oleh

Menilik Pembangunan Nasional dari Kacamata Generasi Muda

Oleh: M. Rizky Radhyya S.M
(PRESIDEN MAHASISWA UNISMA 2018-2019 & WAKIL KETUA GMNU KALIMANTAN UTARA)

PEMBANGUNAN di masa depan pada sebuah negara bisa dilihat dari kualitas generasi muda mereka. Sebuah negara yang memiliki sumber daya manusia berkualitas maka perkembangan negaranya akan cerah, begitu juga sebaliknya, jika sebuah negara memiliki sumber daya manusia yang tidak berkualitas maka masa depan di negara tersebut akan terancam.

Demi mendukung perkembangannya, negara harus memperhatikan pendidikan dan peraturan-peraturan yang mendukung penuh kemajuan pemudanya. Perkembangan nasional di Indonesia memiliki target melalui Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro yang mana terangkum dalam tujuh Agenda Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024 yang mana fokus ke dalam hal ketahanan ekonomi, pengurangan kesenjangan antar wilayah, peningkatan kualitas SDM, revolusi mental, penguatan infrastruktur, lingkungan hidup dan penguatan stabilisasi politik, pertahanan, hukum, dan keamanan.

Rencana pemerintah melalui RPJMN tentu mempengaruhi ketertarikan para pemuda agar bisa terlibat dalam pembangunan nasional. Kualitas pendidikan dan pelatihan yang berhubungan dengan industri 4.0. yang mana industri tersebut ingin membangun Indonesia di kancah teknologi masa kini. Selain industri 4.0 pembangunan yang lainnya juga cukup menarik bagi para pemuda. Rencana pembangunan memiliki keterikatan antara satu sama lainnya. Seperti halnya tentang ketahanan ekonomi yang mana pertumbuhan yang berkualitas dititikberatkan pada daya dukung dan kualitas sumber daya ekonomi negara tersebut.

Demi bisa menambahkan kuantitas dari daya saing, ekspor dan juga lapangan kerja, kesenjangan antara sama lain juga harus ditekan agar bisa melakukan pelayanan dasar di daerah. Pendidikan dan pelatihan merupakan jalan untuk meningkatkan kualitas SDM terutama para pemudanya. Pendidikan yang berkualitas dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi memiliki kunci penting dalam kualitas SDM di masa depan. Selain pendidikan pemenuhan pelayanan kesehatan dan perlindungan sosial juga diperlukan demi menjaga kualitas dari SDM itu sendiri.

Saat ini banyak yang berpandangan bahwa suatu negara memiliki pembangunan yang bagus hanya diukur dari keberhasilan mengelola ekonomi saja, padahal banyak faktor lain yang perlu dipertimbangkan. Dari sudut pandang pembangunan yang mengelola SDM, sarana dan prasaran yang didapatkan tidak merata di setiap wilayah. Sehingga pendidikan dan pengetahuan masyarakat di Indonesia memiliki perbedaan antara satu dengan yang lain. Indeks pembangunan yang ingin meningkatkan kualitas manusia di Indonesia memang mengalami peningkatan setiap tahunnya tapi belum bisa memenuhi setiap element masyarakat terutama di daerah-daerah pinggiran.

Dalam meningkatkan kualitas pendidikan demi pembangunan, pemerintah melakukan beberapa strategi seperti subsidi silang. Teknis subsidi silang di sini adalah orang-orang yang memiliki pendapatan yang lebih tinggi dan memiliki aset dikenakan pajak yang lebih tinggi demi bisa menunjang masyarakat yang hanya mendapatkan pendapatan rendah. Dengan begitu diharapkan kesenjangan sosial antara satu dengan yang lainnya akan berkurang dan setiap masyarakat dapat merasakan manfaatnya.

Optimisme juga diperlukan dalam merancang dan melakukan pembangunan nasional, karena jika masyarakat apatis dengan tindakan yang dilbakukan oleh pemerintah terutama dalam hal pembangunan. Saat ini penyebaran informasi seakan-akan tidak bisa dibendung lagi, informasi yang benar dan hoax kadang kala membuat orang-orang bingung dan malahan ada kasus yang membuat masyarakat bingung dan melakukan tindakan yang salah karena termakan isu hoax. Dalam kepribadian seseorang jika yang diurus oleh orang tersebut hanyalah mengurusi berita-berita hoax maka yang dia lakukan selama ini hanyalah kesia-siaan. Masyarakat harus bisa memanfaatkan teknologi informasi yang bisa dia akses demi membantu pembangunan nasional bukan malah menyebarkan berita yang justru merugikan.

Pemerintah memang sudah menetapkan peraturan yang menyebarkan isu tidak benar bisa dikenakan pidana, akan tetapi pegawasan lebih lanjut agar masyarakat tidak melakukan tindakan tersebut perlu digiatkan dengan cara memfilter terlebih dahulu postingan masyarakat sebelum dipublikasikan walau hal tersebut tentu akan membuat pro kontra dalam penerapannya. Generasi muda saat ini banyak yang terpengaruh akan hal hoax dan itu harus diberi arahan yang benar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed