oleh

Pindah Haluan ke GeNose C19

ALAT pendeteksi covid-19 untuk masyarakat yang bepergian ke luar daerah sering kali diperbincangkan lantaran biayanya yang dikatagorikan mahal. Berbeda halnya dengan GeNose buatan bangsa dari Unversitas Gajah Mada (UGM) yang tak kalah dari alat pendeteksi covid 19 yang umum digunakan. Terlebih, penggunaan alat pendeteksi buatan UGM ini harganya terjangkau untuk semua kalangan. GeNose memiliki keakuratan mendeteksi covid-19 mencapai 90 persen dengan mengetahui dari nafas manusia yang terinfeksi covid 19 atau tidak.

Kehadiran GeNose sebagai alat pendeteksi covid-19 menjadi perhatian tersendiri bagi dunia penerbangan di Indonesia. Hal itu tak lain keakuratan dan biaya yang dikeluarkan untuk menggunakan alat ini. Tak seperti alat pendeteksi covid-19 yang sering digunakan, biayanay sering menjadi keluahan calon penumpang meski harus membayar karena aturan penerbangan pada masa pandemi covid-19.

Alat pendeteksi seperti rapid test dan swab antigen yang sudah lebih dulu familiar digunakan di bandara-bandara Indonesia kini tampaknya perlahan akan ditinggalkan. Kedatangan alata pendeteksi covid-19 buatan para ahli dari UGM ternyata tak kalah hebat. Keakuratan dua alat pendeteksi sebelumnya yang mencapai 90 persen juga dimiliki GeNose buatan anak bangsa tersebut.

Dukungan penggunaan GeNose tak hanya dari masyarakat, namun juga datang dari Kementerian Kesehatan RI yang mengeluarkan izin edar Alat Kesehatan dari Kementerian Kesehatan RI pada tanggal 24 Desember 2020 dengan nomor Kemenkes RI AKD 20401022883 dengan kategori kelompok Elektromedik Non Radiasi/B. Produsen/pabrikan produk GeNose C19 yang resmi terdaftar adalah PT Swayasa Prakarsa.

Alat pendeteksi covid-19 yang didistribusi oleh PT. Graha Rekayasa Utama, PT. Global Systech Medika, PT. Sigma Andalan Nusa, PT. Dunia Kecantikan Indonesia, dan PT. Indofarma Global Medika dengan begitu bisa saja ke depannya alat ini bakal digunakan diseluruh stasiun keberangkatan laut, darat, maupun udara.

Awalnya, alat pendeteksi covid-19 dengan akurasi 90 persen ini diterapkan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) pada Februari lalu disetiap stasiun keberangkatan. Melalui tahap ini, GeNose mulai dilirik bandara pesawat yang dikelola PT Angkasa Pura (AP) I dan AP II di Indonesia. Ini juga yang sudah diterapkan belasan bandara pesawat di Indonesia yang sudah berjalan, termasuk Bandara Internasional Juwata Tarakan yang sudah tahap uji coba.

Dijelaskan Kepala Bidang Pelayanan dan Kerjasama BLU Juwata Tarakan, Gideon P Manusun GeNose merupakan alat untuk skrining. Saat ini sudah ditempatkan di Bandara Juwata Tarakan. Penempatannya di bandara pun telah melalui persetujuan KKP dan dinas kesehatan pemerintah daerah.

“Untuk penentuan tempat ini kami berkoordinasi dengan KKP, dinas kesehatan, ternyata ini masih mumpuni karena yang mengetahui soal kesehatan mereka, ketika dinyatakan layak kami coba memfasilitasi, tetap di sini (Bandara Juwata Tarakan), kalau nanti berkembang lebih banyak lagi kita bisa di tempat lain, kita lihat perkembangannya,” ungkap Gideon.

Menurut Gideon, tempat yang disiapkan sekarang telah tepat yakni di lantai dua bandara tanpa mengganggu penumpang yang akan melakukan keberangkatan. Uji coba yang digelar internal bandara Tarakan sekaligus launching penggunaan GeNose.

“Kita menyiapkan tempat tanpa menghambat pelayanan pada penumpang, kita uji coba sekaligus launching langsung, penggunaan alat, orang, kita akan lihat evaluasi pelaksanaannya, tadi sudah bagus semua,” jelasnya.

Terpisah, Koordinator PKSE di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Tarakan, dr. Indah Suryawati menuturkan, pemeriksaan GeNose hanya berlaku selama 1×24 jam. Menurutnya, tingkat akurasi GeNose juga cukup tinggi hingga 90 persen.

“Tingkat akurasinya cukup tinggi makanya kita mendukung, masyarakat punya banyak pilihan sekarang untuk penerbangan, GeNose cukup sensitif sekitar 90 persen.Kalau yang dipersyaratkan PCR, Antigen dan GeNose, tapi itu kembali ke perda masing-masing, tergantung lagi ke peraturan daerah seperti Kalbar harus PCR berarti tidak bisa yang lain,” terang dr. Indah.

Rapid test tidak bisa lagi digunakan untuk syarat penerbangan, karena tidak disebutkan di dalam surat edaran. Diketahui, perjalanan ke Balikpapan, Makassar hingga ke Jakarta dari Tarakan masih berlaku menggunakan GeNose. Pendaftarannya pun bisa melalui online.

“Pendaftarannya online ya, disyaratkan harus memiliki tiket dulu, kalau hasilnya positif bisa GeNose ulang, 30 menit setelahnya, kalau GeNose kedua negative dia harus pemeriksaan GeNose ketiga, kalau negative boleh lanjutkan, kalau positif boleh Antigen atau PCR,” pungkasnya.

Lalu, apa itu GeNose C19?

Dikuti dari ditpui.ugm.ac.id, GeNose C19 merupakan alat yang meniru cara kerja hidung manusia dengan memanfaatkan sistem penginderaan (larik sensor gas) dan kecerdasan buatan (Artificial intelligence) dalam membedakan pola senyawa yang dideteksi. Khususnya, GeNose C10 dapat membedakan pola senyawa dari volatile organic compound (VOC) nafas manusia yang terinfeksi COVID-19 atau tidak. GeNose C19 versi screening atau GeNose C19-S merupakan alat skrining cepat infeksi virus SARS-CoV2 melalui hembusan nafas pasien Covid-19.

Produk GeNose C19 memiliki tingkat akurasi sebesar 93-95 persen dengan tingkat sensitivitas 89-92 persen, spesifisitas 95-96 persen, dengan positive predictive value (PPV) 87-88 persen dan negative predictive value (NPV) 97 persen. Nilai sensitifitas, spesifisitas, PPV dan NPV diperoleh melalui uji klinis atau diagnostik 3 tahap yang melibatkan subyek dari rawat inap (tahap 1), rawat jalan (tahap 2; pasien terduga Covid-19 dan kontak erat) dan skrining bebas (tahap 3: pasien tanpa gejala) dengan dibandingkan langsung terhadap pemeriksaan tes swab berbasis RT-PCR.

Keunggulan produk GeNose C19 dibandingkan dengan rapid test dan swab test atau PCR yaitu cepat diketahui hasilnya, hanya memerlukan waktu selama kurang lebih 3 menit, tidak perlu reagen serta bahan kimia lainnya, dapat terhubung ke cloud system (IoT) sehingga dapat diakses secara online, dan murah biaya tesnya.

Saat ini gold standard penegakan diagnosis Covid-19 pada pasien tetap melalui pengujian polymerase chain reaction (PCR). Adapun hasil pengujian GeNose C19 dapat digunakan sebagai skrining  awal keberadaan virus  SARS-CoV2 di dalam tubuh manusia

Selain itu, GeNose adalah sistem tiruan indera penciuman yang didesain hanya bisa membedakan aroma atau bau secara pola (breath print) yang merupakan campuran atau kombinasi dari beberapa jenis gas. Seperti hidung manusia, bisa disimpukan suatu pola aroma tertentu (breath print) misalnya aroma ikan dalam makanan baik kadar ikan dalam makanan tersebut besar ataupun kecil.

