oleh

PP-PM Telah Kembalikan Sumbangan Iraw

TARAKAN – Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah (PP-PM) telah mengembalikan uang sumbangan kepada Irianto Lambrie untuk kegiatan pelantikan Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PW-PM) Provinsi Kaltara. Pengembalian dana sumbangan Ini dilakukan PP-PM melalui Fajar Mentari S.Pd selaku orang yang dipercayakan oleh Ketua Umum (Ketum) PP-PM, lantaran  postingan dukungan Ketua Tim Pemenangan Paslon Iraw belum dihapus hingga saat ini.

Disampaikan Fajar Mentari, dengan dikembalikannya dana bantuan tersebut, dirinya meminta kepada Syamsuddin Arfah untuk segera menghapus postingan yang terkesan mengklaim lembaga PW-PM mendukung paslon Iraw di Pilkada Kaltara. Seperti diketahui, dalam postingan Syamsuddin Arfah tersebut, mencantumkan foto Ketum PP-PM yang mendukung paslon Iraw. Dalam narasi statusnya, Syamsuddin Arfah menyebut “Satu persatu terus merapat.. Berbagi kasih berbagi cinta.. Iraw ya Iraw nomor 2”.

“Jangan hanya karena memberi bantuan senilai itu, lalu sesukanya memposting negatif atas lembaga kami, apalagi membawa-bawa foto Ketum PP-PM,” tegasnya.

BACA BERITA TERKAIT:

Lanjutnya, sedari awal dirinya sudah meragukan sumbangan tersebut tidak berangkat dari keikhlasan hati. “Wajar dong saya berasumsi seperti itu, karena menurut informasi yang saya terima bahwa pak Irianto sempat marah dan meminta uangnya untuk dikembalikan lantaran ada panggung yang kami berikan untuk Paslon lain. Ini sumbangan atau bayar permintaan dukungan? Saya tidak bilang bahwa beliau tidak ikhlas, tapi saya ragu. Sebab jika memang niatnya ikhlas, tentu dari awal beliau tidak mempermasalahkan itu. Dasar teorinya kan seperti itu,” urainya.

Selain itu, lanjut pria biasa disapa FM ini, jika memang niatnya ikhlas, setidaknya dihapus postingannya. Sebab seharusnya Syamsuddin Arfah tahu persis bahwa timbulnya polemik terkait tejadinya gesekan di internal PW-PM itu berawal dari postingan tersebut. Awalnya FM bersabar mencoba untuk menurunkan egosentrisnya. Tapi terhitung sampai hari ini sudah 10 hari postingan itu belum dihapus juga. Jika memang Syamsuddin Arfah gengsi untuk meminta maaf, minimal postingannya dihapus. Hanya sesederhana itu solusinya. Tapi mungkin Syamsuddin Arfah menilai berat untuk menghapusnya. Sehingga ini terkesan sengaja menantang secara langsung.

Dari awal, lanjut FM, PW-PM sepakat agar tidak digiring ke ranah politik praktis. Termasuk tidak boleh ada pengklaiman atas lembaga PW-PM. Terkecuali secara pribadi, itu sah. FM pun mengaku sudah memberi ultimatum tegas kepada rekan-rekan di PW-PM bahwa sesiapun Paslon yang mencoba mengklaim atas nama lembaga, maka dirinya yang paling pertama kali yang akan “berteriak lantang” tidak pilih merek, tidak pandang bulu, tidak ada urusan dengan siapa kamu, siapa dia, siapa kalian, siapa mereka, dan siapa saja.

“Saya juga sudah mengingatkan agar PW-PM meminta kepada kanda Syamsuddin Arfah untuk menghapus postingannya. Tapi pesan moral saya tersebut tidak diindahkan. Jangan hanya saya yang ‘diamankan’, tapi postingannya tidak ‘diamankan’,” tuturnya.

“Sejatinya Muhammadiyah adalah kawah candradimuka saya. Saya dikader di Muhammadiyah tidak untuk menjadi seorang pengecut, saya digembleng untuk menjadi pribadi yang senantiasa gagah berani menyampaikan apa yang dianggap benar, dan bertanggungjawab untuk mengakhiri apa yang saya mulai. Selama postingan itu belum dihapus, maka selama itu pula saya akan memperjuangkan kehormatan lembaga saya. Lembaga kami masih punya malu, dan akan tetap melekat erat perasaan malu itu. Semoga kanda Syamsuddin Arfah juga punya perasaan yang sama setelah saya mengembalikan sumbangan itu, tentunya dengan menghapus postingannya,” imbuhnya.

FM menegaskan, dirinya memperjuangkan marwah lembaga sebatas hanya untuk mengatakan hitam jika itu adalah hitam. Sebab jika hitam dikatakan putih, itu pembohong. Dan bohongnya terlalu mencolok, karena hitam dan putih itu dua warna yang bedanya sangat kontras. Apa yang salah dibenarkan, tersesat dalam pekatnya konflik kepentingan.

“Saya tidak mau ikut tersesat dengan melakukan pembiaran atas postingan itu. Tersesat itu terkadang hal yang wajar, tersesat itu perkara manusiawi, jadi tidak sepenuhnya salah jika kita mau belajar untuk berubah dan memperbaiki diri. yang salah itu adalah sudah tersesat tapi tidak mau berubah, tidak mau belajar, tidak mau memperbaiki diri. Saya tidak pernah panik ketika tersesat, karena yang saya lakukan hanya cukup mengubah ke mana saya akan melangkah pergi,” kata FM.

Menurut FM, mereka yang belajar tapi tidak berpikir akan tersesat, dan mereka yang berpikir tapi tidak belajar akan berada dalam bahaya besar. Dalam tersesat, kita diasah untuk mempertimbangkan apa yang sudah kita putuskan, dan menambah apa yang selama ini tidak pernah kita pikirkan. Semakin menor polemik ini terlihat, logika publiknya sungguh jauh tersesat.

Sambung FM, hidup bukanlah koridor yang lurus dan mudah untuk kita lalui dengan bebas dan tak berpenghalang, melainkan labirin lorong. Yang melaluinya adalah kita, maka kita sendirilah yang harus mencari jalan kita. Tersesat dan bingung kadang-kadang diperiksa di jalan buntu. Tetapi jika kita melaluinya dengan iman, percayalah bahwa ada pintu yang akan terbuka untuk kita. Mungkin pintu itu bukan dari apa yang kita sendiri pernah pikirkan, tapi pintu yang pada akhirnya akan terbukti baik bagi kita. Kita semua adalah manusia yang dapat melihat satu bulan saja di atas langit, tetapi banyak jalan yang kita tempuh untuk sampai ke puncak yang terdekat darinya. Terkadang dikala tersesat, kita pun memutuskan untuk mencoba jalan orang lain, tapi tujuan akhirnya adalah bagaimana menemukan penyempurnaan hidup.

Manusia tersesat dan berjalan di sebuah hutan di mana nilai-nilai yang nyata semuanya tidak berarti. Nilai-nilai yang nyata berarti bagi manusia hanya jika mereka berjalan di jalan spiritual, yaitu sebuah jalan di mana perasaan negatif tidak berarti. Semoga saja asa yang tersesat menemukan jalan pulang dan darah tak harus pada telapak tangan yang beku.

“Ibarat memasuki labirin tanpa membawa peta. Tersesatlah ia dan bergeming dari tempatnya berada. Ia sudah kehilangan arah ke tempat tujuannya. Mereka yang gagal karena ia bertujuan tersesat atau karena ia tidak bertujuan sama sekali adalah untuk ditemukan dimana-mana. Kalau kalian lupa jalan pulang, maka izinkan saya menjadi apa saja yang akan menemanimu tersesat, agar saya dapat membantumu menunjukkan bahwa beberapa jalan yang indah tidak dapat ditemukan tanpa tersesat terlebih dahulu. Jangan mengira tersesat itu selalunya berarti salah, padahal tersesat itu adalah jalan untuk menemukan kebenaran yang lebih sejati,” katanya mengilustrasikan.

Lebih lanjut dikatakannya, orang yang pernah mendapati dirinya di suatu tempat yang menarik adalah ia yang pernah tersesat di tempat itu. Itulah gunanya disatukan dalam satu wadah di Muhammadiyah, agar bisa saling melengkapi. Ketika yang satu tersesat, yang lain harus berani membantu mereka untuk menemukan jalan keluar. “Anggap saja semua yang kita lewati bersama adalah perjalanan menuju pulang, dan kita tersesat selama ini. Kemudian saya melepasmu dan sekarang kita sudah tidak tersesat lagi. Kita bisa menemukan rumah kita lagi,” jelasnya.(*)

 

Reporter: M. Yanudin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed