oleh

Politik Media dan Alasan Kita Membenci

Oleh : Jefhorison
(Mahasiswa Kampus UKDW Yogyakarta)

BELAKANGAN ini kita diharu-biru dengan makin menajamnya perbedaan-perbedaan di dalam masyarakat. Kemudian yang menjadi terdakwa yang sering dituduh oleh masyarakat adalah media. Setelah reformasi kita baru memperoleh kebebesan mendirikan media, menjadikan banyaknya media-media yang bermunculan di Indonesia.

Setidaknya kita punya 2000 radio, 50 media online teratas, 800 media cetak, dan 14 stasiun televisi swasta dan 1 stasiun televisi nasional.

Gejala muncul banyaknya media di Indonesia ini menjadi sangat penting dalam perkembangan politik Indonesia. Seperti dalam dinamika pilpres tahun 2009. Di mana tolak ukur popularitas seseorang diukur dengan seringnya muncul di media-media.

Saat pilpres Tahun 2014, kegaduhan itu semakin parah. Di mana hanya persolan beda pilihan calon presiden, hubungan-hubungan baik bisa rusak, yang kemudian memunculkan kebencian bahkan perpecahan dalam keluarga.

Kini menjelang Pilkada 2020, ujaran kebencian mulai dibangkitkan kembali, menggulirkan wacana yang provokatif dan sangat kontraproduktif dengan memanfaatkan kondisi bangsa yang sedang rentan untuk meraih kekuasaan, seharusnya keselamatan bangsa berdiri di atas kepentingan golongan.

Perbedaan-perbedaan yang terjadi di antara kelompok-kelompok politik saat ini yang kemudian muncul di media adalah adanya suatu obsesi. Yaitu obsesi tentang kemurnian, tentang yang otentik, menjadi yang paling asali, sampai dengan adanya pembedaan pribumi dan non-pribumi.

Ada beberapa hal yang kemudian menjadi pertimbangan, yaitu: ujaran kebencian adalah bukan barang baru di Indonesia. Ujaran semacam ini sudah terjadi sejak sejarah umat manusia, selama ada ketimpangan sosial, selama ada ketimpangan ekonomi, maka akan rasa tidak suka, dan selalu ada kebencian.

Sejarah manusia adalah sejarah ketimpangan atau sejarah ketidakadilan. Ruang publik kita sekarang dipenuhi dengan banyaknya ujaran kebencian dan terjadi begitu hebatnya.

Sejak pertama Indonesia mulai merdeka, bangsa ini sudah belajar membenci, yaitu semua yang asing-asing kita benci seperti Belanda yang menjajah Indonesia. Setelah merdeka, bangsa ini kemudian oleh Soekarno mulai membawa rakyat Indonesia untuk membenci neokolim. Semua ini terjadi karena adanya ketimpangan.

Lalu apa hubungannya dengan media? Kalau dulu sebelum era digital proses ugkapan kebencian itu tidak dapat disampaikan secara merata, hanya mereka yang memiliki alat atau medialah mempunyai kemampuan untuk menyebarkan ujaran kebencian yang luar biasa. Soekarno merupakan salah satunya yang mampu memanfaatkan media dengan sangat luar biasa.

Namun sekarang, teknologi hanya untuk memperjelas atau memperpanjang panca indera yang kita miliki. Misalnya mobil menambah panjang kaki, kaca mata memperpanjang pengelihatan kita, sementara media memperpanjang kemampuan orang untuk mendengar dan bersuara kita, tetapi tidak pernah memperbesar emosi dan nalar kita. Sehingga kita mendengar dan bersuara dengan sangat terbatas.

Ada satu penyakit yang membuat kita membenci, yaitu sebuah angan-angan yang suci, yang asali atau yang murni.
Misalnya keinginan atau cita-cita menjadi Indonesia yang asali, pemimpin Indonesia adalah orang asli Indonesia.

Sehingga naluri kita ingin memerangi yang tidak asli atau yang tidak murni. Misalnya kebencian kita (Indonesia) pada orang Belanda atau kulit putih. Atau peristiwa yang baru saja terjadi berlalu beberapa waktu lalu yaitu Pilgub DKI, adanya pertarungan antara yang asli pribumi dan non-pribumi.

Padahal kita semua mengetahui bahwa keasalian, kemurnian, atau sesuatu yang suci tidaklah nyata alias fiktif. Hari ini, yang dikatakan sebagai menjelang Pilkada, kebencian itu diciptakan (disengaja) karena kebencian diharapkan mampu memberikan keuntungan bagi pihak tertentu.

Lalu apa yang menyebabkan kita memiliki pemikiran yang menginginkan yang asali itu, semua itu berawal dari moderenitas, yaitu sains dan teknologi, karena teknologi dan sains memungkinankan orang bermimpi tentang yang asali itu.

Kemudian akibat moderenitas itu pula terjadi paradoks dalam moderenitas itu sendiri. Di satu sisi moderenitas menghasilkan teknologi dan sains yang memberikan kita semua kesempatan, pengetahuan dan kesejahteraan.

Sementara pada sisi lain moderenitas menghasilkan peperangan yang luar biasa, yaitu perang dunia. Di mana adanya pertarungan sains teknologi, pertarungan antara mereka yang mampu menghasilkan teknologi yang paling bagus.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed