oleh

Debit Sungai Kayan Meningkat, Buluh Perindu dan Tanjung Rumbia Dapat Banjir Kiriman Lagi

TANJUNG SELOR – Adanya peningkatan debit air Sungai Kayan di wilayah Kecamatan Peso, berdampak pada wilayah bagian hilir, terutama desa yang berada di pinggiran sungai. Salah satunya Kecamatan Tanjung Palas dan Tanjung Selor Hulu yang hari ini terkena banjir kiriman.

“Wilayah terdampak untuk Kelurahan Tanjung Selor Hulu itu ada di dua titik, yakni Buluh Perindu dan Tanjung Rumbia, itu wilayah terendah di sini,” ungkap Lurah Tanjung Selor Hulu, Yudi Rachmana kepada benuanta.co.id, Jumat 21 Mei 2021.

Di wilayahnya ada 26 RT dengan 7 RW yang menjadi langganan banjir kiriman, yaitu ada 4 RT di wilayah Buluh Perindu di antaranya RT 15, RT 16, RT 17 dan RT 25 serta 1 RT di Tanjung Rumbia yakni RT 26. Walaupun begitu yang kesekian kalinya terjadi banjir hingga setengah meter, belum ada laporan warga yang mengungsi.

Baca Juga :  Angka Vaksinasi Nunukan Masih di Bawah Target Herd Immunity

“Beda di tahun 2015 lalu, banjir itu di Buluh Perindu semua rumah tenggelam dan baru kali itu banyak yang mengungsi,” bebernya.

Pihaknya tak bergerak sendiri, perkembangan air selalu di koordinasikan dengan BPBD Bulungan dan BMKG Stasiun Meteorologi Tanjung Harapan untuk kondisi cuaca. Sedangkan untuk mempermudah pergerakan dan penyampaian informasi, di Kelurahan Tanjung Selor Hulu terdapat grup Whatsapp RT.

Baca Juga :  Bupati Harapkan Peran Pemerintah Pusat Perbaiki Jalan Poros Tanjung Selor-Tanjung Palas Timur

“Di sini juga kita ada grup RT yang digunakan untuk bertukar informasi dan komunikasi. Sehingga perkembangan air di Buluh Perindu selalu di info ke grup, termasuk Babinsa aktif di sana memberikan informasi,” ucapnya.

Hanya saja karena sudah terlalu sering banjir dengan ketinggian setengah meter di Buluh Perindu, masyarakat sudah terbiasa dan menganggap bukan bencana. Kata dia, sampai saat ini belum ada laporan masyarakat yang terdampak.

Baca Juga :  Ratusan Personel Gabungan Polres Bulungan dan Brimob Diterjunkan Kawal Aksi Demo di Mara Satu

“Kalau masyarakat kita ini sudah dianggap biasa, ini kita pantau sejak habis lebaran, air naik turun,” pungkasnya. (*)

Reporter: Heri Muliadi
Editor: M. Yanudin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *