oleh

Nodai Marwah, PPPM Siap Kembalikan Sumbangan Paslon Iraw

TARAKAN – Prahara di internal lembaga Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Kalimantan Utara (PWPM Kaltara) menjadi polemik yang ramai dibincangkan di pusaran politik Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltara 2020. Tokoh pemuda Muhammadiyah Kaltara, Fajar Mentari (FM) pun membongkar awal kronologi masalah di internal PWPM.

“Munculnya seteru di internal kami ini berawal dari tawaran pembiayaan agenda PWPM, tawaran tersebut dimotori oleh oknum-oknum yang tergabung dalam panitia acara, termasuk mereka yang ada dalam foto bersama pak Irianto dengan mengacungkan 2 jari. Paslon Iraw menawarkan sumbangan bantuan namun dengan catatan beliau mendapatkan panggung yang dikhususkan hanya untuknya. Dengan overconfidence-nya oknum tersebut menawarkan, padahal saya pikir semua Paslon juga mau kalau diberikan peluang dan ruang yang sama, apalagi hanya dengan angka segitu yang tidak etis saya sebutkan nominalnya berapa,” terang FM kepada benuanta.co.id, Rabu 7 Oktober 2020.

Namun karena tawaran itu ditolak oleh rekan-rekan pengurus lainnya yang jumlahnya lebih banyak, sehingga adu mulut melahirkan kesepakatan untuk memberikan panggung yang sama kepada semua Paslon. “Saat hari H acara yang berlangsung di hotel Duta Tarakan, saya memang sengaja lambat datang, karena feeling saya sudah tak nyaman. Dan setiba saya di tempat acara, baru parkir kendaraan saya didatangi oleh ibu-ibu Nasyiatul Aisyiyah (NA). Mereka bertanya terkait keterlambatan kehadiran saya di tengah situasi acara yang sedikit menimbulkan kegaduhan. Sembari bercanda saya jawab, justru tambah gaduh kalau saya ada di TKP (tempat kejadian perkara),” ujarnya.

Namun saat di tempat acara, usai bicara di atas podium, FM mengaku menjauh untuk mengangkat telepon dari Sekretaris Organisasi dan Keanggotaan Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah (PPPM), Anderyan Noor, yang mendapingi Ketua Umum (Ketum) PPPM datang ke Tarakan. FM diminta untuk merapat ke Swiss Belhotel Tarakan tempat beliau menginap. Setibanya di sana, Ketum PPPM sedikit bercerita tentang kekecewaannya atas tragedi memalukan selama proses acara berlangsung. Dalam obrolan tersebut, juga menyinggung soal flyer banner yang Ketum PPPM sama sekali tak tahu-menahu dirinya dibawa-bawa dalam arus menyesatkan ini.

“Berangkat dari situ, maka dipercayakanlah kepada saya untuk menyelesaikan persoalan ini. Lalu ketika ditanya mengapa Ketum PPPM dan saya selaku orang yang dimandatkan memang tidak pernah membicarakan ini di internal PWPM, karena kami ingin menguji sebesar apa rasa memilikinya. Anggap saja postingan itu adalah kebakaran. Kami ingin melihat kepekaan, intuisi, empati, rasa memilikinya, pedulinya, dan keterpanggilannya untuk bereaksi dan beraksi ketika melihat rumahnya kebakaran. Bukan menunggu hujan turun. Saya yakin bahwa jika ada kebakaran suatu kantor, bahkan cleaning service pun akan berusaha memadamkannya, sederhana ya logikanya. Kalau hal yang sederhana saja tidak bisa ditangkap, bagaimana mau jadi pemimpin umat,” tegasnya.

Di samping itu, FM paham bahwa Ketum PWPM, Afandi Kamarudin (AK) juga salah satu unsur pimpinan di salah satu Partai Politik (Parpol) yang kebetulan mengusung Paslon Iraw. Tentu ini akan menjadi dilema, AK serba salah dibuatnya, apalagi sekaligus menjadi konflik internal di tubuh PWPM itu sendiri. Tapi tidak lantas boleh membuatnya lupa kalau masalahnya di PWPM beliau adalah Ketum, sementara di Parpol bukan. Bukan juga berarti tidak bisa membedakan antara menempatkan diri dengan menyesuaikan diri. Guru itu hanya boleh menempatkan diri jika masuk jam sekolah, tapi harus menyesuaikan diri jika sudah di luar jam sekolah. Dalam arti bicara soal ini, lepas dulu seragam keparpolan masing-masing, tanggalkan dulu kepentingan politik masing-masing supaya adil.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed