TARAKAN – Walikota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes meresmikan Rumah Batik Disabilitas dan Lomba Karya Desain Motif Batik se-Kalimantan Utara di Jalan Pulau Nias, Nomor 5, RT. 3, Kelurahan Kampung Satu/Skip, Tarakan, Jumat (14/8/2020).
Kegiatan ini merupakan Program Pengembangan Masyarakat (PPM) mitra binaan PT. Pertamina EP Asset 5 Tarakan Field yang bekerjasama dengan Komunitas Difabel Tarakan Kelompok Usaha Bersama Disabilitas Batik (KUBEDISTIK) Kerajinan Batik Ramah Lingkungan.

Dalam sambutannya, dr. Khairul mengungkapkan, kedepannya Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan akan menyeragamkan penggunaan seragam batik dengan motif khas Tarakan terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Kota Tarakan. Hal ini merupakan upaya Pemkot untuk bisa meningkatkan perekonomian masyarakat terutama para pelaku usaha UMKM di tengah pandemi Covid-19.
“Jadi tahap pertama ini untuk ASN dulu dan kita sudah pesan mulai diskusi tahun lalu dengan pebatik kita, karena ada Covid-19 agak terlambat. Tapi kita tetap berkomitmen untuk menggunakan batik lokal Tarakan ini dipakai hari Kamis seluruh ASN,”ujar dr. H. Khairul, M.Kes kepada benuanta.co.id, Jumat (14/8/2020) tadi pagi.
Kedepanya, orang nomor satu di Tarakan ini juga akan meminta kepada tenaga kontrak di lingkup Pemkot, BUMD, dan instansi vertikal untuk menggunakan batik dari Tarakan.
“Nanti apakah instansi vertikal ini mau sama motifnya dengan Pemkot atau berbeda, karena BUMN atau instansi vertikal sudah ada batik seragam. Tetapi, katakanlah nanti batik Tarakan dipakai misalnya hari Jumat, yang hari Kamis pakai batik seragam mereka. Supaya pemasaran batik kita ini bisa bergerak (perekonomian),” terangnya.

Sama halnya dengan di lingkup pendidikan, dr. Khairul juga berharap seluruh sekolah baik negeri atau swasta juga bisa menggunakan batik khas Bumi Paguntaka ini. “Kita berharap seluruh lah (swasta dan negeri) karena anak sekolah ini sama-sama juga anak Tarakan toh,” harapnya.
Mengenai harga batik Tarakan yang saat ini dianggap harganya belum kompetitif dengan batik lainnya, pria berusia 56 tahun ini menyebut, jika produksinya semakin bagus, praktis persoalan harga juga akan semakin murah.
“Memang, tetapi kalau tidak begitu kapan mereka bisa. Lama-lama kalau produksi semakin besar, tentu akan lebih murah mungkin karena tidak ada biaya pengiriman dan sebagainya. Kalau kita tidak dorong, ini (batik Tarakan) akan menjadi timbul tenggelam saja. Kita berharapnya menggunakan batik Tarakan, dikerjakan oleh pengrajin Tarakan. Jangan sampai motifnya Tarakan, nyetaknya di Jawa, ‘kan jadi tidak menumbuhkan UMKM kita,” imbuhnya.
Dengan adanya program ini diharapkan tak menjadi tembok penghalang bagi disabilitas untuk bisa produktif, melalui kegiatan yang positif ini sekaligus menumbuhkan nilai ekonomis UMKM di Tarakan.
“Mereka punya harapan bahwa walaupun secara fisik ada keterbatasan, dia tidak menjadi beban di rumah tangga, tidak menjadi beban di masyarkat. Dengan begitu, mereka bisa dapat penghasilan secara terus menerus dengan keterampilan seperti ini. Tentu kita semua punya kewajiban supaya produksi ini tidak mandek begitu. Initinya mereka produksi dan pemasaran,” tukasnya.(*)
Reporter : Yogi Wibawa
Editor: M. Yanudin








Amat mendukung apalagi sumber dananya dari APBD Kota Tarakan tidak dibebankan ke dana pribadi ASN 👍👍👍dan harga batiknya murah 🥰🥰🥰