oleh

Pemuda di Alam Demokrasi

Oleh: Kahhil
(PA GMNI Bulungan)

“SAAT ilmu bertambah, kualitas hidup seharusnya bertambah. Ilmu akan membawa transformasi kepada masing-masing individu.”

Keberagaman di dalam struktur Masyarakat modern tidak bisa disangkal adanya, juga demikian masyarakat di Kaltara (Kalimantan Utara). Namun sangat disayangkan bila di setiap menjelang Pilkada isu SARA; “akronim dari Suku, Ras, Agama dan Antar golongan”, menjadi sangat populer. Dan seringkali digaungkan oleh sejumlah oknum yang tidak bertanggung jawab, yang berkepentingan untuk mendulang integritas salah satu paslon. Sebagai pemuda penerus Bangsa, prihal isu SARA harus segera disudahi, karena tidak mencerminkan masyarakat yang berkemajuan di tengah zaman yang bergerak.

“Udah gak jaman keles!!”. Saat Jepang sudah memulai Revolusi industri 5.0 yang pertama kali diperkenalkan pada Juni 2017, dan pada 21 Januari 2019 Shinzo Abe (Perdana Menteri Jepang) memperkenalkan road-map yang terkesan lebih humanis dengan istilah super-smart society atau society 5.0. Dan saat Negara Asia Tenggara; Vietnam dapat keluar dari zona Pandemi berkat disiplin ketat protokol kesehatannya. Agak menggelitik bila kita selalu mengulangi arah yang sama; hanya muter-muter pada isu SARA saat pilkada ini hanya akan menambah kesemerawutan. Padahal sudah jelas akibatnya bila kita sudah belajar dari waktu lampau. Dan bila saat ini isu SARA menyerang masyarakat menjelang pilkada, itu sudah jelas berpotensi kuat menutupi isu-isu krusial seperti krisis ekonomi dampak dari lesunya daya beli saat pandemi, kesejahteraan Petani sebagai menyangga pangan dimasa pendemi, kesejahteraan nelayan, isu sarana pendidikan di pedesaan; keberlangsungan belajar-mengajar di masa pandemi, isu kesehatan di masa pandemi, dan isu lapangan pekerjaan sebagai kelangsungan hidup masyarakat Kaltara di tengah pandemi, dan lain-lain. Yang saya kira semua terkena dampaknya, tanpa terkecuali.

Kita seharusnya segera insyaf atas perilaku yang tidak produktif di masa krisis ini. Saat Negara sedang digoyang wabah pandemi, kita sebagai pemuda seharusnya hadir berinisitif dengan menyatukan visi-misi perubahan agar keadaan tidak berjalan di tempat, dan agar tidak terlindas oleh derasnya arus zaman. “Maka hanya ada dua pilihan; Diam terlindas, atau Bangkit melawan.”

Pancasila sebagai falsafah hidup ataupun Ideologi Bangsa Indonesia, seharusnya kita telaah kembali secara utuh; dan menjadikannya sebagai realitas dalam perilaku berbangsa. Bagi saya Pancasila sudah menjadi jawaban saat kita diterpa isu SARA. Namun bila kita masih meragukan Pancasila sebagai jawaban atas keberlangsungan hidup berbangsa di negara ini? Perlu dipertanyakan status kebangsaan dan kenegaraan anda?

“Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami, tradisi-tradisi kami sendiri, dan aku menemukan lima butir mutiara yang indah.” Soekarno.

Pancasila sebagai nafas persatuan maupun gerak perubahan, tidak boleh tergantikan oleh kekuatan apapun, oleh karena di setiap silanya mencerminkan semangat kebudayaan gotong-royong. Seperti halnya; Sila pertama, “Ketuhanan Yang Masa Esa”, sebagai prinsip KeTuhanan yang menjadi realitas bahwa masing-masing orang Indonesia hendaknya Ber Tuhan, Tuhannya sendiri. Masing-masing orang Indonesia dapat leluasa menyembah Tuhannya, tanpa egoism-Agama merupakan pengejawantahan sederhana adanya toleransi satu sama lain, dan tidak menyerang ataupun mengucilkan pihak manapun.

Sementara Sila kedua “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, Kemanusiaan yang dilandasi oleh gotong-royong ialah kemanusiaan yang berkepribadian, berkeadaban; sebagai perilaku sederhana sebuah pergaulan hidup yang tidak saling menindas. PriKemanusiaan yang menjadi kunci mengalirnya arus persatuan yang akan menyelamatkan kita bersama di masa yang kelam, “Rakyat bantu Rakyat,” merupakan contoh sederhana dari sifat gotong-royong, yang secara sederhana pula mencerminkan makna Persatuan di dalam sila ketiga.

Sebagai pemuda bangsa dan pemikul Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat) sewajarnya kita introspeksi diri. Dalam kondisi sekarang ini, di masa pandemi tidak bisa kita membiarkan masyarakat bercerai-berai oleh karena ulah oknum yang berkepentingan menggerus persatuan. Yang terpenting kita harus bersatu terlebih dahulu, bermusyawarah sabagai wujud komitmen berbangsa, dan bahu-membahu menuju
sosialisme ala Indonesia. Karena di alam demokratis, apapun yang kita susun, harus dibangun dengan komitmen sebagai wujud kepribadian yang berbudaya. Apapun yang mengusik keberagaman yang berada di dalam wadah persatuan harus kita sadarkan. Dan bila ego sektoral merambah ke arah perpecahan dan terjebak pada kepentingan kapital, kita sebagai generasi milenial harus berani meluruskannya, agar tidak bengkok arah kebijakan, karena berjalan sendiri-sendiri tidak akan memperbaiki keadaan. Mari suarakan persatuan, di dalam keberagaman sebagai wujud “Kaltara Rumah kita.” Maju, berubah dan Sejahtera.

“Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat.” (Pidato HUT Proklamasi, 1950 Bung Karno).

Penggalan kata mutiara dari Presiden RI ke 1 di atas sengaja saya sajikan sebagai penutup, agar kita tidak lengah dan jenuh untuk melakukan perubahan ke arah; kehidupan masyarakat Indonesia yang lebih baik.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed