oleh

Pendidikan Zaman Now

Kemudian, di level mana rata-rata Indonesia berada? Ada sebuah joke yang berkembang mengatakan Indonesia berada pada level yang lebih rendah lagi, yakni mencontek. Di mana nilai pada kertas lebih berharga dari pada nilai dalam diri. Ironis memang, namun begitulah realita yang banyak terjadi dan kita temukan.

Zaman Revolusi Industri 4.0 ini adalah zaman yang perkembangan segala sesuatu begitu cepat, dengan gangguan yang lebih sering terjadi dan sama sekali baru. Ada perusahan ojek yang begitu besar namun tidak punya motor dan mobil, ada perusahaan hotel besar namun tidak punya hotel apalagi pelayan, ada perusahaan media yang amat besar Facebook, Youtube, Twitter, dan seterusnya, namun tidak punya berita dan konten. Ada perusahaan jual beli namun tidak punya produk dan toko.

Apakah 10 tahun lalu ojek online telah ada, youtuber, gammers dan banyak model pekerjaan yang 10 tahun lalu belum ada, sekarang ada? Menurut penelitian 65% anak-anak kita yang duduk di bangku sekolah hari ini pun di masa depan bekerja pada pekerjaan yang belum ada pada hari ini.

Lantas bagaimana cara kita mempersiapkan anak-anak kita sementara pekerjaannya saja belum ada, kemampuan apa yang harus kita berikan?

Petama, kita harus memastikan bahwa sistem pendidikan kita telah mengarah kepada HOTS. Sebab di masa depan kita butuh anak-anak kita mampu menciptakan hal-hal baru untuk menjawab tantangan zaman.

Kedua, anak-anak kita harus memiliki kecakapan abad 21, mulai dari berfikir kristis. Kemampuan berfikir kritis tidak bisa lahir dari sistem pendidikan yang feodal yang hanya manut-manut atau menurut. Siswa harus dirangsang dengan pertanyaan dan membuat bantahan dalam suatu materi pembelajaran yang disajikan.

Kolaborasi, pendidikan kita tidak mengarah kepada manusia yang harus serba bisa seperti sekarang ini, harus mahir di semua mata pelajaran, akan tetapi kemampuan mereka untuk berkerjasama, belajar menerima perbedaan dan mengakui bahwa manusia diciptakan dengan kemampuan yang berbeda komunikasi. Untuk menunjang semua itu, mereka harus memiliki kemampuan komunikasi andal. Yang terakhir adalah kreatifitas, kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru itu sendiri.

Ketiga dan semua itu harus kita mulai dengan mengubah maindset kita, cara pandang kita terhadap pendidikan. Dari pendidikan sebagai kebutuhan industri menjadi pendidikan yang lebih terbuka, demokratis, berorientasi pada memanusiakan manusia dan lingkungan hidup.

Kalau kita tidak berani mengubah sudut pandang sistem pendidikan kita hari ini secara radikal, maka bisa saja 10 tahun lagi sekolah-sekolah kita, universitas kita akan sepi peminat, karena dirasa sudah tidak mampu menjawab tantangan zaman yang sama sekali baru ini.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed