oleh

Zainal-Yansen Raih Kemenangan

Oleh: Surya Yuniza

(Ketua Partai Gelora Provinsi Kaltara)

 

PILIHAN masyarakat kaltara di pilkada nanti sangat menentukan seperti apa wajah Propinsi Kaltara 5 tahun ke depan. Meski dihasilkan dalam 1 hari, namun nasib 768 ribu penduduk diprediksi akan berubah atau tetap dengan keadaan seperti sekarang.

Masyarakat akan merasakan ketenangan jika urusan ekonomi dan kenyamanan sosial terpenuhi. Bagi pemerintahan disebut berhasil jika mampu memenuhi kebutuhan publik dan swasta. Sementara sektor privat bisa menjalankan roda usaha dengan aman.

Kaltara sebagai bagian dari wilayah yang menganut demokrasi seharusnya mengikuti prinsip tersebut. Sebab jika salah satu diantara ketiga komponen itu tidak terpenuhi maka bukan tidak mungkin timbul kesenjangan sosial dan politik.

How Democracies Die buku yang sedang viral ditulis oleh profesor Harvard, Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt menjelaskan kemunduran demokrasi hari ini justru dimulai dari kotak suara. Bentuk dari kemunduran demokrasi itu salah satunya berupa komitmen yang lemah terhadap aturan main demokrasi dan membatasi kebebasan sipil lawan politik termasuk kepada media.

Arus Perubahan

Fenomena demonstrasi Hongkong dan kalahnya Donald Trump di pemilu AS adalah implikasi dari arus penentangan terhadap cara otokrasi meski kepemimpinannya dihasilkan oleh praktik demokrasi.

Dalam beberapa kasus kontradiksi justru muncul bukan dari lawan politik atau oposisi parlemen melainkan people power yang mayoritasnya kalangan berpendidikan. Kesadaran sosial politik ini akan terus tumbuh manakala masyarakat merasakan ketidakpuasan dari kebijakan pemerintah yang tidak transparan.

Pilkada Kaltara satu dari sekian pilkada serentak yang akan menguji siapa yang akan membawa arus perubahan. Jika masyarakat Kaltara ingin perubahan maka syarat nya ditentukan oleh dua hal yakni aktor dan yang kedua ide.

Syarat pertama, adalah peran aktor pemimpin daerah yang memiliki jiwa pengaruh. Pemimpin yang terlahir dari produk demokrasi namun tidak memiliki jiwa meritrokasi maka yang terjadi aroma ABS. Pemimpin daerah itu tak lain hanya akan beroientasi dari saya, oleh saya dan untuk kelompok saya.

Syarat kedua, ialah ide untuk melakukan inovasi. Di tengah persaingan globalisasi yang tidak ada sekat wilayah dan ekonomi, masyarakat kita dipaksa berkompetisi dan jika tidak kuat maka hanya akan menerima keadaan. Dibutuhkan sosok pemimpin daerah yang memiliki visi kolaborasi membangun anak bangsa.

Pasangan Zaknal – Yansen meyakini dua syarat itu dalam visi misinya. Pasangan dengan nomor urut tiga ini bahkan sudah mengantongi 39,4% suara kemenangan berdasarkan survei terbaru.

Dengan pencapaian suara tersebut Zainal-Yansen yakin menjadi aktor perubahan masyarakat Kaltara.

Pilkada 9 Desember nanti hanya kecurangan lawanlah yang bisa mengalahkan pasangan ini.  Untuk menjaga kecurangan itu jangan sampai terjadi, peran semua pihak dan tentu saja tim pemenangan, relawan mesti siap dan siaga menjaga dan mengamankan kemenangan ini. Dan yang terpenting adalah peran pihak bawaslu dan penyelenggara harus tetap dalam koridor.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed