oleh

Menangkal Radikal dan Teror

Kodisifitas tanah air terganggu atas tindakan para haluan kelompok radikal yang masih saja menebar teror. Pemahaman kelompok-kelompok yang bertentangan terhadap Pancasila ternyata masih berseliuran di Bumi Ibu Pertiwi. Sifat para penganut radikalisme yang mengelompokan diri sebagai bagian dari aliran terorisme ini, sering kali ingin mencederai pihak tertentu. Bahkan aksi radikal kelompok ini terbilang ekstrim dengan melakukan berbagai aksi bunuh diri menggunakan bahan peledak rakitan. Peran seluruh elemen lapisan pemerintahan, TNI-Polri, hingga masyarakat terbilang sangat penting untuk menangkal pesebaran kelompok radikalisme dan terorisme di Indonesia.

EMPAT bulan setelah terungkapnya kasus pembunuhan satu keluarga di Lembantongoa, Palolo, Sigi, Sulawesi Tengah pada 27 November 2020 lalu, sekaligus pembakaran rumah ibadah umat Kristen yang semuanya diketahui dilakukan kelompok teroris pimpinan Ali Kalora dari Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Kelompok radikal berbasis teroris kembali menunjukkan kehadirannya, dengan aksi sepasang suami istri yang meledakkan diri di pintu gerbang Gereja Katedral, Kota Makassar pada Ahad, 28 Maret 2021. Diketahui aksi itu didalangi anggota jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) yang juga melakukan serangkaian teror di Surabaya pada 2018.

Kejutan lain dari kelompok berpaham jihad radikalisme ini berlanjut tiga hari setelahnya yakni pada Rabu, 31 Maret 2021. Seorang wanita bernama Zakiah Aini membawa senjata api berjenis pistol menyerang Mabes Polri. Enam kali melakukan tembakan ke arah personel polisi, lalu aksinya diakhir tewasnya Zakiah Aini di atas aspal Kompleks Mabes Polri dengan posisi tertelungkup karena ditembak personel polisi yang sudah mengepung.

Di Indonesia ada beberapa kelompok radikal teroris yang terbilang sering beraksi. Salah satu yang sedang eksis adalah kelompok JAD. Sebelum aksi terorisme yang terjadi di akhir Maret 2021, serangkaian aksi terorisme di Indonesia bermula dari pembajakan pesawat Garuda Indonesia penerbangan 206 pada 28 Maret 1981. Kala itu, Garuda Indonesia yang terbang dari Palembang ke Medan dibajak 5 orang teroris yang menyamar sebagai penumpang pesawat. Kelimanya berbekal senapan mesin dan granat. Peristiwa pembajakan itu memakan korban dengan tewasnya satu kru pesawat, satu tentara komando, dan tiga teroris yang menamakan diri sebagai Komando Jihad.

Emapt tahun kemudian, Candi Borobudur diserang teroris dengan serang bom tepatnya 21 Januari 1985. Diyakini dilakukan kelompok teroris, karena serangan ini bermotif ‘jihad’ sekaligus serangan kedua yang menimpa Indoneisa. Sekian lama tak bergeming setelah bom Candi Borobudur, aksi teroris kembali mengguncang beberapa daerah di Indonesia. Di awal tahun 2000-an, Kedutaan Besar (Kudebes) Filipina menjadi sasaran kelompok teroris yang meledakkan mobil yang sengaja diparkir di depan rumah Dubes Filipina di Menteng, Jakarta Pusat. Aksi itu menewaskan dua orang dan puluhan orang lainnya luka-luka termasuk Duta Besar Filipina untuk Indoneisa, Leonides T Caday.

Rentetan aksi teroris di awal tahun 2000-an dengan teror ledakan semakin gencar dilakukan. Setelah rumah Dubes Filipina, kini giliran Kedubes Malaysia yang diserang dengan pelemparan granat pada 27 Agustus 2000. Granat meledak di kompleks Kedutaan Besar Malaysia di Kuningan, Jakarta. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Menjelang akhir tahun, ledakan demi ledakan teror bom yang dilakukan para teroris di Indonesia menambah catatan betapa ekstrimnya radikalisme para teroris tersebut.

Setelah pelemparan granat, sebulan setelahnya Bursa Efek Jakarta dibom oleh teroris. Ledakan bom itu terbilang besar dengan daya rusak yang menghancurkan ratusan mobil rusak berat, 10 orang tewas, dan 90 orang luka-luka di lantai dua parkir Bursa Efek Indonesia pada 13 September 2000. Para teroris tampaknya belum puas dengan aksi mereka, yang dibuktikan serangkaian peledakan bom di malam Natal yang menewaskan kurang lebih 16 jiwa serta rusaknya 37 mobil pada 24 Desember 2000.

Sejak akhir tahun 2000, kecuali tahun 2006, 2014, dan 2015 rentetan aksi teror bom terus dilakukan para teroris setiap tahunnya. Sebelum memasuki tahun 2017, bom dan baku tembak dengan teroris di sekitar Plaza Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat cukup mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, aksi baku tembak dengan teroris itu terjadi di tengah-tengah pusat keramain dan menjadi tontonan.

Masih di tahun 2016, serangkaian serang teror bom ke rumah-rumah ibadah makin marak terjadi. Diawali dengan bom bunuh diri di halaman Markas Kepolisian Resor Kota Surakarta, Surakarta, Jawa Tengah pada tanggal 5 Juli 2016. Satu pelaku tewas dan satu petugas kepolisian luka-luka. Ledakan bom bunuh diri kembali terjadi di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Jalan Dr Mansur, Kota Medan, Sumatra Utara pada 28 Agustus 2016. Pelaku mengalami luka bakar, sedangkan seorang pastor mengalami luka ringan. Dilanjutkan dengan teror bom molotov di depan Gereja Oikumene Kota Samarinda, Kalimantan Timur pada 13 November 2016. Empat anak-anak terluka dan satu korban di antaranya meninggal dunia dalam perawatan di rumah sakit. Akhir tahun tempatnya 14 November 2016 ditutup dengan bom molotov yang diledakkan di Vihara Budi Dharma, Kota Singkawang, Kalimantan Barat.

Baca Juga :  GeNose Hadir di Bandara Udara Juwata Tarakan, Sekali Tes Hanya Rp50 Ribu

Kelompok teroris yang sedang eksis yang menamakan diri sebagai JAD, yang berafiliasi dengan jaringan ISIS di Suriah menjadi otak serangkaian serangan di tanah air. Sekaligus menuangkan radikalisme terhadap para pengikutnya, yang menganut paham ISIS  dalam setiap aksinya. Paham-paham radikalisme yang kini dianggap para pengikut JAD benar dan harus dijalankan itu, sudah sampai kepada tahap meresahkan berbagai pihak. Terlebih, para pengikut JAD merebak ke kaum milenial seperti pelaku kasus penyerangan Mabes Polri yang merupakan wanita kelahiran 1994 masih berusia 24 tahun.

Hal itu terbukti dari surat wasiat yang ditinggalkan wanita bernama Zakiah Aini, dengan menuliskan bahwa jihad benar dan segala sistem pemerintahan yang menghalangi keinginan mereka merupakan musuh yang harus ditumpas melalui jalan jihad yang mereka pahami. Fakta-fakta merebaknya radikalisme hingga ke kalangan bawah ini didiga akibat kurangnya pemahaman ajaran Islam yang baik dan benar. Segingga mudah dimanfaatkan jarinag JAD untuk menambah jumlah teror di Indonesia.

Kasus yang terjadi di Makassar dan Jakarta bukan tidak mungkin akan memancing Zakiah Aini lainnya yang kental dengan radikalisme ISIS ikut bergerak membuat aksi teror. Kalimantan Utara (Kaltara) yang menjadi wilayah berbatasan dengan negara lain bisa saja dimanfaakan sebagai wilayah teror para pengikut JAD. Terlebih, beberapa daerah di Filipina yang dikuasai kelompok teroris Abu Sayyaf yang juga mendeklarasikan kelompoknya mendukung pergerakan ISIS. Pencegahan dini terhadap radikalisme dengan motif ajaran Islam sangat perlu dilakukan.

Mudahnya kalangan muda di Indonesia menerima doktrin jihad dari para terorisme bisa saja disebabkan kurangnya pemahaman ideologi pancasila yang diajarkan. Berbeda dengan kalangan sebelumnya yang terus-menerus didoktrin paham pancasila di bangku sekolah. Diterangkan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tarakan, Muhammad Haris

Penanaman nilai-nilai Pancasila sejak SD, SMP, dan SMA dianggapnya sangat penting dilakukan. Sebab, saat ini mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) perlu dipertanyakan keefektifannya. Sementara di era informasi siswa lebih tertarik kepada YouTuber, yang membuat konten pamer kekayaan bahkan diskriminasi dalam kasus pemberiaan hadiah yang setelah dibuka ternyata isinya batu bata (prank) seperti yang terjadi di Bandung beberapa waktu lalu. Penyampaian informasi seperti itu dirasanya perlu disikapi dengan sebuah kebijakan bersama pemerintah pusat dan daerah.

Ia juga menyangkan mengapa dalam sejarah sejak Indonesia merdeka era orde lama, orde baru dan reformasi senatiasa terjadi ketengangan agama. Khususnya Islam dengan Pancasila sehingga muncul istilah gerakan radikalisme, intoleran dan diskriminasi.

“Apakah tatanan ideologinya? atau pemahaman baik nilai Pancasila atau nilai agamanya. Ya itu PR bersama tentunya. Semua stakeholder untuk betul-betul mampu mewujudkan Rahmatan Lil Alamin kalau bicara Islam,” terangnya.

Ia juga turut mengutuk aksi terorisme dan radikalisme yang melanda tana air dalam sepekan ini, yakni bom bunuh diri di Makassar dan serangan teroris di Mabes Polri, Jakarta Selatan. Ia meminta agar pemerintah pusat dapat memaksimalkan waspada dini terhadap ancaman tersebut.

“Tetapi kalau boleh kami beri masukan untuk lebih dimaksimalkan dalam rangka upaya dini atau waspada dini (wasdin) bahaya radikalisme dan terrorisme itu lebih banyak ditekankan kepada penyuluhan-penyuluhan. Atau sosialisasi secara masif untuk pencegahan dini. Baik dari tingkat RT, sekolah, perguruan tinggi dan rumah-rumah ibadah,” ujar Muhammad Haris.

“Dalam situasi pandemi memang kita memahami keterbatasan keuangan nasional, seperti APBD/APBN dan lain sebagainya. Tetapi ini juga penting untuk menjaga stabilitas sosial, politik dan keamanan umumnya Kaltara serta secara khusus untuk Tarakan. Kalau boleh saya usulkan adanya sebuah kebijakan penegasan alokasi anggaran, baik APBN/APBN dalam arti mandatoris pending untuk menangkal penangulangan radikalisme, terorrisme termasuk narkotika,” tambahnya.

Lanjut dia, ancaman terorisme bisa terjadi kapan saja jika tidak dilakukan pencegahan sedini mungkin oleh masyarakat. Terlebih paham terorisme dengan mudah masuk ke golongan masyarakat sehingga perlu adanya kerjasama yang baik dari pemangku kebijakan untuk mencegah hal tersebut. Dijelaskannya, Kesbangpol Tarakan tak menampik bahwa masyarakat rentan terpapar, hingga menjadi simpatisan kelompok-kelompok radikalisme yang telah mendapat rapor merah masih ditemukan di Bumi Paguntaka sebutan lain Kota Tarakan.

Baca Juga :  Listrik untuk Kaltara

“Saya pikir masih adalah (simpatisan kelompok radikal), tetapi dengan adanya tim terpadu baik dari sisi yang beragam seperti pengawasan orang asing ada di imigrasi terus ada aliran kepercayaan yang dikomandoi oleh Kepala Kejaksaan. Kerjasama dengan intelijen yang ada, sampai sejauh ini memang kita masih waspadai terus, kita pantau terus,” sebutnya.

Kendati jumlah simpatisan yang diketahui masih berada di angka puluhan orang, Haris menegaskan pihaknya juga akan terus memaksimalkan pengawasan. Bila perlu, kata dia, masyarakat juga harus lebih terbuka untuk memberikan informasi dalam konteks tersebut.

“Lebih relatif terjagalah Tarakan ini, tetapi jangan juga menganggap remeh. Maka perlu sinergisitas perilaku yang baik, terutama pemangku kebijakan itu harus humanis lah dengan masyarakat. Sehingga betul-betul rasa kemanusiaan itu bisa terwujud rasa aman dan damai di Tarakan,” tandasnya.

Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Datu Iskandar Zulkarnaen ikut mengutuk keras peristiwa bom bunuh diri di Makassar belum lama ini. FKPT sangat mengecam perbuatan tersebut. FKPT tak menampik paham radikalisme masih ada di tengah masyarakat.

“Kita mengutuk keras, tidak ada agama apapun yang berpaham bunuh diri apalagi Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamin. Di masyarakat masih ada menyebar paham-paham radikalisme terorisme, ini salah satu bukti,” ungkap, Kepala FKPT Provinsi Kaltara.

Menurutnya, Kaltara berada di posisi silang antara Malaysia dan Filipina, dan di sisi lain Kaltara letaknya strategis dari Filipina Selatan. Karena pernah terungkap teroris di Jawa dari pengakuannya mereka dari Filipina Selatan melalui jalur Nunukan (Kaltara) ke Tawau, artinya selama ini Kaltara hanya perlintasan.

Datu Iskandar belum menerima informasi adanya jaringan terorisme yang menetap di Kaltara. Tapi tak menutup kemungkinan hal itu bisa saja ada di Kaltara karena pelaku pasti beroperasi secara senyap agar tak terendus oleh aparat atau intelejen.

“Selama ini dalam beberapa tahun terakhir belum ada, sebagai perlintasan bukan berarti ini tidak mungkin terjadi, karena tidak hanya kerawanan perbatasan, tidak hanya masalah terorisme, contohnya narkoba bisa sampai puluhan kilogram dari perbatasan,” ujarnya.

“Kawasan perbatasan juga rawan dengan kejahatan lain selain terorisme, termasuk narkoba, illegal fishing, penyelundupan, TKI illegal, makanya perlu memperketat pengawasan di perbatasan, bukan hanya masalah terorisme, tapi kejahatan lain,” sambungnya.

Datu Iskandar kembali menegaskan peran FKPT di tengah masyarakat bukan sebagai penangkal, namun hanya mengajak masyarakat melakukan pencegahan dini terhadap bahaya terorisme. “FKPT hanya mengantisipasi bukan penangkal, kita mengajak stekholder termasuk masyarakat, tokoh agama, pemuda, pelajar mencegah paham radikalisme termasuk terorisme, misalnya kita mengadakan seminar, lomba menulis tentang bahaya radikalisme, langkah-langkah seperti itu kita menumbuhkan pemahaman masyarakat bahaya terorisme,” terangnya.

Ia menilai peran lapisan masyarakat dalam pencegahan pergerakan kelompok radikalisme sangatlah penting. Begitu juga dengan peran Ketua RT. Kesadaran masyarakat melakukan pencegahan dini harus terus ditumbuhkan terhadap bahaya ancaman terorisme.

“Jadi peran RT maupun RW dan kepedulian masyarakat di lingkungan sangat penting, bagaimana individu ini mempunyai kepedulian terhadap ancaman paham radikalisme,” ujarnya.

Kelompok terorisme biasanya berpindah-pindah tempat tinggal. Mungkin hal itu untuk memudahkan pergerakan mereka dalam mencapai tujuan seperti melakukan pengeboman. Sehingga perlunya pemilik rumah sewa atau indekos melaporkan warga baru yang datang ke suatu tempat.

“Pemilik kos juga tidak hanya memikirkan uang, bagaimana orang yang baru masuk ini apa latar belakangnya, lapor ke ketua RT, ada kepedulian dari komponen masyarakat,” imbuhnya.

Datu Iskandar juga mengimbau agar masyarakat bijak dalam memanfaatkan kemajuan teknologi. Utamanya dalam memperoleh atau mencari informasi. Bisa saja kelompok paham radikalisme memanfaatkan internet sebagai media mendoktrin calon pengikutnya.

“Sebenarnya di era galobalisasi teknologi sekarang ini, bahaya di online maupun di website itu. Kelompok pengajian kalau ada pendidikan bisa terdeteksi, banyak kasus itu orang belajar dari internet, jadi perlu keterlibatan di sekolah peran guru agama memberikan pemahaman soal agama jadi mereka tidak mencari  sendiri melalui internet. Web ini banyak juga yang tidak punya ijin seakan mereka portal berita padahal  tidak jelas legalitasnya, begitu orang membaca disangka ini benar, bisa saja itu menyesatkan, salah dalam pemahaman,” jelasnya.

Baca Juga :  Waspada Flu Babi Afrika

Peran stekholder di Kaltara dalam upaya pencegahan paham radikalisme dikatakan Datu Iskandar sudah baik. “Saya melihat cukup bagus sekolah, kita ada kerjasama dengan sekolah, yang bahaya dari luar itu karena kita perlintasan, walaupun bukan warga Kaltara tidak menutup kemungkinan mereka menyebarkan pahamnya disini,” tambahnya.

Kekhawatiran juga muncul ketika Kaltara lahir dari Kaltim. Jika sebelumnya Kaltara hanya sebagai jalur perlintasan terorisme, mungkin saja seiring Kaltara menjadi daerah tujuan sehingga perlunya pencegahan sejak dini.

“Dulu masih Kaltim, kan sekarang sudah menjadi Kaltara bisa saja bukan lagi daerah perlintasan atau operasi senyap karena disini sudah ramai, bisa saja jadi daerah tujuan,” ucapnya.

“Yang jelas kita mengharapkan pengawasan di perbatasan diperketat, bukan hanya pengawasan, tapi bagaimana kita bisa membangun perbatasan, infrastruktur terbangun dengan baik tidak mungkin pemprov sendiri tapi juga butuh peran pusat yang punya wewenang. Bagaimana kolaborasi pusat dengan pemprov, jadi pendekatannya tidak hanya pada pengawasan diperketat tapi melalui ekonomi dan sosial, otomatis pengamanan terbangun sendiri,” pungkasnya. (bn/ram/kik)

Aksi Terorisme di Indonesia Lima Tahun Terakhir

2017

  • Bom Bandung 27 Februari 2017, sebuah bom panci meledak di Taman Pandawa Cicendo, Bandung. Pelaku bernama Yayat Cahdiyat alias Dani alias Abu Salam umur 41. Pelaku diketahui merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) jaringan Bandung Raya]
  • Bom Jakarta 24 Mei 2017, sebuah bom panci meledak di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Menewaskan 3 polisi dan 2 pelaku serta melukai 14 orang.

2018

  • Kerusuhan di Mako Brimob 8-10 Mei 2018, penyanderaan sejumlah personel Brimob dan Densus 88 selama 36 jam oleh 156 Napi Terorisme di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Kejadian ini 5 perwira Polri gugur dan 1 napi teroris tewas, sedangkan 4 perwira Polri luka-luka.
  • Bom Surabaya 13-14 Mei 2018. Sedikitnya lima belas orang tewas dan puluhan lainnya terluka setelah serangkaian pengeboman bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur. Pada malam harinya, sebuah bom meledak di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo, Jawa Timur. Keesokan harinya, sebuah bom meledak di Mapolrestabes Surabaya, Jawa Timur, pada 14 Mei 2018, pukul 08.50 WIB. Semua pelaku yang melakukan rentetan teror bom di Surabaya dan Sidoarjo ini merupakan anggota dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS).
  • Serangan Mapolda Riau 16 Mei 2018, Mapolda Riau diserang oleh kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Setidaknya, satu orang polisi gugur, dua orang polisi luka-luka, dan dua jurnalis luka-luka. Empat orang teroris tewas tertembak, sedangkan satu orang teroris yang berperan sebagai pengemudi mobil melarikan diri.
  • Pada 5 Juli 2018, tiga bom meledak di sebuah rumah di Desa Pogar di Bangil di Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, melukai anak pelaku, Pemilik bom kabur, tapi istrinya ditangkap polisi.

2019

  • Bom Sibolga 12-13 Maret 2019. 2 orang luka-luka.
  • 10 Oktober 2019, Menkopolhukam Wiranto ditusuk oleh penyerang menggunakan kunai saat kunjungan kerja di Pandeglang, Banten. Seorang polisi juga ditusuk dari belakang. Setelah kejadian itu Polda Banten menangkap pelaku, pelaku terdiri dari satu pria dan satu wanita. Nama pelaku yaitu Syahrial Alamsyah alias Abu Rara, dan istrinya Fitri Andriana, diduga terkena ajaran radikal ISIS.
  • Bom Medan, 13 November 2019, 1 pelaku tewas, 6 orang luka-luka.

2020

  • Penyerangan Polsek Daha Selatan, 1 Juni 2020. Pelaku membakar mobil patroli dan menewaskan 1 orang petugas kepolisian.
  • Penyerangan di Sigi 27 November 2020. Sebuah keluarga tewas dibunuh oleh orang tidak dikenal di Lembantongoa, Palolo, Sigi, Sulawesi Tengah. Mereka ditemukan dalam keadaan tewas mengenaskan sementara tujuh rumah termasuk rumah yang biasa dijadikan tempat peribadahan umat Kristen turut dibakar. Pelaku kemudian diketahui adalah kelompok teroris pimpinan Ali Kalora dari Mujahidin Indonesia Timur.

2021

  • Bom bunuh diri di Makassar 28 Maret 2021. peristiwa ledakan bom pertama di Indonesia dengan sasaran rumah ibadah yang menewaskan 2 pelaku di Gereja Katedral Makassar. Semua pelaku merupakan anggota dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) yang juga melakukan serangkaian teror di Surabaya pada 2018.
  • Penyerangan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia, 31 Maret 2021. Pelaku menembak sebanyak 6 kali kepada petugas jaga. Polisi melakukan tindakan tegas terukur kepada pelaku, dan pelaku tewas di tempat.

 

*Diolah dari berbagai sumber

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed