oleh

Bertahun-tahun Merantau di Kaltara, Keluarga Asal Surabaya Ini Dipulangkan Dinsos dan Baznas Tarakan

Sawal (40) dan Martinah (39) merasa lega rencana terbang ke kampung halamannya di Surabaya tinggal menyisakan 24 jam lagi, setelah bertahun lamanya terluntang-lantung demi mencari peruntungan di Bumi Benuanta, Kalimantan Utara. Pasangan suami istri yang dikaruniai empat orang puteri itu bersyukur bisa dipulangkan atas bantuan Dinas Sosial (Dinsos) dan Baznas Kota Tarakan, lantaran sudah tiga hari makan dan tidur di shelter khusus orang terlantar dari Dinsos Tarakan.

Sebelum menyerah dan akhirnya mencari bantuan ke Dinsos untuk ditampung dan diberi tiket pulang ke Surabaya kota asalnya. Sawal lebih dulu berseliweran di Nunukan, mencoba mengais rezeki dengan kerja serabutan. Saking lamanya tak pulang kampung, ia juga lupa tahun berapa pertama kalinya menapakan kaki ke Kaltara, yang ia ingat ketika tahun 1995 pernah berada di Negeri Jiran, Malaysia dan mencari upeti yang tak seberapa. Mencukupi segala kebutuhan anak istrinya.

Baca Juga :  DPC PKB Tarakan Bagikan 1.000 Paket Sembako untuk Warga

“Setelah dari Malaysia 1995, aku sama istri di Tarakan dan Nunukan saja menetap,” ujar Sawal saat ditemui benuanta.co.id, Kamis (8/4/2021).

Berbagai cara telah ditempuh pria berperawakan kurus ini dalam menafkahi anak istrinya. Kata dia, asalkan yang dijalaninya itu halal semuanya tak menjadi masalah. Seperti menanam singkong atau pisang di kebun milik warga di Nunukan, yang jika hasil bercocok tanamnya itu tumbuh lalu akan dijual kembali untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Atau jika tak laku, singkong dan pisang telah menjadi santapan keluarganya saban hari.

Beringsut dari berkebun di Nunukan, Sawal mendapat tawaran untuk membentangi rumput laut di Pantai Amal, Kota Tarakan. Mulanya, pekerjaan tersebut sedikit banyaknya juga membantu sisi ekonomi keluarga kecilnya. Namun lambat laun pekerjaan yang digelutinya itu mulai tak pasti, semuanya akibat pandemi Covid-19. Alhasil, biaya makan ditambah biaya sewa rumah kost akhir-akhir ini sudah membukit di pundak Sawal.

Baca Juga :  Dalam Rangka Pengamanan Angkutan Nataru, KSOP Tarakan Gelar Rakor

“Jadi mau kembali ke Surabaya ini karena sudah tidak ada lagi kerjaan dan tempat tinggal. Sudah lama juga tidak berpenghasilan, tetapi mau diapakan. Sabar sajalah,” katanya lirih.

Rencananya ketika berada di kota pahlawan, julukan lain Kota Surabaya, Sawal mengaku akan menggarap sawah peninggalan orang tuannya untuk dikelola. Sembari menyekolahkan Rini (15), puteri sulungnya yang belum pernah menempuh pendidikan secara formal.

“Padahal kita (orang tua) dan dia (anak) mau saja sekolah, tetapi memang tidak ada biaya kasihan,” ungkapnya.

Kendati tak mengetahui secara pasti mengenai besaran bantuan materi yang akan diterimanya bersama keluarga. Sawal mengaku bersyukur telah difasilitasi untuk menempati shelter Dinsos, ditambah tiket pesawat sebagai sarana transportasi kepulangannya nanti.

Baca Juga :  Persoalan Lahan Bandara, Arief : Masyarakat Perlu Peran Pemkot dan DPRD Tarakan

“Yang kami tahu tiket kami itu satu orang Rp 1 Juta kalau tidak salah. Tetapi intinya kita sekeluarga merasa berterima kasih kepada Dinsos dan Baznas dan orang-orang yang telah membantu untuk makan selama di sini (shelter) dan tiket kepulangan kami. Tadi infonya hari ini pulang, tetapi tidak dapat tiket dan dikasih tahu lagi untuk berangkat besok. Nanti sampai di Surabaya kita juga dijemput oleh Dinsos Surabaya,” tandasnya.(*)

Reporter : Yogi Wibawa

Editor : Ramli

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed