PERNAH MENJADI KONJERAT RI-1 SEJAK ERA SOEHARTO HINGGA SBY
TARAKAN – Hampir sebulan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan Lanud Anang Busra Tarakan, yang sebelumnya dikomandoi Kolonel PNB H.K.d. Handaka, S,Sos, M.M melalui serah terima jabatan pada 6 Juli 2020 lalu, Kolonel PNB Somad, S.I.P, memperkuat silahturahmi bersama insan pers di Kota Tarakan yang diwujudkan melalui kegiatan diskusi, sekaligus menggelar mancing ikan di kolam Mako Lanud Anang Busra, dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19.
Menjalin silahturahmi yang baik dinilai penting oleh pria berusia 48 tahun yang memiliki pengalaman terbang hampir 4.000 jam selama berkarier ini. Sebab, peran jurnalis yang sangat strategis dalam menyampaikan informasi secara faktual. Serta membangun opini positif menjadi kunci sinergisitas yang baik untuk membangun kerja sama terkait pemberitaan Lanud di era kerterbukaan insan pers yang tak bisa ditawar lagi.
“Masa pandemi ini cukup dramatis buat kami sekeluarga. Saya dapat Skep pindah ke Tarakan, Kaltara, sebelumnya saya di Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan dan Latihan Angkatan Udara di Halim. Setelah serah terima jabatan di Koopsau II (Komando Operasi AU II) di Makassar tanggal 6 Juli. Jadi komunikasi dan koordinasi termasuk kepada rekan-rekan Pers di Tarakan sangat penting bagi kami untuk saling terbuka, transparan, menghargai dan saling membutuhkan untuk membentuk persepsi yang sama, khususnya dalam mempublikasikan berita khususnya Lanud Anang Busra,” ujar ujar Kolonel PNB Somad, S.I.P kepada benuanta.co.id.

“Karena anda-anda (Insan Pers) semua ini merupakan mitra kami. Jadi komunikasi dan koordinasi yang baik dari kami yang sebelumnya juga dijalin mungkin oleh Kolonel PNB Handaka yang saya gantikan dan saya teruskan, InsyaAllah kedepan bisa lebih baik lagi, bisa meningkat lagi dari segala aspek bidang kegiatan yang dilaksanakan Lanud Anang Busra,” tambahnya.
Di sisi lain, Kota Tarakan yang cukup mempunyai kandungan mineral Sumber Daya Alam (SDM) yang besar dan heterogennya Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkontribusi sangat bagus, baik dari masyarakat pribumi maupun pendatang. Somad mengakui, juga perlu kewaspadaan cukup tinggi mengingat letak geografis Bumi Panguntaka juga berada di wilayah perbatasan yang cukup dekat negara tentangga.
“Bukan rawan, namun perlu kewaspadaan yang tinggi. Karena mungkin illegal logging, illegal fishing, illegal mining bisa saja terjadi di sini. Tapi selama saya satu bulan Alhamdulillah belum menerima atau menemukan data tersebut, jadi cukup kondusif,” terangnya.
Seraya menyampaikan kesan pertamanya ketika ditugaskan menjadi Komandan Lanud di Tarakan terhadap wartawan, Perwira menengah TNI-AU ini juga memberikan wejangan berupa kisah dan pengalaman hidupnya yang sedari kecil memang ingin mengabdi kepada NKRI dengan menjadi tentara. Hanya saja, bayangannya waktu itu profesi Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) tahun 1992 hanya ada menjadi TNI AD dan Polisi.
Maklum, tanah kelahirannya di Kecamatan Karang Amper, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat ini hanya ada Koramil yang berisikan prajurit bersenjata dengan seragam loreng khas TNI-AD. Namun, tekad anak ke lima dari 10 bersaudara ini sudah menggebu. Tanpa pikir panjang, bersama 5 rekanya dari kampung, Somad langsung berangkat ke Kodam III Siliwangi untuk mendaftar menjadi tentara