GeNose C19 mendeteksi keberadaan virus SARS-CoV2 penyebab Covid-19 secara tidak langsung dengan mendeteksi perubahan pola aroma gas nafas akibat interaksi metabolisme antara sel-sel tubuh dengani virus SARS-CoV2. GeNose tidak mendeteksi partikel virus SARS-CoV2 secara langsung

Secara teknis, GeNose C19 tetap dapat mengidentifikasi, lantaran metabolisme SARS-CoV2 baik varian lama maupun varian baru tidak dilaporkan berbeda secara bermakna. Demikian pula karena proses identifikasi sistem GeNose C19 menggunakan sistem kecerdasan buatan yang terus mengakumulasi data pola nafas yang telah dibaca, maka semakin banyak dan variatif sampel yang diidentifikasi, data sampel akan semakin diingat oleh mesin sehingga GeNose C19 akan semakin terlatih atau cerdas dalam mengeinterpretasi data pola nafas (breath print) yang ada. Pembaharuan kecerdasan buatan GeNose C19 dilakukan secara berkala dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian.

Secara umum, GeNose C19 dapat menguji sampel hingga 100.000 sampel. Namun, setelah itu bukan berarti GeNose C19 tidak dapat dipakai kembali. Batasan 100.000 sampel adalah batasan secara elektronik untuk dicek ulang karena masa pakai atau lifetime komponen elektronika yang tidak dapat dipastikan.

Apakah virus SARS-CoV2 penyebab COVID-19 dapat menular melalui mesin yang pernah mendeteksi pasien positif COVID-19?

Mesin pendeteksi covid-19 yang digunakan GeNose sempat dikhawatirkan dapat kembali menularkan virus lantaran menggunakan satu mesin pendeteksi untuk beberapa kali test. Hal itu ternyata tidak benar, sebab sistem penyedotan sampel nafas pada GeNose C19 didsesain sedemikian rupa di mana sampel nafas yang mengandung partikel virus akan tersaring dan tertahan HEPA filter sebelum sampel nafas masuk ke ruang sensor, sehingga, yang terbaca oleh sensor hanyalah senyawa gas menguap (volatile organic compound) dari nafas, bukan droplet virus dalam sampel nafas.

Dalam pedoman penggunaan mesin GeNose C19, HEPA filter wajib diganti apabila GeNose C19 telah mengidentifikasi sampel nafas positif. Selama proses uji klinis, telah dilakukan pengecekan RT-PCR dengan bahan bilasan dan swab pada ruang sensor, selang proksimal dari HEPA filter dan tidak ditemukan tanda keberadaan partikel virus di dalam komponen mesin.

Gas yang dideteksi dalam waktu tertentu akan menempel di permukaan sensor, tetapi tidak permanen. Untuk menghilangkan gas yang menempel di permukaan sensor, GeNose C19 secara otomatis menjalankan operasi “pembersihan” atau flushing  dengan mengalirkan udara lingkungan sekitar kepada permukaan sensor sampai bersih yang secara obyektif ditandai dengan nilai respon sensor teramati kembali ke titik baseline pasca pembacaan setiap sampel.

Dengan keakuratan dan biayanya yang hanya berkisar Rp25 hingga 60 ribu setiap sekali tes menjadikan GeNose pilihan utama negeri ini sebagai alat pendeteksi covid-19 di setiap keberangkatan. Perpindahan haluan alat pendeteksi dari yang direkomendasikan WHO ke alat buatan dalam negeri, merupakan capain luar biasa yang digagas sejak pandemi covid-19 menghantam negeri ini.

Penerapan GeNose ini juga diamini warga Tarakan yang sebelumnya sempat mengeluhkan prosedur keberangkatan yang harus mengeluarkan biaya tambahan yang tidak murah. Budy, salah seorang warga Kelurahan Karang Anyar yang sering bepergian ke luar daerah mengguanakan pesewat ini cukup senang mengetahui dengan penerapan GeNose.

“Kita tahu bagaimana biaya tambahan dengan tes covid-19 yang di awal itu mencapai jutaan. Harganya bagi saya cukup mahal, sementara kita tidak dijamin bakal terinfeksi virus. Jika GeNose ini diterapkan, biayanya tentu tidak ada yang menolak karena murah dan mudah penerapannya,” tuturnya saat ditemui benuanta di Bandara Juwata Tarakan. (ram/kik)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *