oleh

3 Kali Pesan Online, si Bule Ngaku Permen THC Konsumsi Pribadi

TANJUNG SELOR – Hasil penyelidikan Polda Kaltara kepada warga negara Jerman berinisial DC, ternyata tak hanya sekali melakukan pemesanan permen yang mengandung Tetrahydrocannabinol (THC) atau jenis ganja ini. Namun berulang kali dengan menggunakan jasa Pos Indonesia.

“Selain di tanggal 9 Juni 2021 paketnya datang, kemarin di tanggal 13 Juni barangnya atas nama bersangkutan kembali datang,” ucap Direktur Resnarkoba Polda Kaltara Kombes Pol Agus Yulianto kepada benuanta.co.id, Senin 14 Juni 2021.

Baca Juga :  Atasi Blank Spot di Daerah, Bupati Ibrahim Ali Temui Deputi VII Kemenko Polhukam

Kata dia, barang bukti pertama diamankan sebanyak 8 bungkus sebanyak 273,38 gram saat DC menjemputnya di Kantor Pos Tanjung Selor. BB kedua yang diamankan pada tanggal 13 Juni 2021 sebanyak 8 bungkus berisi permen THC ada 474,1 gram sehingga totalnya ada 747,48 gram.

“Ini pengiriman yang ketiga, pertama itu lolos barangnya berbentuk coklat batangan. Barulah di pengiriman kedua berhasil kita amankan,” ujarnya.

Barang berjenis THC yang masuk dalam golongan 1 Narkotika ini di pesan online di luar negeri tepatnya dari Inggris. Pengirimannya melalui paket jasa Pos Indonesia.

Baca Juga :  Tingkatkan Kesadaran Bayar Pajak, Bapenda Kaltara Sinergi dengan Satlantas Polres Tarakan

“Barangnya dari Inggris, untuk kandungan ganjanya saat ini sedang diperiksa di laboratorium. Tapi saat kita periksa dari tes kid milik Bea Cukai dan kita dari rumah sakit memang mengandung Cannabis,” tuturnya.

Keterangan DC kepada polisi, barang haram itu tidak untuk dijual kepada orang lain. Tapi untuk dikonsumsi sendiri, pihaknya belum mengetahui apa alasannya namun saat ini terus dilakukan pendalaman.

Baca Juga :  Gubernur Apresiasi Kinerja DPRD Kaltara, 10 Persen Dari WK Nunukan untuk PAD

“Kata pelaku barang itu untuk penggunaan sendiri dan sudah dikonsumsi sejak remaja,” paparnya.

Agus begitu disapa, mengatakan DC sendiri bekerja sebagai konsultan pada bidang pertanian milik swasta. Dimana visa yang digunakan merupakan visa kerja.

“Dia sebagai konsultan, tinggal di Kaltara kurang lebih 1 tahun,” tutupnya. (*)

Reporter: Heri Muliadi
Editor: Ramli

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed