TARAKAN – Memperingati hari raya Waisak 2565 digelar di vihara Vajra Bumi Dwipa. Walaupun di tengah pandemi Covid-19, namun perayaan yang dilakukan umat Buddha ini masih disambut sukacita oleh 44 umat yang hadir melakukan perubahan.
Sebelum melakukan puja bakti, para umat Buddha melakukan pelepasan satwa liar untuk memaknai kebebasan dan kebahagiaan semua makhluk hidup.

“Tadi juga ada pelepasan burung dara, benih ikan bandeng dan ikan lele. Itu bermakna sebagai para umat Buddha mampu mewujudkan kebebasan bagi semua makhluk,” ujarnya kepada benuanta.co.id.
Sekretaris Vihara Vajra Bumi Dwipa, Semin mengatakan bahwa selama pandemi Covid-19 pihaknya membatasi kegiatan keagamaan, sehingga di tahun ini pihaknya hanya melakukan bakti sosial, pelepasan satwa, mandi rupang dan upacara leluhur di vihara.
“Kami melakukan ibadah dengan mematuhi protokol kesehatan. Nanti kami juga akan melanjutkan upacara leluhur di pojok sana (tempat ibadah) setelah melakukan mandi rupang,” sambung Semin.
Semin, S.Ag yang juga berprofesi sebagai guru agama di salah satu SMA negeri di Tarakan, mengatakan momen perayaan Waisak ini sebenarnya mengingatkan kembali pada umat Buddha selalu hidup mawas diri dan bisa memberikan teladan bagi umat lain sehingga bisa hidup rukun dan berdampingan.
Sebelum pandemi, umat Buddha biasanya melakukan kegiatan berbagi, bakti sosial ke panti asuhan dan kegiatan donor darah. Namun tahun ini pihaknya hanya melakukan tiga kegiatan yakni bakti sosial, mandi rupang dan upacara leluhur saja.
Saat memasuki ruang ibadah, para umat Buddha menyalakan lilin-lilin yang berada di depan sebagai upaya untuk mendoakan dan menerangi kehidupan.
Waisak yang mengangkat tema “Bangkit Bersatu untuk Indonesia Maju” ini, dalam vihara Vajra Bumi Dwipa dipimpin oleh pemimpin Puja Bakti, Albert lie dan Erianto yang mengenakan pakaian kain berwarna kuning yang memiliki arti kebijaksanaan. Saat ibadah berlangsung, para umat Buddha melantunkan doa dan lagu puja baktinya.(*)
Reporter : Kristianto Triwibowo
Editor: M. Yanudin







