oleh

Ingkong Ala Terkejut Effendhi Djuprianto Loncat ke Golkar, Tahunya dari Media

EFFENDHI DJUPRIANTO HARUS DIKEMBALIKAN FASILITAS PARTAI

TANJUNG SELOR – Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Kalimantan Utara (Kaltara), Ingkong Ala mengaku terkejut mengetahui kader partainya, Effendhi Djuprianto maju pemilihan DPD Golkar Kaltara. Ingkong Ala mengaku sampai saat ini belum menerima surat pernyataan Wakil Walikota Tarakan itu untuk pengunduran diri dari Kader Partai Hanura

“Sudah kami cek di sekretariat, surat pengunduran diri Effendhi Djuprianto dari partai Hanura belum kami terima. Informasi ini awalnya baru kami ketahui dari beberapa pemberitaan di media massa pada 21 Juli lalu. Intinya, dia secara resmi belum pernah menyatakan keinginannya itu baik lisan maupun tertulis,” ungkapnya, Rabu (23/7/2020).

Dijelaskannya, keinginan Wawali Kota Tarakan itu kembali menjadi kader Partai Golkar dan mendaftar sebagai calon ketua DPD tidak menjadi persoalan. Untuk itu ia berharap surat pengunduran diri segera disampaikan ke Partai Hanura untuk ditindaklanjuti. Salah satu syarat pengunduran diri yang harus dipatuhi adalah bersedia meninggalkan semua fasilitas yang diperoleh dari Partai Hanura.

“Bagi kami (Hanura) tidak keberatan, karena itu adalah hak pilihan beliau, apalagi perjalanan politik beliau selama 32 tahun telah ia uraikan di media. Bahwa sebelum Ia pindah ke Hanura adalah kader Golkar. Karena kekecewaanya dengan keputusan DPP Golkar yang tidak merestui beliau mencalonkan diri di DPRD Provinsi pada pileg 2014-2019, maka ia pindah ke Hanura sebagai caleg provinsi,” jelasnya.

Wakil Bupati Bulungan ini pun membantah pernyataan Effendhi Djuprianto di media massa yang menyebut nasib Partai Hanura jelang Pemilu pada 2024 belum jelas, padahal Hanura diyakini akan kembali lolos verifikasi faktual dan menjadi salah satu Parpol peserta pemilu 2024 mendatang. Sebab, semua partai baik besar maupun partai baru wajib diverifikasi faktual administrasi secara nasional mulai pusat (DPP), DPD, DPC dan PAC hingga memenuhi sarat sesuai aturan yang ditetapkan KPU.

“Karir politik Effendhi Djuprianto di Partai Hanura cukup baik, meski perolehan suaranya pada pileg 2014 lalu hanya memperoleh 800 suara, namun ia bisa duduk sebagai anggota DPRD Kaltara melalui pergantian antar waktu (PAW) menggantikan Laura Hafid yang saat itu maju sebagai calon bupati Nunukan. Kemudian pada Pemilihan Walikota Tarakan 2018 lalu, Hanura berhasil memenangkan Effendhi Djuprianto sebagai wawali mendampingi Dr Khairul sebagai Walikota Tarakan,” tegasnya.

Ia menambahkan, perolehan 4 kursi di DPRD Kaltara hasil pileg 2014 lalu di daerah pemilihan (Dapil) enam Kaltim, Hanura berhasil mendapat jatah pimpinan dewan dan mengantarkan satu kursi di DPRD Kaltim sebelum DPRD Kaltara didefinitifkan.

“Pada Juli 2015 dua kader Hanura yang memperoleh suara terbesar yakni Ingkong Ala (14.550 suara) maju pada pilkada Bulungan dan Asmin laura Hafid (9.700) mengundurkan diri karena ikut calon kepala daerah di Nunukan, maka terjadilah PAW 2 orang Fraksi Hanura pada tahun 2015, yaitu saudara Effendhi Djuprianto dan saudara Machlon Elkano (Alm). Semua Caleg Hanura dari Dapil VI Kaltara semuanya duduk sebagai anggota DPRD melalui proses PAW. Tiga kader Hanura termasuk Effendhi Djuprianto juga berhasil memenangkan pertarungan Pilkada,” pungkasnya.(*)

 

Reporter: Victor Ratu

Editor: M. Yanudin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed