oleh

Covid-19 Dianggap Biasa, Protokol Kesehatan Pelindung Utama

HAMPIR 8 bulan sudah masyarakat Indonesia berdampingan hidupnya dengan Corona Virus Desease 2019 (COVID-19) yang merebak pada awal Maret 2020 di salah satu daerah di Indonesia. Keadaan ini masih berlangsung sampai hari ini. Bahkan, pertanyaan yang belum terjawab adalah kapan wabah yang bermula dari Wuhan, China ini akan berakhir.

Belum ada obat atau antivirus yang ditemukan untuk menyembuhkan pasien COVID-19. Namun, pasien yang terpapar virus ini banyak yang dinyatakan sembuh oleh tim medis. Tak ada cara lain, selain meningkatkan imunitas tubuh untuk bertahan di tengah pandemi COVID-19.

Namun, paling penting adalah melakukan pencegahan dengan disiplin protokol kesehatan agar tidak terpapar COVID-19, diantaranya selalu pakai masker dimana pun berada, menjaga jarak menghindari kerumunan dengan orang lain, dan setiap habis beraktifitas selalu mencuci tangan dengan sabun pada air yang mengalir.

Berdasarkan data dari PHEOC Kemkes RI per 30 Oktober, tercatat sebanyak 406.945 kasus konfirmasi positif COVID-19 di Indonesia dengan angka kesembuhan 334.295 dan 13.782 telah meninggal dunia.

Merujuk data di provinsi ke-34 Kalimantan Utara (Kaltara), sejak COVID-19 merebak tercatat sebanyak 829 kasus dengan pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 704 orang dan meninggal dunia 7 orang. Artinya 118 orang masih dirawat.

Dari 4 kabupaten dan 1 kota di Provinsi Kaltara, Kota Tarakan merupakan daerah yang paling banyak angka positif kasus COVID-19 yakni sebanyak 362 kasus. Menyusul Kabupaten Bulungan 249 kasus positif. Kemudian Kabupaten Malinau 137 kasus, Kabupaten Nunukan 69 kasus dan paling sedikit adalah Kabupaten Tana Tidung (KTT) sebanyak 12 kasus.

Peningkatan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Tarakan disebabkan pelaku perjalanan yang membawa virus ini saat pulang dari bepergian keluar Kaltara. Selanjutnya, penularan yang terjadi dari lemahnya kesadaran masyarakat menjalankan protokol kesehatan dan kurangnya kesadaran bagi pelaku perjalanan untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari atau tes swab bila tak ingin karantina mandiri.

“Kita sudah sering mengingatkan kepada masyarakat agar patuhi protokol kesehatan, apalagi yang baru pulang dari luar daerah wajib karantina mandiri 14 hari,” ungkap Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Kota Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti, M.Kes, Sabtu (31/10).

Peningkatan kasus dari pelaku perjalanan ini adalah menularkan virus corona kepada sanak keluarganya di rumah. Sehingga klaster pelaku perjalanan menyebabkan kasus kontak erat meningkat. Seperti di Tarakan, kasus kontak erat per hari ini sebanyak 520 orang yang dipantau dan diawasi Satgas COVID-19 walaupun terdapat juga kasus suspek sebanyak 176 orang.

“Bagi yang pulang dari perjalanan jika tidak ingin karantina atau isolasi mandiri 14 hari, silahkan lakukan swab secara mandiri. Jika hasilnya negatif silahkan beraktifitas diluar rumah,”jelas dr. Devi.

Sementara bagi sanak keluarga yang memiliki keluarga habis bepergian keluar Kaltara, sudah sepatutnya tetap patuhi protokol kesehatan terutama menggunakan masker sekalipun di rumah. Faktanya, kontak erat terjadi dari pelaku perjalanan setelah Satgas melakukan tracing kasus.

“Awalnya mula memang dari pelaku perjalanan, dari situ merambat ke keluarganya. Kita terus melaksanakan tracing kasus dari yang terkonfirmasi positif,” ujarnya.

Meningkatkan kesadaran masyarakat agar disiplin protokol kesehatan memang tidaklah semudah membalik telapak tangan. Perlunya merangkul semua pihak dalam mengkampanyekan protokol kesehatan baik dari pemerintah dan masyarakat. Hanya dengan disiplin protokol kesehatan dapat menjaga manusia dari penularan virus corona.

Kini, masyarakat pada umumnya sudah menganggap COVID-19 tidak berbahaya karena terbiasa dengan pemberitaan COVID-19 setiap harinya dari media massa maupun media sosial. Namun, masih bertambahnya jumlah kasus positif, masyarakat harus tetap waspada.

“Memang ini butuh peran semua elemen ya, tidak hanya pemerintah saja, masyarakat pun harus ikut mendukung disiplin protokol kesehatan seperti pakai masker jangan kendor,” ungkapnya.

Dikatakan dr. Devi, hanya dengan menggunakan masker dapat menjaga kita dari penularan COVID-19. Sederhananya, dengan menggunakan masker sama-sama saling menjaga diri masing-masing.(*)

Reporter: Ramli

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed