oleh

Warga Nunukan Selatan Gelar Tolak Bala, Agar Dijauhkan dari Bencana

NUNUKAN – Masyarakat suku kaum Tidung yang ada di sejumlah kabupaten/kota di Kalimantan Utara, melaksanakan ritual keagamaan Tolak Bala, Rabu 14 Oktober 2020.

Seperti yang ada Kecamatan Nunukan Selatan, Kabupaten Nunukan, kegiatan ini setiap tahunnya mereka laksanakan di bulan Safar dan akhir bulan Safar.

Terlihat emak-emak dan bapak-bapak beserta anaknya ikut berkumpul dalam melaksanakan tolak bala, tentu tidak lupa membawa ketupat atau kue. Yang mana itu nantinya akan dimakan bersama-sama setelah dibaca doa secara Islam.

Baca Juga :  Pegawai Lapas Nunukan Raih Medali Emas untuk Kaltim di PON XX Papua

Salah satu warga Nunukan Selatan, H. Muhammad Busrah mengatakan, Tolak Bala ini dilaksanakan pada hari Rabu pertama, dan Rabu ketiganya atau akhir bulan Safar. Yang dilaksanakan setiap tahun, dengan tujuan untuk menolak bala atau musibah untuk menjauh dari kampung ini, seperti saat ini adalah wabah covid-19.

“Tolak Bala ini untuk membuang segala sesuatu bala atau musibah, agar kita terhindar, sehingga kita dapat aman dan tenteram,” ujar H. Busrah.

Baca Juga :  BPD KKSS Nunukan Dikukuhkan, Gubernur : Bantu Ketua dan Hidupkan Kegiatan di Tengah Masyarakat

Ritual seperti ini setiap tahun suku kaum Tidung maupun Bulungan melaksanakannya, dengan membawa Ketupat dan Popcorn padi (letupan dari padi).

Jadi letupan padi ini atau yang dikenal dengan sebutan Popcorn jika tertiup angin akan melayang sehingga tidak dapat lagi untuk kembali. Sedangkan ketupat itu merupakan sesuatu yang dibuat dari beras yang terbaik dan tidak mudah rusak. Karena ketupat itu tidak ada penyakitnya, wabahnya, bahkan musibahnya, makanan itu adalah salah satu yang murni.

Baca Juga :  Wagub Kaltara Perintahkan Rumah Sakit Pratama Sebuku Segera Dioperasikan

“Namun kita tetap berdoa kepada Allah SWT, agar diberikan Rahmat Taufik hidayah-Nya kepada kita semua, agar wabah covid-19 dan wabah lainnya dapat hilang dari kampung halaman kita ini,” harapnya.

Usai membaca doa tolak bala, warga setempat melanjutkan mandi Safar di laut dengan tujuan untuk menghilangkan sesuatu niat yang tidak baik menjadi baik. “Itu juga harus punya niat,” tutupnya. (*)

 

Reporter: Darmawan

Editor: M. Yanudin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *