oleh

Pengaruh Angkutan Udara, Tarakan Mengalami Inflasi Sebesar 0,24 persen

TARAKAN – Dari 90 kota pantauan IHK nasional, Bulan Juli 2020 yaitu sebanyak 29 kota mengalami inflasi dan 61 kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terdapat pada kota Timika sebesar 1,45 persen dan inflasi terendah terdapat pada kota Banyuwangi sebesar 0,01 persen.

Sedangkan deflasi tertinggi terdapat pada kota Manokwari sebesar -1,09 persen dan deflasi terendah terdapat pada kota Gunungsitoli sebesar -0,01 persen.

Ketua Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan, Imam Subarmaji menyatakan pada bulan Juli 2020 kota Tarakan terjadi inflasi sebesar 0,24 persen, inflasi tahun kalender sebesar 0,37 persen dan inflasi tahun ke tahun sebesar 0,20 persen.

Inflasi di Kota Tarakan dipengaruhi oleh kenaikan indeks pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 2,46 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,76 persen, kelompok pendidikan sebesar 0,41 persen, kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,30 persen.

Selain itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,25 persen, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin sebesar 0,12 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,06 persen, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,05 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,04 persen, dan kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,00 persen.

“Sedangkan deflasi di Kota Tarakan dipengaruhi oleh penurunan indeks pada kelompok transportasi sebesar -1,46 persen,” jelas Imam.

Imam menambahkan, sepanjang tahun 2020 perubahan harga konsumen (inflasi) sangat dipengaruhi oleh dua komoditas yaitu angkutan udara dan daging ayam.

“Karena menurut pantauan bobot komoditas yang tinggi ditemukan pada 2 komoditas tersebut. Di awal tahun 2020, angkutan udara mempengaruhi hingga kota tarakan mengalami deflasi di awal tahun seiring penurunan tarif angkutan udara,” terangnya.

Selain itu, daging ayam turut mempengaruhi hingga deflasi ketika ada pandemi Covid-19, ketika tarakan memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama april dan Mei 2020.

“Sehingga daging ayam jadi upper suply atau daging ayam rendah sekali harganya. Namun ketika PSBB di buka kembali terjadi kelangkaan daging ayam karena warung-warung, hotel, dan bandara sudah buka kembali sehingga menyebabkan inflasi di bulan Juni dan Juli 2020,” tutupnya.(*)

Reporter : Matthew Gregori Nusa
Editor : Ramli

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed