oleh

Kebutuhan hingga hypersex Alasan Kuat Terlibat Prostitusi

KETERLIBATAN muncikari dalam menggerakan para Pekerja Seks Komersial (PSK), bisa berasal dari kontrol diri, norma, gaya hidup, dan kebutuhan. Tiap individu memiliki ragam mekanisme untuk memenuhi kebutuhan diri. Lalu seperti apa tanggapan psikolog soal kasus prostitusi yang terungkap di Kota Tarakan Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), belum lama ini?

“Pertimbangan pemenuhan kebutuhan ini ada yang efektif ada yang tidak dilandasi hal-hal di atas. Untuk orang-orang tertentu bisa saja mudah terpancing kemudahan mendapatkan materi dengan jalur ini. Banyak aspek yang akan terlibat,” ungkap psikolog dari HIMPSI Wilayah Kaltara Tri Mahardika Dewi, M.Psi, Psikolog.

Jika profesi sebagai muncikari melanggar norma hukum, agama hingga sosial, menurut Dika sapaan akrabnya, tidak semua orang memiliki internalisasi norma yang sama, ada yang sifatnya perifer saja. Biasanya orang yang melakukan pelanggaran norma atau aturan hanya sebagai bagian informasi saja, fungsinya tidak jalan sebagai filter perilaku.

“Orang seperti ini biasanya kesulitan mengatur diri, dan sebagian kurang mempertimbangkan risiko atau dampak jangka panjang fokusnya ke materi atau keuntungan saja,” ujarnya.

Baca Juga :  Menimbang Potensi Rencana Kembalinya ‘Tulang Punggung’ PAD Tarakan

Apakah kebutuhan ekonomi jadi pemicunya atau ada kelainan secara biologis pada pelaku? Dijelaskan Dika, ini bisa beragam, ada yang purely karena persoalan ekonomi sehingga mungkin dinuraninya melakukan pekerjaan tersebut berat, tapi bisa juga ada yang memang menikmati dan sekalian meraup untung.

“Saya rasa ini akan jadi variatif dan bergantung sekali dengan individu sebagai pelaku. Karena kembali ke sifat dasar manusia yang sangat unik. Saya pernah menemukan remaja yang memang hypersex berawal dari rasa ingin tahu berlebihan terhadap aktifitas seksual, dan ketagihan lalu dia terpapar teknologi dan tahu akan dapat untung dengan open BO atau jadi sugar baby bisa saja terjadi. Namun sifatnya individual, bisa juga ada yang karena terpaksa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga,” terang Founder dan Psikolog Klinis Layanan Psikologi Balanceway.id tersebut.

Baca Juga :  Ramadhan di Masa Pandemi Part II

Dilanjutkannya, pergaulan bebas dan kurangnya perhatian orang tua jadi salah satu faktor seseorang memilih jalan yg salah seperti menggunakan narkoba, pergaulan bebas hingga prostitusi. Suka tidak suka, kontrol orangtua dan masyarakat secara umum jadi lebih penting di masa ini. Era digital mengakibatkan seluruh pelosok dapat akses dan informasi dengan mudah termasuk tentang hal-hal negatif seperti pergaulan bebas, narkoba, kriminalitas.

“Hal ini bisa mengakibatkan anak-anak dan remaja meyakini nilai-nilai yang sifatnya keliru, contoh kecil saja free sex it sekarang dianggap lumrah dan wajar karena kebutuhan biologis. Norma sosial dan agama jadi pudar karena adanya penanaman nilai-nilai baru yang tidak disadari tertanam ke anak-anak dan remaja kita melalui konten atau akses informasi tertentu di media,” jelasnya.

“Sehingga penting bagi kita memperhatikan kebiasaan dan kegiatan anak-anak kita agar tidak terjerumus, dan penanaman norma dan aturan yang kuat oleh orangtua serta support pemerintah dengan kegiatan-kegiatan berkala yang selalu melibatkan pesan norma sosial dan agama,” lanjutnya.

Baca Juga :  Laka Laut “Mengancam” Nelayan

Apa tips dari psikolog untuk pelaku agar menghindari kasus prostitusi?

Secara keseluruhan masyarakat harus aware tentang pentingnya mengatur diri. Memperluas wawasan dan keterampilan. Kombinasi hal ini akan memudahkan masyarakat untuk mengetahui potensi-potensi bahaya dan kerugian dalam melakukan tindakan prostitusi. Sementara meningkatkan keterampilan, dan kemampuan diri sesuai bakat dan minat akan membantu masyarakat yang mungkin terdesak secara ekonomi untuk memliki lebih banyak opsi dalam memenuhi kebutuhan.

“Penanaman norma agama dan sosial yang mendalam juga penting dilakukan sejak dini dan secara berkelanjutan, bisa masuk ke bentuk sosialisasi atau acara-acara anak muda yang di dalamnya selalu diselipkan ajaran dan norma-norma yang berlaku secara berkala. Agar norma agama dan sosial tersebut selalu menjadi bagian keseharian di masyarakat dan terinternalisasi dengan lebih baik,” tutupnya. (kik/ram)

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed