oleh

Air Laut Meluap di Tarakan, Prediksi BMKG Akan Berlanjut Hingga 22 Oktober

TARAKAN – Kemarin, tepatnya Ahad (18/10/2020) warga Jalan Gajah Mada, Tarakan Barat, dihebohkan dengan luapan air laut yang masuk hingga jalan raya dan pekarangan rumah warga. Air yang menyerupai banjir tersebut, bukan berasal dari hujan deras, melainkan dari luapan air laut yang naik hingga menutupi sebagian jalan raya di Jl. Gajah Mada. Tak hanya itu, luapan air laut juga terjadi di sejumlah daerah pesisir di Tarakan.

Prakirawan BMKG Tarakan, Hermansyah mengatakan, air laut naik atau yang biasa disebut pasang air laut merupakan dampak dari interaksi laut, bulan, dan matahari. “Saat bulan berada di fase bulan purnama atau bulan baru atau bulan mati, maka saat itu akan terjadi pasang naik yang sangat tinggi dan pasang naik yang sangat rendah,” ujarnya kepada benuanta.co.id, Senin 19 Oktober 2020.

Dijelaskan Hermansyah, fenomena air laut naik di wilayah Tarakan juga merupakan dampak dari adanya gravitasi bulan saat fase bulan baru atau bulan mati. Saat bulan baru atau bulan mati, posisi bumi, bulan, matahari berada di satu garis lurus yang menyebabkan gravitasi bulan menarik air laut ke arah bulan dan matahari, sehingga menyebabkan pasang air laut.

“Jika dilansir dari prakiraan data pasut dishidros AL, pasang surut tertinggi mencapai 3.6 meter ketika terjadi fenomena air laut naik di wilayah Tarakan,” jelasnya.

Selain itu, dari tanggal 17 hingga 20 Oktober 2020 di wilayah Perairan Tarakan diprediksi akan terjadi pasang maksimum dengan dua kali pasang naik dan dua kali surut.

“Untuk tanggal 19 Oktober 2020, puncak pasang naik terjadi pada pukul 07.00 hingga 08.00 wita dan pukul 18.00 sampai 21.00 wita dengan ketinggian pasang laut diatas 3 meter. Untuk pasang naik di atas 3 meter diprediksi masih akan terjadi hingga tanggal 22 Oktober 2020,” tutupnya.(*)

 

Reporter : Matthew Gregori Nusa

Editor : Ramli

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed