NUNUKAN – Kodim 0911/Nunukan ikut mensukseskan program pemerintah pusat maupun daerah dalam ketahanan pangan di Indonesia, salah satunya di kabupaten Nunukan.
Dandim 0911/Nunukan Letkol Czi Eko Pur Indriyanto, S.IP mengatakan, untuk mensukseskan program ketahanan pangan di Kabupaten Nunukan maka para Babinsa yang bertugas di desa binaannya masing-masing akan melakukan kerjasama dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Pertanian untuk membantu petani dalam rangka pembibitan, proses penanaman, hingga keproses panennya.
“Progam dari pemerintah ini sangat baik. Karena, di Nunukan banyak lahan tidur yang bisa dimanfaatkan, agar ketahanan pangan di Kabupaten Nunukan tetap stabil sehingga tidak tergantung dari daerah luar,” kata Eko Pur Indriyanto, kepada benuanta.co.id, Jumat (7/5).
lanjut dia, jika memproduksi sendiri dan bisa surplus jauh lebih baik. Sehingga kedepannya bisa menjadi daerah yang menyuplai kebutuhan Ibu Kota Negara. “Menanam secara mekanis lebih efektif dan efisien dalam proses tanam,” jelasnya
Dalam setahun, masyarakat Nunukan bisa melakukan panen sebanyak dua kali. Hasil panen tersebut sebagian untuk dijual dan sebagian lainnya untuk dikonsumsi sendiri. “Karena sudah banyak beras pertanian lokal dijual, dan beras lokal lebih baik dibanding beras yang sudah mengalami proses produksi dan bisa saja ada bahan pengawetnya,” terangnya.
Selain itu, Lusiana Kanan Lua (56) salah seorang warga Nunukan mengatakan, dia baru pertama kali menanam padi jenis ciherang dengan menggunakan alat mesinisasi. Beberapa waktu lalu, menanam padi sistem jajar legowo secara manual. Dengan penggunaan mesin ini sangat membantunya sehingga proses penanaman dilakukan dengan cepat.
Sistem jajar legowo dalam penanaman padi memiliki jarak tanam, memiliki parit di dalam untuk memudahkan penyiraman serta penyemprotan dan semaian. “Kami sangat terbantu dengan adanya Babinsa dan penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang selalu membimbing kami untuk bercocok tanam,” jalanya.
Hasil panen yang dia dapat selain dikonsumsi sendiri juga sebagian dijual dengan harga satu kilogram (kg) Rp 12 ribu. “Kami tidak menghitungnya berapa yang kami dapat, karena setelah panen kami masukkan kedalam karung, jadi tidak tahu berapa isinya. Kita bisa hitung tonnya kalau ukurannya 100 kilo per karung,” tutupnya. (*)
Reporter: Darmawan
Editor : Nicky Saputra







