus ASF?

TANJUNG SELOR – Setelah didapati adanya kematian ratusan ekor babi hutan mendadak di Kabupaten Berau pada bulan Mei 2021 lalu, akibat positif terjangkit African Swine Fever (ASF). Hal itu terjadi juga di Kabupaten Bulungan belum lama ini.

Namun begitu, hal tersebut belum bisa dipastikan akibat virus ASF. Dinas Pertanian (Distan) Bulungan masih melakukan identifikasi terhadap kematian babi tersebut.

“Hari Senin lalu kami dapat laporan dari Desa Long Yin Kecamatan Peso, dimana ada babi hutan yang diternakkan itu mati sebanyak 40 ekor,” ungkap Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan, drh Sri Rejeki kepada benuanta.co.id, Selasa 15 Juni 2021.

Baca Juga :  Terima Aduan dari Tenaga Kontrak, DPRD Kaltara Bakal Koordinasi dengan Pemkab Malinau

Kata dia, masyarakat di Desa Long Yin terdiri dari 47 kepala keluarga (KK), kebiasaan masyarakatnya adalah berburu babi di dalam hutan, tak hanya dijual kepada orang lain, hasil buruan itu juga di komsumsi. Jika dalam berburu ada babi yang hidup maka diternakkan.

“Jadi total babi hutan yang diternakkan ada 41, setelah 40 ekor mati kini tinggal 1 ekor yang dalam keadaan sakit. Babi yang dipelihara ada yang sampai berumur 8 tahun,” ucapnya.

Baca Juga :  Mulai 1 Agustus, Pasien RSUD Tarakan Wajib Mendaftar Online

Dia menuturkan sebelum kematian 40 ekor babi itu, para pemburu pertama kali menemukan adanya kematian di dalam hutan. Kata dia, saat ditemukan ada 5 ekor babi yang sudah mati.

“Saat ada hasil buruan dibawa pulang, tak lama kemudian babi ternak warga ikut mati,” bebernya.

Tak hanya di Desa Long Yin, kematian babi ternak ini juga terjadi di Desa Long Lasan. Setidaknya ada beberapa warga mendapati babi yang dikandangkan ikut mati. Kemudian pihaknya juga dapat laporan kematian babi di Desa Naha Aya Kecamatan Peso Hilir.

Baca Juga :  Klarifikasi Isu Pilih Paslon Lain, Keluarga Besar Limex Group Bulungan Tegaskan Dukung Penuh ZIYAP

“Ternyata babinya yang mati sudah dibuang di sungai, makanya kita ambil sampel itu hanya yang hidup,” papar Sri.

Dia mengatakan sampel yang diambil ini adalah darah, setelah itu dikirim ke Balai Veteriner di Banjar Baru. Pihaknya saat ini masih menunggu hasil sampel itu, apakah terpapar dengan ASF atau tidak.

“Kita sarankan kepada masyarakat jangan di buang di sungai tapi di kubur atau di bakar saja. Saat ini kita menunggu hasil laboratorium,” pungkasnya. (*)

Reporter : Heri Muliadi
Editor : Nicky Saputra

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed