oleh

Peringati Hardiknas 2021, Ibrahim Ali Jadi Pemateri Program Sekolah Budaya

TANA TIDUNG – Bupati Tana Tidung Ibrahim Ali jadi pemateri pada program Sekolah Budaya yang diselenggarakan Pengurus Daerah Pergerakan Pemuda-Pemudi Mahasiswa Rumpun Tidung (PD-Gadamaruti) Kabupaten Nunukan.

Kegiatan yang mengangkat teman “Intimung Taka Bais Nelajar Budaya Taka” itu digelar pada Ahad, 2 April 2021.

Kegiatan yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas 2021) tersebut diselenggarakan dalam rangka pelestarian dan pengembangan seni dan budaya rumpun Tidung.

Ada dua hal yang disampaikan Ibrahim Ali pada kesempatan tersebut, yaitu yang pertama Pendidikan dan Kebudayaan Rumpun Tidung Borneo dan yang kedua Pemimpin masa muda Kaltara, yang disatukan menjadi satu judul presentasi yaitu Mempersiapkan Pemimpinan Generasi 4.0 Rumpun Tidung Borneo.

Judul presentasi tersebut dikatakan Ibrahim Ali merupakan refleksi perjalanan hidupnya mulai dari pegawai honorer di Kabupaten Nunukan, sampai dengan saat ini menjadi Pemimpin di Kabupaten Tana Tidung (KTT).

“Kalau kita bicara soal calon pemimpin di masa depan, sering sekali pertanyaan yang muncul adalah bagaimana cara kita melatih dan mendidiknya. Nabi Muhammad SAW sudah memberi kuncinya, dalam satu sabda, Rasulullah berkata ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya. Karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zaman mu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian,” ucap Ibrahim Ali.

 

Sabda Rasulullah tersebut menurutnya merupakan panutan, yang dapat dijadikan petunjuk dalam mendidik calon pemimpin masa depan sesuai dengan zamannya, seperti yang ia jalankan saat ini dengan menginterpretasi bentuk masa kini dan masa depan.

Melalui interpretasi ini, dia bisa merancang langkah-langkah yang tepat untuk melatih dan mendidik calon-calon pemimpin di masa depan, yang dimana pada saat ini para ahli merumuskan bahwa masa kini merupakan industri 4.0.

Kelahiran era industri 4.0 disampaikan Ibrahim Ali sangat dipengaruhi oleh penemuan internet. Pada tahun 2000 – 2005 internet mulai berkembang serta memiliki kecepatan tinggi. Namun saat ini dijelaskannya sistem internet mulai merambah semua produk, pelayanan masyarakat, adanya penyimpanan cloud, hingga Big Data pada tahun 2010 ke atas, nama revolusi industri 4.0 semakin besar.

Baca Juga :  Pengunjung dan Pedagang Pasar Imbayud Taka Wajib Masker

Perkembangan industri 1.0 sampai 4.0 sangat dipengaruhi oleh penemuan teknologi baru. Setiap kali ada teknologi baru, maka secara peradapan dan kebudayaan manusia berubah. Karena itu penting sekali mendidik anak agar mampu berkembang.

“Anak-anak harus kita didik untuk mampu mengontrol dan menggunakan teknologi untuk kebaikan umat manusia. Kalau tidak di didik seperti itu, maka teknologilah yang akan mengontrol anak-anak kita. Hal itu bisa lihat sekarang bagaimana anak-anak kita kecanduan bermain game. Itu contoh bagaimana anak-anak kita gagal mengontrol teknologi,” imbuhnya.

Tantangan pendidikan dari dua abad yang lalu menurutnya tidak banyak berubah layanan pendidikan selalu terlambat merespon perubahan, berbeda sekali dengan industri yang begitu cepat merespon perubahan.

“Kalau kita terlambat melakukan terobosan, maka akan semakin banyak anak-anak kita yang akan kehilangan kesempatan bekerja, disinilah peran pemerintah daerah untuk melalukan terobosan pendidikan. Sebagai bupati, maka saya bertanggung jawab untuk mengelola pendidikan dasar. Mulai dari PAUD, SD, SMP, sampai Pendidikan Non Formal,” sebutnya.

Salah satu masalah pendidikan paling besar di tingkat pendidikan dasar adalah rendahnya kemampuan membaca. Secara internasional, keterampilan membaca Indonesia berada di rangking 72 dari 77 negara. bahkan 70 persen siswa kelas 3 SMP di Indonesia masih berada di bawah kompetensi minimal (PISA, 2019). Artinya, mereka belum memiliki kompetensi dasar yang memadai untuk belajar lebih lanjut atau memasuki dunia kerja.

Hasil AKSI KEMDIKBUD 2016 menunjukkan bahwa 47 persen siswa kelas 4 SD belum mampu membaca secara mandiri. Studi INOVASI 2018 di Provinsi NTB, NTT, Kaltara dan Jawa Timur menemukan 25 persen anak kelas 3 belum mampu membaca kata.

Membaca merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki seorang anak untuk bisa mengembangkan kemampuan dan potensi. Hanya dengan terampil membaca, seorang anak dapat memahami mata pelajaran dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang anak disebut terampil membaca menurutnya jika Ia mampu membaca teks dengan jelas dan baik, memahami makna teks yang dibaca, dan mampu mengkomunikasikan hasil bacaan dengan kata-katanya sendiri.

Baca Juga :  Ibrahim Ali Tekankan OPD Teliti dan Taat Aturan dalam Menjalankan Kegiatan

Menurut dia, paling lamban seorang anak harus sudah terampil membaca di kelas 3 SD. Jika sampai kelas 3 SD anak belum terampil membaca, maka ia akan mengalami efek matthew. Anak itu akan mengalami kesulitan untuk belajar kemampuan kognitif apapun di kelas yang lebih tinggi agar anak-anak siap menghadapi abad 21.

Maka menurutnya pembelajaran di dalam kelas harus diubah, proses pembelajaran harus melatih anak untuk memiliki keterampilan abad 21, proses pembelajaran harus dibuat menyenangkan, agar anak gembira belajar, menggunakan berbagai metode dan media belajar, agar anak mudah memahami materi belajar, Pembelajaran harus dirancang agar anak bisa bekerjasama, anak harus dilatih untuk terbiasa mengutarakan pendapat dan pikirannya melalui presentasi di depan kelas, karakter anak-anak harus dibangun melalui kecintaan terhadap budaya dan ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa.

“Perubahan pembelajaran seperti inilah yang akan kami kerjakan di Kabupaten Tana Tidung, salah satu misi saya adalah Meningkatkan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas, untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang berkualitas berarti tamatan pendidikan di Tana Tidung harus memiliki keterampilan abad 21,” cetusnya.

Sama seperti daerah lain di Indonesia, rendahnya keterampilan membaca menurut Ibrahim Ali menjadi tantangan pendidikan di Tana Tidung. Hasil pengukuran literasi di tingkat SD yang dilakukan pada Maret 2020, disampaikannya hanya 45 persen siswa kelas 6 SD yang mampu memahami isi bacaan sederhana.

“Untuk menghadapi tantangan ini, kami menggunakan tiga strategi. Pertama, melatih guru untuk mengajarkan literasi melalui Kelompok Kerja Guru (KKG), tujuannya agar guru mampu mengubah metode mengajar mengikuti keterampilan abad 21, yang kedua, peningkatan budaya baca. Tujuannya agar anak senang membaca. Semakin senang anak membaca, semakin banyak kosa kata yang dikuasai. Semakin banyak kosa kata yang dikuasai, semakin berkembang kemampuan anak menalar informasi, yang ketiga, layanan khusus bagi anak yang lamban membaca. Anak-anak yang nanti setelah ditest ternyata lamban membaca akan mendapat bimbingan khusus dari sekolah, tujuannya agar siswa bisa cepat mengejar ketertinggalannya,” bebernya.

Ia menyampaikan bahwa targetnya kemampuan membaca anak-anak di Tana Tidung bisa meningkat tajam, jumlah siswa yang lulus test pemahaman di kelas 6 SD, bisa meningkat dari 46 persen menjadi 98 persen, menurutnya dengan semakin baik pemahaman membaca anak, maka semakin baik pula prestasi belajarnya.

Baca Juga :  Bupati Tana Tidung Tegaskan Usulan Musrenbang Harus Urgen untuk Masyarakat

“Pada masa pademi saat ini, Tana Tidung juga tetap fokus untuk membangun keterampilan abad 21. Kami menggunakan lima strategi agar anak-anak di Tana Tidung tidak mengalami penurunan kemampuan belajar atau learning loss, pertama kami menggunakan bahan ajar bermakna dan kontekstual, yang kedua pendampingan belajar secara terbatas, yang ketiga budaya baca, keempat monitoring dan evaluasi secara berkala yang dilakukan secara daring dan melalui kunjungan dan yang kelima Pembukaan pembelajaran tatap muka yang dimulai dari kecamatan Zona Hijau,” tuturnya.

Kelima strategi tersebut dijalankan dikatakannya pada akhirnya mampu meningkatkan partisipasi belajar anak, yang pada periode maret sampai Juni 2020 lalu partisipasi belajar anak 88 persen dan untuk sekarang sudah mencapai mencapai 98 persen.

“Walaupun partisipasi belajar di Tana Tidung sudah mencapai 98 persen, tapi kami tidak akan berhenti untuk melakukan perbaikan dan membuat inovasi baru. Ini adalah rencana kami ke depan, yang dimana pertama kami akan membuka sekolah secara menyeluruh dari tingkat PAUD, SD, dan SMP pada April 2021, yang kedua digitalisasi pembelajaran melalui program 1 guru 1 laptop dan penambahan tower pemancar internet, ketiga tetap menggunakan kurikulum dalam kondisi khusus sebagai rujukan pembelajaran tahun akademik 2021/2022, keempat melatih kepala sekolah, pengawas, dan guru agar mampu melakukan asesmen diagnosis dan yang kelima melatih kepala sekolah, pengawas, dan guru agar mampu merancang bahan ajar sesuai dengan level kemampuan siswa dan melaksanakan akselerasi,” ungkap Ibrahim Ali.

Selain Ibrahim Ali, turut hadir pemateri lainnya yaitu Amelia dan Siti Sabariah (Dewan Pakar Gadamaruti), H. Sura’i (Dewan Penasehat), Muhammad Nour (Penulis), Rudi Hartanto (Kades Binusan), Darmawansyah dan Siti Raudah (Anggota DPRD Nunukan Komisi III), serta Hj. Anna Megariana Murad (Bunda Baca Kab. Nunukan). (*)

 

Reporter : Dwi

Editor : Nicky Saputra

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed